Oleh M Yamin Nasution-Pemerhati Hukum
Jalan korupsi yang paling baik dan aman adalah melakukannya dengan dan atas nama rakyat – M Yamin

Dunia politik nasional penuh dengan masalah yang sudah lama, dan bahkan masalah korupsi, penegakan hukum yang buruk bahkan dianggap sebagai budaya.
Setiap kepemimpinan yang dilahirkan partai politik akan mencatatkan dan menyugukan kerusakan-kerusakan baru bagi rakyat yang pada dasarnya sama seperti pemimpin sebelunya.
Korupsi, kolusi, ekonomi buruk dan timpang yang berdampak pada kemiskinan, kesenjangan dan kriminalitas meningkat. Penegakan hukum buruk, kesewenang-wenangan, kebencian, kelicikan, pengkhianatan, perselingkuhan dan lainnya.
Semua partai politik dan politisinya akan mengatakan, “…..negeri harus lebih maju, Indonesia harus bebas dari korupsi, pendidikan harus gratis, dan seterusnya.
Petinggi-petinggi partai akan menyampaikan tentang visi misi dan bentuk kecintaannya pada negara dan rakyat Indonesia.
Akan tetapi semua hal negatif diatas lahir dari satu hubungan sebab akibat dari pilihan model politik, meski tak menyukai namun menginginkannya “quam-quam coactus, attamen voluit”.
Darwin dalam teori evolusinya menunjukkan kebenaran tersendiri melalui praktek politik di Indonesia, partai lama dan baru.
Hanya manusia yang terdiri dari evolusi monyet yang akan menjanjikan kebaikan-kebaikan, saat berkuasa korup, semena-mena, tak peduli terhadap generasi, menanamkan kebencian terhadap lawan-lawan politik, adu domba, dan semua praktek kelicikan.
Cinta monyet, istilah ini dikenal cukup lama di Indonesia. Akan tetapi pernahkan masyarakat memikirkan lebih dalam istilah tersebut, sehingga menyadari telah memberikan kehidupan politik bernegaranya diurus para manyet.
Dalam praktek politik, ketua partai yang lahir melalui proses evolusi monyet menjadi manusia, yang akan mengatakan; “cinta NKRI, cinta rakyat, saat berkuasa mereka lebih buas”.
Kemungkinan besar kehidupan politik negara ini telah gagal memahami makna cinta sesungguhnya, sehingga mereka menggunakan paradigma cinta monyet.
Politik cinta monyet adalah suatu bentuk praktik cinta yang membenarkan praktek-praktek buruk, terlarang untuk dilakukan baik secara tersembunyi maupun tersembunyi.
Politisi dan para politikus mengatakan : “Saya cinta bangsa Indonesia, anti korupsi, dan demi rakyat lebih baik” di sisi lain dan disaat yang bersamaan mereka merencakan untuk melakukan korupsi lebih besar.
Gizi gratis akan memperbaiki kehidupan monyet, namun tidak memperbaiki perilaku yang sesungguhnya, budaya mereka adalah lapar dan dahaga. Untuk itu mereka akan terus melakukan praktek politik tak manusiawi dan jauh dari landasan dasr negara.
























