Oleh: Malika Dwi Ana
Ketika Niccolò Machiavelli menyusun Il Principe pada 1513, ia tidak menulis traktat moral. Ia menyusun panduan bertahan hidup di dunia politik yang kejam dan tak kenal ampun. Bagi Machiavelli, pemimpin ideal bukanlah orang paling saleh, paling bijak, atau paling dicintai rakyat—melainkan yang paling mampu mempertahankan kekuasaannya di tengah intrik, pengkhianatan, dan ancaman konstan. Kebaikan yang naif, dalam pandangannya, bisa menjadi senjata yang justru membunuh pemiliknya sendiri.
Salah satu petuah paling terkenalnya berbunyi:
“Lebih baik ditakuti daripada dicintai, jika tidak bisa keduanya sekaligus.”
Cinta rakyat mudah pudar—manusia cepat lupa berterima kasih dan lebih cepat lagi berubah pikiran. Ketakutan, sebaliknya, lebih andal karena bertumpu pada ancaman hukuman yang konsisten. Machiavelli tidak menganjurkan kekejaman tanpa kendali; ia hanya mengingatkan: jangan biarkan kebaikan membuatmu lemah.
Metafora rubah dan singa menjadi salah satu ikon paling epic dalam karyanya:
“Singa tidak bisa melindungi diri dari perangkap, rubah tidak bisa melawan serigala. Karena itu, seorang pangeran harus bisa menjadi rubah untuk mengenali jebakan, dan singa untuk menakut-nakuti serigala.”
Rubah melambangkan kecerdikan, tipu daya, dan kemampuan membaca niat tersembunyi. Singa melambangkan kekuatan, keberanian, dan kemampuan menggunakan kekerasan jika diperlukan. Pemimpin yang hanya menjadi singa akan terjebak; yang hanya menjadi rubah akan dihancurkan oleh kekuatan kasar. Yang berhasil adalah yang mampu berganti wujud sesuai keadaan.
Di Indonesia tahun 2026, narasi ini terasa hidup—dan mengganggu.
Presiden Prabowo Subianto, setelah tiga kali kalah dan sekali menang, kini berada di puncak kekuasaan. Ia mengonsolidasikan otoritasnya dengan cara-cara yang sangat Machiavellian: merangkul tokoh oposisi kritis seperti Abraham Samad dan Said Didu melalui “dialog”, menjanjikan gedung 40 lantai bagi MUI dan ormas Islam, mengundang lima konglomerat terbesar ke Hambalang untuk membentuk “Indonesia Incorporated”, serta mengajak mantan presiden dan tokoh lintas generasi demi menyatukan narasi nasional.
Update terbaru yang semakin mempertegas sisi rubah adalah pertemuan maraton di kediaman pribadinya di Hambalang pada 17 Maret 2026. Prabowo mengundang sejumlah jurnalis senior dan tokoh publik—termasuk Najwa Shihab, Chatib Basri, Rizal Mallarangeng, Retno Pinasti, Mardigu Wowiek Prasantyo, serta beberapa influencer dan pengusaha—untuk berdiskusi selama sekitar enam jam hingga dinihari.
Debat berlangsung sengit. Najwa Shihab mencecar soal isu makar, teror terhadap aktivis, reformasi kepolisian, dan kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Prabowo menjawab tegas: “Come on, saya sumpah,” dan menegaskan bahwa anggaran MBG tidak akan dipangkas. Ia bahkan menyatakan, “Saya pertaruhkan kepemimpinan saya, 2029 kita lihat.”
Apa maksud sebenarnya di balik undangan ini?
Ini adalah strategi klasik Machiavelli dalam Bab 18: tampilkan penampilan yang baik di mata publik (great pretender) sambil tetap mengendalikan narasi. Dengan mengundang Najwa Shihab—tokoh yang selama ini vokal kritis—Prabowo mencapai beberapa tujuan sekaligus:
- Menampilkan diri sebagai pemimpin yang terbuka terhadap kritik, berani, dan demokratis—bukan alergi oposisi.
- Memberi ruang bagi pertanyaan tajam, namun tetap mengontrol konteks: pertemuan di Hambalang (bukan Istana Merdeka secara formal), undangan terpilih, bukan forum terbuka.
- Mengubah potensi “jebakan” kritik menjadi kesempatan menjawab langsung kepada publik, sehingga narasi bergeser dari rumor makar atau ketidakpuasan menjadi “dialog terbuka”.
- Membangun citra bahwa ia siap “ditakuti” (tegas saat dicecar) sekaligus “dihormati” (mendengar dan menjawab).
Ini bukan sekadar ramah tamah. Ini manuver si rubah: mengenali jebakan media kritis, lalu mengubahnya menjadi alat memperkuat legitimasi. Bahkan ketika debat memanas dan sebagian publik menganggap Prabowo “kalah argumen” di momen tertentu, itu pun sebenarnya adalah bagian dari permainan—ia tetaplah yang mengendalikan panggung.
Namun di sinilah letak getirnya. Machiavelli tidak pernah mengajak untuk menjadi jahat. Ia hanya memperingatkan: jangan biarkan kebaikan membuatmu bodoh. Kadang seorang pemimpin harus tegas. Kadang harus berkata tidak. Kadang harus memilih diri sendiri daripada menyenangkan semua pihak.
Di era Prabowo, pertanyaan yang muncul semakin tajam: apakah konsolidasi kekuasaan ini—termasuk undangan ke Najwa Shihab dan jurnalis kritis—masih berada dalam koridor “menjadi rubah dan singa demi negara”, ataukah sudah bergeser menjadi “menjadi rubah dan singa demi kekuasaan itu sendiri”?
Batasnya memang tipis:
– Jika langkah-langkah ini akhirnya menghasilkan pendidikan yang merata, riset ilmiah masif, dan kesejahteraan rakyat bawah yang nyata—maka ini adalah Machiavellianisme yang produktif.
– Jika akhirnya hanya melahirkan kekuasaan yang terlalu terkonsentrasi, oposisi mati suri, parlemen menjadi stempel karet, dan rakyat hanya mendapat janji-janji sementara sementara elite semakin nyaman—maka ini adalah Machiavellianisme yang korup.
Machiavelli mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tentang dicintai semua orang. Kekuasaan adalah tentang bertahan, tentang menyadari bahwa dunia tidaklah hitam-putih, dan tentang memiliki keberanian untuk tidak selalu menyenangkan semua pihak.
Pertanyaan akhir bukan hanya untuk Prabowo, melainkan untuk kita semua—siapa pun yang memiliki sedikit kekuasaan, baik di politik, bisnis, maupun di lingkup rumah tangga:
Apakah Anda masih ingin dicintai oleh semua orang?
Atau Anda sudah siap menjadi pribadi yang kuat, meski tidak selalu disukai?
Karena ancaman terbesar sering bukan musuh di depan mata, melainkan keinginan untuk selalu dimengerti dan disukai—sampai akhirnya kehilangan diri sendiri.
Machiavelli tidak membenci kebaikan.
Ia hanya bilang: jangan biarkan kebaikan itu membuatmu menjadi korban.
Di Indonesia 2026, dengan rubah dan singa yang semakin lincah bergerak di Istana Merdeka dan Hambalang, pertanyaan itu masih menggantung: apakah kita sedang menyaksikan pemimpin yang sadar akan realitas kekuasaan, atau pemimpin yang terlalu sadar hingga lupa tujuan awalnya?
Waktu yang akan menjawab.
Satu hal pasti: rubah dan singa masih berkeliaran.
Dan kita semua sedang menonton dengan geregetan.
Malika Dwi Ana
23 Maret 2026






















