FusilatNews – Pernyataan pejabat pemerintah sering kali terdengar menenangkan. Kalimatnya sederhana, bahkan tampak logis: pasokan pangan aman karena Indonesia tidak mengimpor dari Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang menegaskan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah tidak akan mempengaruhi ketersediaan pangan di Indonesia karena sebagian besar kebutuhan pangan berasal dari produksi dalam negeri. Ia juga menyebut komoditas yang masih diimpor seperti gandum berasal dari Eropa dan Kanada, bukan dari wilayah konflik.
Sekilas, kalimat itu terdengar menenangkan publik. Namun jika dicermati lebih dalam, justru memunculkan pertanyaan baru: apakah benar keamanan pasokan hanya ditentukan oleh asal impor?
Logika yang Terlalu Sederhana
Argumentasi “aman karena tidak impor dari Timur Tengah” sebenarnya menyederhanakan persoalan ekonomi global yang jauh lebih kompleks.
Dalam sistem perdagangan modern, harga komoditas tidak ditentukan hanya oleh sumber negara asal, tetapi oleh mekanisme pasar global. Ketika konflik terjadi di Timur Tengah—kawasan yang menjadi pusat energi dunia—dampaknya merambat ke hampir semua sektor: energi, logistik, hingga harga pangan.
Perang tidak selalu memotong pasokan secara langsung.
Ia bisa bekerja melalui jalur lain:
- kenaikan harga minyak dunia
- biaya transportasi global meningkat
- premi risiko perdagangan melonjak
- nilai tukar berfluktuasi
Ketika itu terjadi, barang yang sama dari negara yang sama pun bisa menjadi lebih mahal.
Dengan kata lain, pasokan mungkin tetap ada, tetapi harganya berubah.
Energi: Faktor yang Sering Dilupakan
Ada satu variabel penting yang tidak disentuh oleh pernyataan tersebut: energi.
Timur Tengah adalah jantung produksi minyak dunia. Konflik di kawasan itu hampir selalu diikuti oleh volatilitas harga energi. Ketika harga minyak naik, efeknya menjalar ke mana-mana:
- biaya distribusi pangan naik
- biaya produksi pertanian naik
- biaya logistik impor meningkat
Dalam kondisi seperti itu, kalimat “pasokan aman” sebenarnya menjadi pernyataan yang setengah benar.
Pasokan memang ada.
Namun harga yang harus dibayar masyarakat bisa jauh lebih tinggi.
Pasokan Aman, Harga Merangkak
Di sinilah kontradiksi mulai terlihat.
Jika pemerintah mengatakan sistem pangan aman karena tidak tergantung pada Timur Tengah, maka publik berhak bertanya:
Mengapa harga BBM dan berbagai komoditas justru mulai merangkak?
Karena dalam ekonomi global, keamanan pasokan tidak identik dengan stabilitas harga.
Suatu negara bisa memiliki stok pangan cukup.
Namun bila biaya energi, transportasi, atau impor bahan baku naik, maka harga tetap terdorong naik.
Dengan kata lain:
yang aman adalah stoknya,
tetapi belum tentu daya beli rakyatnya.
Politik Narasi Ketahanan
Dalam politik, narasi stabilitas sering digunakan untuk meredam kepanikan publik. Pernyataan tentang stok yang cukup hingga satu tahun, atau swasembada pada sejumlah komoditas, tentu penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Namun narasi tersebut juga bisa berubah menjadi statement politiking jika tidak disertai transparansi mengenai risiko yang sebenarnya dihadapi.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya hidup dari statistik stok pangan.
Mereka hidup dari harga di pasar.
Pertanyaan yang Lebih Jujur
Alih-alih sekadar mengatakan “aman karena tidak impor dari Timur Tengah”, pertanyaan yang lebih jujur seharusnya adalah:
- Apakah sistem pangan kita tahan terhadap lonjakan harga energi?
- Apakah distribusi pangan cukup efisien ketika biaya logistik naik?
- Apakah daya beli masyarakat cukup kuat menghadapi inflasi?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu belum jelas, maka pernyataan tentang keamanan pasokan hanya menjadi retorika administratif, bukan analisis ekonomi yang utuh.
Aman atau Mahal?
Di sinilah letak paradoksnya.
Pasokan mungkin tidak terganggu oleh perang.
Namun perang bisa membuat harga energi naik.
Harga energi yang naik membuat biaya produksi meningkat.
Biaya produksi yang meningkat membuat harga pangan merangkak.
Jadi pertanyaan sebenarnya bukan lagi “apakah pasokan aman?”
Melainkan:
Jika harga terus naik, masihkah keamanan pasokan itu terasa aman bagi rakyat?




















