By Paman BED
Siapa yang tidak kenal dengan trilogi kepemimpinan Ki Hajar Dewantoro? Gagasan ini bukan sekadar hafalan buku teks SD, melainkan sebuah mahakarya filosofis yang diakui dunia sebagai teknik komunikasi, pendidikan, dan psikologi yang brilian. Namun, dalam praktik bernegara dan berorganisasi, seringkali kita terjebak pada romantisme kata-katanya tanpa jeli memilih “pakaian” mana yang paling pas untuk tubuh program kita.
Sebab, mari kita jujur: ketiga pendekatan ini adalah pilihan strategis. Mereka tidak bisa dipakai secara serampangan dalam waktu bersamaan. Salah memilih “baju”, maka gerakan kita akan kikuk, dan hasilnya jauh dari optimal.
Koperasi: Antara Instruksi dan Inisiatif
Koperasi adalah anak kandung gotong royong. Logikanya, ia harus tumbuh dari bawah (bottom-up). Ia adalah panggung bagi gagasan, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan para anggotanya. Namun, mengharapkan koperasi—terutama di desa—berjalan sendirian tanpa sentuhan tangan negara adalah sebuah kenaifan yang mewah.
Sejarah mencatat, sejak zaman Orde Baru hingga hari ini, Kementerian Koperasi tetap eksis. Ini bukti pemerintah serius. Tapi pertanyaannya: Sejauh mana pemerintah masuk ke dalam “dapur” mereka?
Di masa lalu, kita sering terjebak pada pendekatan Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan) yang diterjemahkan secara kaku sebagai pendekatan top-down. Pemerintah membuat instruksi, merancang program kerja dari pusat, lalu memberikannya kepada pengurus koperasi di desa. Sepintas, cara ini terlihat brilian, cepat, dan cerdas. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: matinya jiwa entrepreneurship. Pengurus koperasi menjadi “robot” administratif yang hanya menunggu juklak dan juknis, kehilangan rasa lapar akan tantangan berwiraswasta.
Seni Menyeimbangkan Sabar dan Cepat
Kita sering menganggap kesabaran adalah musuh percepatan. Padahal, dalam membangun manusia, keduanya bisa berjalan beriringan.
Pendekatan Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun semangat) kini coba diwujudkan melalui pengerahan tenaga pendamping atau tenaga honorer untuk memicu laju koperasi.
Ini langkah maju, namun boleh jadi jika tidak hati hati, akan masuk dalam jeratan konsep Badan Usaha Milik Desa(BUMDes) versi ke 2.
Ada satu variabel yang sering tertinggal: Ekosistem.
Membangun koperasi di era modern bukan lagi sekadar memberi ceramah, tapi membentuk Ekosistem Koperasi Digital Produktif (Eko-KDP). Di sinilah letak transformasi peran pendamping. Mereka tidak boleh “nyemplung” mengurusi teknis internal koperasi, melainkan harus berdiri di belakang untuk mendorong (Tut Wuri Handayani).
Tut Wuri Handayani dalam Konteks Kekinian
Menerapkan Tut Wuri Handayani di abad ke-21 berarti memberikan dukungan yang memandirikan, bukan yang memanjakan. Bentuknya konkret:
Pembangunan SDM yang Utuh: Bukan sekadar teori, tapi menyentuh integritas, team building lewat outbound, kepemimpinan, hingga penguasaan operasional Enterprise Resource Planning (ERP) yang terintegrasi dalam sistem koperasi.
Penyediaan Offtaker: Koperasi tidak boleh dibiarkan bingung menjual produknya. Perlu ada pengusaha yang siap menjadi mitra melalui perjanjian jual-beli yang menjamin harga wajar, kualitas standar pasar, dan kepastian kuantitas.
Akses Permodalan: Dana kredit hadir sebagai pelumas modal kerja, bukan sebagai “pancingan” utama yang justru seringkali membebani jika pondasi SDM-nya belum kuat.
Inilah gotong royong versi modern. Pemerintah dan institusi pendamping tidak lagi menjadi “mandor” yang memerintah dari depan, tapi menjadi penyedia fasilitas dan penjaga arah dari belakang.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan:
Efektivitas program koperasi sangat bergantung pada ketepatan memilih gaya kepemimpinan. Pendekatan top-down (Ing Ngarso) cenderung mematikan kreativitas, sementara membiarkan tanpa arah akan memicu kegagalan.
Pendekatan In Madyo Mangun Karso juga belum mampu menumbuhkan jiwa entrepreneurship pengurus maupun anggota koperasi, bahkan cenderung mem-BUMDes kan versi berikutnya.
Contoh konkrit yang dihadapi saat ini adalah seluruh pengurus Koperasi Desa, sangat sedikit yang telah memulai berbisnis, walaupun bisnis itu bagian dari kebutuhannya, mereka menunggu arahan dan instruksi berikutnya, layaknya pegawai suatu perusahaan yang BUMN. Mereka kawatir keliru atau salah dalam bertindak. Ini membuktikan matinya kreativitas, dan tidak tumbuhnya jiwa dan mental bisnis baik pengurus maupun anggota koperasi.
Pendekatan Tut Wuri Handayani yang berbasis ekosistem digital dan kemitraan strategis adalah pilihan paling relevan untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi anggota.
Ekosistem yang dimaksud berupa kemitraan dengan institusi atau organisasi yang kuat dan berkomitmen tinggi untuk memajukan koperasi berbasis bisnis berkelanjutan. Mitra seperti ormas Kosgoro, merupakan pilihan terbaik, mengingat pengalaman dan komitmennya dalam membina dan menggerakkan koperasi melalui standarisasi kualifikasi pengurus Koperasi agar profesional, mitra lainnya adalah offtaker yang berpengalaman bisnis seperti PT MBI dan PT PAW yang siap menjamin pasar dengan harga yang wajar dan menguntungkan bagi koperasi, serta peran ERP platform digital koperasi yang handal dan dapat lebih dipercaya dengan tata kelola yang efektif dan efisien seperti kooperasi.com menjadi salah satu jalan keluar terbaik. Dan akhirnya, kemitraan dengan bank, misalnya kemitraan dengan bank BTN untuk mendukung modal kerja dalam proses bisnis berjalan, jika diperlukan, mengingat koperasi telah masuk dalam kategori bankable dan trusted.
Saran:
* Reorientasi Peran Pendamping: Ubah pola pikir pendamping dari “pengawas” menjadi “fasilitator ekosistem”.
* Digitalisasi yang Humanis: Terapkan sistem ERP koperasi bukan sebagai beban administratif, melainkan sebagai alat bantu transparansi dan efisiensi.
* Kemitraan yang Berkeadilan: Pemerintah harus aktif menjembatani koperasi dengan sektor swasta (offtaker) agar ada jaminan pasar bagi produk-produk desa.
Sudah siapkah kita berhenti mendikte dan mulai memberdayakan? Karena sejatinya, keberhasilan seorang pemimpin adalah ketika ia “tidak lagi dibutuhkan” karena yang dipimpinnya sudah berdaya.
Referensi:
* Dewantoro, K. H. (1962). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian Pertama Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
* Mubyarto. (1994). Sistem Ekonomi Pancasila, Gotong Royong, dan Ideologi Koperasi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia.
* Drucker, P. F. (2006). The Practice of Management. Harper Business (Terkait konsep pengembangan SDM dan efektivitas organisasi).
By Paman BED




















