Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Seperti macan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengaum. Seperti kambing, Presiden RI Prabowo Subianto mengembik. Ironis, memang. Tapi begitulah faktanya.
Di saat negara-negara Asia lain gemetar dihantui ketakutan, Anwar justru berani membawa Malaysia keluar dari ketakutan itu dan menantang Amerika Serikat (AS). Malaysia menyatakan keluar dari Perjanjian Perdagangan Timbal-balik atau Agreement Resiprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani bersama AS.
Alasan Malaysia singkat padat: kebijakan tarif yang dirilis Trump pada 19 Januari 2026 itu telah dibatalkan Mahkamah Agung (MA) AS hanya sehari setelah disahkan. Jadi, tak ada dasar hukumnya.
Malaysia sebelumnya terkena tarif impor AS sebesar 40 persen. Namun setelah negosiasi yang cukup alot, tarif untuk Malaysia itu diturunkan Trump menjadi 19 persen.
Seperti Malaysia, Indonesia pun terkena tarif 19 persen. Tapi Presiden Prabowo tak berani melawan.
Kini, ketika Anwar Ibrahim berani mengaum laksana macan Asia, Prabowo tetap mengembik seperti kambing.
Padahal, Indonesia adalah negara yang besarnya jauh melampaui Malayisa, baik dari sisi luas wilayah maupun jumlah penduduk. Namun dari sisi nyali, Anwar jauh melampaui Prabowo.
Bukan hanya ART, dalam hal lain pun Prabowo kalah nyali dengan Anwar. Ketika Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur akibat serangan tentara gabungan AS-Israel, 28 Februari 2026, Anwar langsung menyampaikan belasungkawa secara terbuka.
Sebaliknya, Prabowo perlu waktu empat hari untuk menyampaikan duka cita. Itu pun tidak langsung oleh Prabowo, tapi oleh Kementerian Luar Negeri RI.
Tidak itu saja. Prabowo juga takut menghadapi Presiden AS Donald Trump, sehingga mau saja ketika Indonesia diajak masuk Board of Peace (BoP) yang diinisiasi Trump untuk menjaga perdamaian di Timur Tengah yang tidak jelas juntrungannya.
Ketika AS bersama Israel menyerang Iran, yang berarti menodai misi ‘suci” BoP, Prabowo ternyata tak kunjung mengeluarkan Indonesia dari BoP. Padahal komitmen Trump untuk perdamaian Timur Tengah sekadar omon-omon belaka.
Anwar yang berani tidak membawa Malaysia masuk BoP. Prabowo yang penakut membawa Indonesia masuk BoP.
Malaysia, macan Asia sebenar-benarnya.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















