Ada momen yang terasa magis dalam perjumpaan manusia. Kita bertemu seseorang yang baru dikenal beberapa jam, tetapi obrolan mengalir seperti kawan lama. Musik favoritnya sama, cara memandang politik serupa, bahkan selera humor nyaris sebangun. Banyak orang menyebutnya kebetulan. Padahal, dalam ilmu sosial dan psikologi, fenomena ini memiliki penjelasan yang jauh lebih sistematis daripada sekadar “takdir mempertemukan”.
Kesamaan selera, hobi, dan sudut pandang bukan anomali. Ia adalah produk dari mekanisme sosial, psikologis, bahkan biologis yang bekerja diam-diam membentuk jaringan kesamaan antarmanusia.
1. Teori Homofili: Kita Cenderung Menyukai yang Serupa
Dalam sosiologi, terdapat konsep klasik bernama Homophily Theory. Teori ini menyatakan bahwa manusia secara alami lebih mudah membentuk hubungan dengan individu yang memiliki kesamaan karakteristik—baik usia, pendidikan, kelas sosial, nilai, hingga selera budaya.
Paul Lazarsfeld dan Robert Merton sejak 1954 menyebut homofili sebagai “the tendency of individuals to associate with similar others”. Kesamaan menciptakan rasa aman, mengurangi konflik interpretasi, dan mempercepat keintiman. Maka tidak mengherankan jika dua orang yang sama-sama menyukai jazz, membaca buku filsafat, atau kritis terhadap kekuasaan, akan lebih cepat merasa “nyambung”.
Bukan kebetulan. Itu pola.
2. Confirmation Bias: Kita Menyukai yang Menguatkan Keyakinan Kita
Psikologi kognitif menjelaskan adanya confirmation bias—kecenderungan manusia mencari, mengingat, dan menyukai informasi yang menguatkan keyakinan yang sudah ada. Ketika kita bertemu seseorang yang berpandangan serupa, otak memberi “hadiah dopamin”. Rasanya nyaman, seolah menemukan cermin intelektual.
Inilah sebabnya dua orang yang sama-sama skeptis pada kekuasaan, atau sama-sama idealis dalam melihat keadilan, cepat merasa berada di kubu yang sama. Bukan karena kebetulan. Tetapi karena otak memang dirancang untuk menyukai resonansi.
3. Social Identity Theory: Kesamaan Membentuk Rasa “Kita”
Henri Tajfel dalam Social Identity Theory menjelaskan bahwa manusia membangun identitas diri melalui kelompok rujukan. Kita mendefinisikan diri lewat “kami” dan “mereka”. Hobi, selera musik, bacaan, bahkan preferensi politik menjadi penanda kelompok.
Ketika bertemu seseorang dengan tanda identitas yang mirip, sistem psikologis langsung mengklasifikasikannya sebagai “ingroup”. Di situlah keakraban cepat terbentuk.
Kesamaan bukan kebetulan. Ia adalah mekanisme identitas.
4. Cultural Capital: Selera adalah Produk Lingkungan
Pierre Bourdieu menambahkan dimensi penting: cultural capital. Selera bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia terbentuk oleh pendidikan, bacaan, lingkungan keluarga, kelas sosial, dan pengalaman hidup.
Dua orang yang tumbuh dalam tradisi literasi kuat, terbiasa berdiskusi ide, atau aktif mengikuti isu sosial, besar kemungkinan mengembangkan preferensi yang mirip. Maka ketika mereka bertemu, kesamaan itu terasa “alami”, padahal ia hasil proses panjang.
5. Neurobiology: Otak Menyukai Pola yang Familiar
Bahkan secara biologis, otak manusia menyukai pola yang dikenali. Familiarity menurunkan beban kognitif. Kita lebih mudah berinteraksi dengan orang yang “sefrekuensi” karena tidak perlu banyak menerjemahkan maksud dan makna.
Inilah sebabnya pertemuan dengan orang yang satu sudut pandang sering terasa seperti “klik”. Bukan kebetulan. Itu efisiensi neurologis.
Penutup: Kebetulan Hanyalah Nama Lain dari Pola yang Belum Kita Pahami
Jika banyak persamaan selera, hobi, dan cara pandang muncul antara dua insan, jangan buru-buru menyebutnya kebetulan. Ia lebih tepat disebut pertemuan dua pola kehidupan yang searah—dibentuk oleh lingkungan, pengalaman, preferensi kognitif, dan kebutuhan psikologis yang serupa.
Kebetulan hanyalah istilah populer. Sementara ilmu menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu mencari kesamaan untuk merasa aman, diakui, dan dipahami.
Maka ketika kita bertemu seseorang yang terasa “nyambung”, barangkali bukan takdir yang bekerja. Tetapi hukum sosial dan psikologis yang berjalan sangat rapi—hanya saja jarang kita sadari.






















