Di hadapan Ka’bah yang agung,
di bawah langit yang seakan lebih dekat dengan rahman~rahim-Nya,
aku menengadahkan tangan yang gemetar—
bukan karena lemah,
tetapi karena sadar betapa kecilnya diri di tengah takdir bangsa yang besar.
Ya Allah…
di rumah-Mu yang suci ini,
aku tidak hanya membawa dosa-dosa pribadi,
tetapi juga kegelisahan tentang negeri yang kucintai.
Negeri yang kini seperti diselimuti kabut,
di mana benar dan salah tak lagi mudah dibedakan,
di mana kata-kata dipelintir menjadi senjata,
dan fitnah beranak-pinak tanpa rasa malu.
Dari mereka yang tak mengenal bangku sekolah,
hingga mereka yang menyandang gelar setinggi langit,
semuanya terseret dalam pusaran yang sama—
pusaran yang perlahan,
tanpa disadari,
menggerogoti bangsanya sendiri.
Ya Rabb…
betapa kemunafikan telah menjelma menjadi wajah yang biasa,
membela sesuatu dengan suara lantang,
namun kehilangan pijakan nurani.
Di satu sisi,
mereka mengaku membela yang jauh—
menyuarakan keadilan atas nama negeri lain,
namun di sisi lain,
mereka justru meruntuhkan nilai di rumah sendiri.
Mereka memuja kebebasan tanpa batas,
mengagungkan demokrasi tanpa ruh,
hingga lupa bahwa bangsa ini dibangun
bukan hanya oleh akal,
tetapi oleh iman,
oleh Pancasila yang lahir dari hikmah dan keseimbangan.
Ya Allah…
jika ini adalah perang yang tak tampak,
perang pikiran, perang narasi, perang keyakinan,
maka kuatkanlah kami dengan kejernihan hati.
Jangan Engkau biarkan kami menjadi bagian dari tipu daya itu,
meski hanya dengan diam,
meski hanya dengan ketidaktahuan.
Bukakan mata mereka yang tertutup ambisi,
lunakkan hati yang keras oleh kepentingan,
dan sadarkan kami semua—
bahwa menghancurkan bangsa sendiri
adalah pengkhianatan paling sunyi,
namun paling mematikan.
Ya Rabb…
di depan Ka’bah ini aku bertanya,
bukan dengan suara,
tetapi dengan jiwa yang bergetar:
sadarkah kami akan tipu daya ini?
atau kami telah begitu larut,
hingga merasa kehancuran adalah kebenaran?
Jika masih ada secercah cahaya,
maka jadikanlah kami bagian darinya—
sekecil apa pun,
setenang apa pun.
Karena aku percaya,
di antara gelap yang pekat,
Engkau selalu menyisakan jalan pulang.
Aamiin.























