Oleh Redaksi FusilatNews
Di tahun 2025, industri digital tampaknya makin kehilangan akal sehatnya. Di mana dulu sebuah tim dibentuk untuk mengerjakan proyek bersama, sekarang satu orang dituntut menjalankan enam peran berbeda—dalam satu waktu, dalam satu gaji.
Strategis? Iya. Kreator konten? Harus bisa. Desainer grafis? Wajib. Editor video? Pastinya. Fotografer? Tentu saja. Manajer media sosial? Itu sudah pasti. Semuanya dijadikan satu, dibungkus dengan label “anak muda kreatif serbabisa” dan dibayar semurah mungkin.
Itu bukan kemajuan. Itu eksploitasi yang dikemas dengan kata-kata manis.
Fenomena ini bukan sekadar cerita individu. Ini sudah jadi pola industri. Lowongan kerja di mana-mana menyebutkan keinginan perusahaan atas multi-talenta, fast learner, dan team player. Tapi kenyataannya, yang dicari adalah satu orang yang bisa menggantikan satu tim—dengan gaji seukuran satu orang.
Logika ini kejam. Perusahaan ingin cepat, ingin efisien, dan ingin murah. Tapi yang dikorbankan adalah kualitas kerja, kesehatan mental, dan martabat profesional.
Masalahnya bukan pada kemampuan. Banyak anak muda memang punya bakat ganda. Masalahnya ada pada sistem yang tak menghargai setiap keahlian secara layak. Seorang desainer adalah desainer, bukan editor video. Seorang fotografer bukan berarti bisa jadi copywriter. Setiap bidang punya proses belajar, pengalaman, dan seni tersendiri. Tapi di mata industri, semua itu dianggap bisa digabung begitu saja.
Inilah realitas dunia kerja digital hari ini: penghargaan terhadap profesi makin kabur. Spesialisasi dianggap boros. Kolaborasi dianggap lambat. Maka lahirlah “pasukan satu orang” yang dituntut jadi mesin produksi konten tanpa henti.
Apa akibatnya?
Burnout massal. Kualitas pekerjaan menurun. Talenta muda kehilangan semangat dan identitas profesinya. Inovasi mati sebelum tumbuh, karena semua sibuk mengejar tenggat, bukan menciptakan yang terbaik.
Ironisnya, kita sering dengar jargon industri yang memuja fokus, expertise, dan value creation. Tapi praktiknya? Semua dibebankan pada satu pundak. Tidak ada keadilan kerja di situ, yang ada hanyalah penghematan atas nama efisiensi.
Sudah saatnya industri digital bertobat.
Mulailah dari hal sederhana: hormati setiap profesi. Bedakan antara desainer dan editor. Antara kreator konten dan manajer strategi. Jika perusahaan butuh tim, bentuklah tim. Jangan paksakan satu orang menjadi enam sosok sekaligus.
Satu peran, satu keahlian, satu penghargaan yang layak. Itu bukan tuntutan berlebihan. Itu adalah fondasi keadilan di tempat kerja.
Karena jika industri ini terus memaksa manusia menjadi mesin, jangan heran jika suatu saat kita hanya punya algoritma, tapi kehilangan jiwa.





















