FusilatNews- Media Internasional menyoroti rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal pemindahan ibu kota baru yang mengatakan bahwa ambisi tersebut berantakan. Ini setidaknya dimuat Bloomberg dan dimuat juga media Singapura, Strait Times.
Dalam tulisan di Bloomberg bertajuk “Ambitious plans to build Indonesia a brand new capital city are falling apart” menggambarkan betapa berantakannya proyek ambisius IKN
Salah satu yang disorot Bloomberg adalah periode Presiden Jokowi yang hanya tinggal 18 bulan saja sementara lebih dari tiga tahun setelah Nusantara pertama kali diumumkan, tidak ada satu pun pihak asing–yang telah menandatangani kontrak yang mengikat untuk mendanai proyek tersebut baik dari negara atau swasta.
” Sejumlah perusahaan dari China, Korea Selatan, Malaysia, dan Uni Emirat Arab baru menandatangani letter of intent memang telah menandatangani letter of intent, tidak ada komitmen tegas untuk pengeluaran yang sebenarnya,” tulis media itu lagi mengutip sumber-sumbernya, dikutip Selasa (6/12/2022).
Sempat dikabarkan minat investasi mengalami kelebihan permintaan 25 kali. Namun tidak ada penjelasan apakah kontrak mengikat telah ditandatangani.
Beberapa pengamat lokal juga memberi tanggapan dalam artikel itu. Investor asing, menurut salah satu analis yang diwawancarai, sangat berhati-hati.
“Karena proyek ini masih dalam tahap awal,” ujar seseorang dari firma penasehat bisnis strategis Global Counsel, Dedi Dinarto.
Penundaan proyek bertahun-tahun karena pandemi COVID-19 telah membuat calon pendukung ragu-ragu untuk berkomitmen pada proyek ambisius seorang presiden yang akan berhenti dari jabatannya jauh sebelum kota baru dapat diselesaikan.
“Investor mungkin masih ragu tentang bagaimana mereka dapat memperoleh keuntungan dari berinvestasi pada infrastruktur dasar semacam itu,” muat media itu lagi mengutip Dinarto.
Pengamat lain juga menyoroti bagaimana resesi menjadi isu penting. Ini membuat negara-negara “pemilik duit” lebih memprioritaskan agenda lokal masing-masing.
“Banyak negara sedang menghadapi resesi atau sudah dalam resesi karena perlambatan ekonomi global,” kepala ekonom PT Bank Central Asia kata David Sumual.
“Negara-negara terkaya pun cenderung memprioritaskan agenda domestik mereka sendiri,” kutipnya lagi.
Bloomberg juga menyorot masalah korupsi, kronisme, dan birokrat yang lambat di Indonesia, serta pertumbuhan ekonomi yang kurang kuat dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam dan Filipina.
“Korupsi, kroniisme, dan birokrasi yang lamban semuanya disalahkan atas kegagalan berulang negara untuk memenuhi targetnya yang tinggi,” tulisnya.
Beberapa kritikus juga disebut khawatir ibu kota baru menghadapi nasib yang sama dengan proyek Mass Rapid Transit (MRT). Proyek itu ditunda hampir 30 tahun karena masalah pembebasan lahan dan kendala pendanaan.
“Deretan masalah serupa berarti proyek pembangkit listrik tenaga air yang besar di hutan Kalimantan, yang diluncurkan delapan tahun lalu, belum melihat satu bendungan pun dibangun,” tambahnya.
Berita Update Lainnya Ikuti Kami Di Google News





















