Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Adalah Ahmad Ali yang “memprovokasi” Presiden Prabowo Subianto untuk menantang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bertarung di 2029.
Ahmad Ali, Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang sebelumnya Wakil Ketua Umum Partai Nasdem pada 22 Januari lalu menyatakan Gibran petensial menjadi lawan terkuat Prabowo di Pemilihan Presiden 2029.
Gayung bersambut. Seakan hendak meladeni tantangan Ahmad Ali, Ketua Umum Partai Gerindra itu balik menantang. “Kalau tidak suka sama Prabowo, silakan, 2029 bertarung,” ucap Prabowo Subianto di hadapan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).
Benarkah tantangan itu Prabowo tujukan kepada Gibran?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, di dunia ini segala kemungkinan bisa terjadi. Apalagi di dunia politik. Ada adagium, tak ada kawan atau lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan.
Bagi Prabowo, kepentingan dia adalah terpilih lagi di Pilpres 2029. Begitu pun bagi Gibran. Anak sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo ini tentu saja ingin terpilih lagi di 2029, baik tetap menjadi wapres atau pub lebih-lebih menjadi presiden.
Adapun kepentingan PSI yang ketua umumnya Kaesang Pangarep, adik kandung Gibran adalah meraup suara sebanyak-banyaknya di Pemilu 2029 supaya bisa masuk parlemen setelah pada pemilu-pemilu sebelumnya gagal.
Dus, Gibran pun dijadikan ikon PSI selain Jokowi. Kalau hanya mengusung Gibran sebagai cawapres, itu kurang “nendang”. Mulai sekarang Gibran harus dipasarkan sebagai capres.
Mungkin itulah yang membuat Prabowo merasa tertantang. Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu pun balik menantang siapa pun yang tidak suka kepadanya untuk bertarung di 2029. Temasuk Gibran.
Padahal pada Jumat (30/2/2026) lalu, Jokowi sudah mencoba menjadi semacam pemadam kebakaran atau tim gegana penjinak “bom pilitik” yang dilemparkan Ahmad Ali, dengan menyatakan Prabowo-Gibran akan lanjut dua periode.
Test the Water
PSI mencoba main tarik-ulur dengan Prabowo. Di satu sisi mengindikasikan Gibran siap menantang Prabowo di 2029, namun di sisi lain menyatakan Prabowo-Gibran akan tetap berduet seperti di Pilpres 2024.
PSI sepertinya belum cukup yakin dengan popularitas dan elektabilitas Gibran, sehingga mereka melakukan semacam “test the water” untuk menjajaki seberapa besar peluang Gibran jika maju sebagai capres.
Jika peluangnya kecil, maka PSI akan merasa aman jika Gibran tetap bersama Prabowo di Pilpres 2029.
Apalagi dalam sejarah pilpres langsung di Indonesia, petahana selalu menang, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004 yang menang lagi di 2009, dan Jokowi yang menang di 2014 dan menang lagi di 2019. Prabowo yang menang di 2024 pun diprediksi akan menang lagi di 2029.
Siapa pun cawapresnya tak berpengaruh bagi capres petahana. SBY saat berpasangan dengan Jusuf Kalla menang di 2004. SBY menang lagi ketika berpasangan dengan Boediono di 2009.
Jokowi pun menang di 2014 saat berpasangan dengan JK, dan menang kembali pada 2019 ketika berpasangan dengan Ma’ruf Amin. Terbukti, sosok cawapres tidak berpengaruh signifikan bagi elektabilitas capres petahana.
Sebab itu, Jokowi dan PSI pun galau. Maksud hati mencapreskan Gibran, apa jadinya kalau tidak terpilih. Trah Jokowi bisa terlempar dari episentrum kekuasaan.
Sebaliknya, jika Gibran tetap menjadi cawapresnya Prabowo maka potensi terpilihnya sangat besar. Kursi wapres pun akan tetap diduduki Gibran. Lumayan, daripada terlempar dari episentrum kekuasaan. Untuk dapat kembali, perlu waktu yang tidak pendek.
Bahkan Gibran akan dianggap sebagai oposan yang ke mana-mana dibuntuti intel amatiran seperti yang terjadi dengan Anies Baswedan.
Kalau sudah terlempar dari episentrum kekuasaan, apalagi bila kemudian menjadi oposan, maka akan sulit untuk bisa balik badan.
Sadar akan fenomena itu, begitu dua kali dikalahkan dalam pilpres, Prabowo langsung bergabung dengan Jokowi dengan menjadi Menteri Pertahanan 2019-2024. Begitu didukung Jokowi di Pilpres 2024, Prabowo langsung menang.
Alhasil, sesumbar yang dilontarkan Ahmad Ali sekadar test the water atau gertak sambal belaka
Apalagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN) sudah tegas menyatakan dukungannya untuk Prabowo maju kembali di Pilpres 2029, meskipun mereka belum menentukan siapa cawapresnya.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Sugiono pun sudah menyatakan partainya belum membahas siapa cawapres yang akan mendampingi Prabowo di 2029.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















