Dalam sejarah peradaban manusia, hampir tak ada agama besar yang berkembang dalam satu tafsir tunggal. Satu figur suci melahirkan banyak jalan. Satu wahyu tumbuh menjadi beragam penafsiran. Realitas ini bukan penyimpangan, melainkan keniscayaan perjalanan manusia memahami Yang Ilahi.
Yesus Kristus hanya satu. Namun Kekristenan hari ini terbagi ke dalam lebih dari 45.000 denominasi di seluruh dunia, menurut data Center for the Study of Global Christianity. Dari Katolik, Protestan, Ortodoks, hingga ribuan gereja independen, masing-masing mengklaim menjaga kemurnian ajaran.
Buddha Gautama hanya satu. Tetapi Buddhisme berkembang menjadi sekitar 30–40 aliran utama, dari Theravada, Mahayana, Vajrayana, hingga berbagai tradisi lokal di Asia Timur dan Asia Tenggara. Setiap aliran memiliki kitab, ritual, dan disiplin spiritual yang berbeda.
Dalam Hindu, bahkan sulit menghitung jumlah sekte. Para peneliti memperkirakan terdapat ratusan tradisi dan sampradaya, dari Shaivisme, Vaishnavisme, Shaktisme, hingga berbagai aliran filsafat Vedanta. Hindu mungkin adalah contoh paling jelas bahwa keberagaman tafsir bisa hidup berdampingan selama ribuan tahun.
Islam pun demikian. Secara global, umat Islam terbagi dalam dua mazhab besar — Sunni dan Syiah — lalu bercabang lagi menjadi puluhan mazhab fikih, teologi, dan tarekat. Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali, Ja’fari, Zaydi, Ibadi, serta ratusan tarekat sufi adalah bukti bahwa dinamika tafsir telah menjadi bagian alami dari perjalanan Islam itu sendiri.
Angka-angka ini menunjukkan satu hal: perbedaan bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah pola tetap dalam perkembangan agama.
Masalah tidak lahir dari banyaknya tafsir. Masalah muncul ketika perbedaan dijadikan klaim absolut: “hanya kami yang benar, yang lain sesat.” Ketika keyakinan berubah dari jalan pencarian menjadi alat penegasan ego kolektif. Di titik itulah agama — yang seharusnya menuntun pada kedamaian — berubah menjadi sumber pertikaian.
Padahal, keragaman tafsir adalah bukti bahwa manusia diberi akal untuk memahami, bertanya, dan merenung. Bahwa kebenaran ilahi terlalu luas untuk dikurung oleh satu sudut pandang. Perbedaan adalah tanda kehidupan intelektual dan spiritual, bukan ancaman bagi iman.
Merayakan perbedaan bukan berarti mencairkan keyakinan. Ia berarti mengakui bahwa jalan menuju kebaikan bisa beragam, sementara tujuan luhur yang dicari hampir selalu sama: kedamaian batin, kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan.
Jika perbedaan dirayakan, agama menjadi sumber kedewasaan peradaban.
Jika perbedaan dipertentangkan, agama menjadi bahan bakar konflik.
Pilihan itu ada pada manusia, bukan pada Tuhan.
Pada akhirnya, perbedaan bukan ancaman bagi iman. Ia adalah undangan untuk rendah hati: bahwa kebenaran Yang Maha Luas tidak mungkin dimonopoli oleh satu tafsir semata.
























