Jakarta – Pasar adalah suara paling jujur. Tak seorang pun bisa memanipulasi atau merekayasa pasar. Ketika investor berbondong-bondong melarikan modalnya ke luar negeri atau terjadi capital outflow, artinya pasar Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
“Ini harus menjadi koreksi dan introspeksi bagi pemerintah. Jangan-jangan Kabinet 100 Menteri yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto sudah tidak diterima pasar,” kata analis politik Konsultan dan Survei Indonesia (KSI) Karyudi Sutajah Putra (KSP) di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Sesungguhnya nama kabinet Prabowo adalah Kabinet Merah Putih. Akan tetapi karena jumlah menteri dan wakil menterinya lebih dari 100 orang, yakni 49 menteri dan 55 wakil menteri maka sering dipelesetkan menjadi Kabinet 100 Menteri seperti yang pernah ada di era Orde Lama.
Menurut KSP, melemahnya kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini terus terjadi salah satu faktor pemicunya adalah “capital outflow”.
“Mengapa terjadi capital outflow? Karena investor sudah tidak percaya lagi dengan kebijakan-kebijakan Kabinet 100 Menteri,” jelasnya.
Selasa (18/5/2026) kemarin rupiah kembali melemah hingga 17.680 per dolar AS. Presiden Prabowo Subianto pun langsung mengumpulkan jajaran menteri ekonomi di Istana Negara, Jakarta, seperti Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Padahal sebelumnya, baik Prabowo maupun Purbaya terkesan jemawa. Saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (15/5/2026), Prabowo masih mencoba menghibur rakyat dengan mengatakan tak perlu khawatir dengan pelemahan rupiah karena orang desa tidak menggunakan dolar.
Pernyataan Prabowo ini pun blunder, sehingga para menteri perlu memberikan penjelasan tambahan supaya tidak disalahtafsirkan. Termasuk Purbaya dan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurrahman.
Adapun Purbaya sendiri tetap optimistis pelemahan rupiah hanya sesaat saja, tidak seperti saat krisis ekonomi 1997-1998, karena fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat.
Purbaya makin yakin karena pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun ini mencapai 5,61 persen. “Padahal, pertumbuhan itu semu karena ditopang masifnya belanja masyarakat pada momen Ramadan dan Idul Fitri 1447 H. Kuartal depan pertumbuhan ekonomi akan menurun karena tak ada belanja masyarakat yang masif,” tukas KSP.
Pasar pun, lanjut KSP, tak mau tahu. Para investor tetap akan melarikan modalnya dari Indonesia. “Mereka tidak percaya lagi dengan Kabinet 100 Menteri yang tidak efisien dan kebijakan-kebijakannya meragukan, terutama dalam penegakan hukum,” papar KSP yang juga Tenaga Ahli DPR RI 2004-2009 dan 2009-2014.
Adapun kebijakan-kebijakan pemerintahan Prabowo yang tidak efisien itu, menurut KSP, antara lain program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) yang terkesan membuang-buang anggaran negara saja untuk bancakan elite politik.
Plus, kata KSP, situasi geopolitik yang kian tak menentu akibat konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di satu pihak dengan Iran di pihak lain, serta respons Indonesia yang tidak meyakinkan, maka makin sempurnalah ketidakpercayaan investor terhadap pasar Indonesia.
Lantas, apa solusinya untuk mengembalikan kepercayaan investor asing sehingga akan mampu mengerem laju pelemahan rupiah, apakah Prabowo perlu kembali melakukan reshuffle kabinet?
KSP berpendapat, 100 kali reshuffle pun kalau kebijakan-kebijakan pemerintahan Prabowo tidak berubah, termasuk dalam penegakan hukum, investor tetap akan tidak percaya. “Apalagi kalau MBG dan KMP tetap dipertahankan,” cetusnya.
Sebab itu, KSP menyarankan agar Prabowo segera menghentikan program MBG yang dalam sehari saja menghabiskan anggaran Rp1,2 triliun. “Hentikan pula program KMP. Kabinet juga terlalu gemuk, tidak efisien. Harus dipangkas,” pintanya.
Jika tidak ada tindakan drastis dari Prabowo, KSP memprediksi rupiah akan terus melemah bahkan bisa mencapai 25.000 per dolar. “Dan biasanya, kalau rupiah terus turun, Presiden juga turun,” tandasnya.




















