• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PRABOWO: BERTAHAN ATAU DISANTAP

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
January 27, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang diprakarsai oleh Board of Peace dan digerakkan oleh visi Donald Trump menimbulkan perdeebatan di dalam negeri. Tidak kurang Dino Patti Djalal, mantan Dubes Indonesia di AS, mengomentari langkah tersebur dalam sebuah podcast yang viral.

Langkah Prabowo menerima unfangan Trump bukanlah langkah reaktif, apalagi seremonial. Itu adalah pilihan politik strategis di tengah pergeseran besar tatanan dunia—sebuah upaya menempatkan Indonesia bukan sebagai penonton, tetapi sebagai aktor yang ikut membentuk arah sejarah. Untuk memahami makna langkah ini, kita perlu melihat BoP bukan sebagai lembaga final, melainkan sebagai simpul evolusi gagasan, terutama dalam cara Trump membaca konflik global dan keterbatasan institusi lama.

Dari Deal of the Century ke Board of Peace

BoP tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah fase terbaru dari evolusi pemikiran Trump tentang konflik Palestina–Israel dan, lebih luas lagi, tentang bagaimana konflik global seharusnya dikelola. Pada 2020, Trump meluncurkan Deal of the Century—sebuah proposal yang secara terang-terangan menyingkirkan banyak tuntutan politik Palestina demi stabilitas geopolitik versi Amerika. Rencana itu gagal memperoleh legitimasi internasional, tetapi menyisakan satu benang merah: Trump meyakini bahwa konflik tak akan selesai lewat diplomasi normatif ala PBB, melainkan melalui deal-making langsung yang ditopang kekuatan ekonomi dan politik.

Setelah itu muncul gagasan rekonstruksi Gaza—pendekatan yang menggeser fokus dari kedaulatan politik ke pembangunan ekonomi dan infrastruktur pasca-konflik. Logikanya sederhana sekaligus problematik: kemiskinan dan kehancuran fisik dianggap sebagai akar radikalisme, sehingga solusi ditarik ke ranah investasi, pembangunan, dan tata kelola baru. Dari sini, BoP adalah lompatan berikutnya: sebuah forum elite, fleksibel, minim birokrasi, yang dirancang untuk “menyelesaikan” konflik tanpa harus terikat pada mandat, resolusi, dan prosedur berlapis.

Apa yang Trump inginkan dari BoP? Pertama, efektivitas—atau setidaknya kesan efektivitas—yang tak ia temukan dalam United Nations. Kedua, reposisi kepemimpinan global Amerika di era pasca-hegemonik: bukan lagi sebagai penjaga tatanan liberal, melainkan sebagai broker utama kesepakatan. Ketiga, pembingkaian ulang konflik global sebagai persoalan manajerial dan investasi, bukan persoalan politik dan keadilan struktural. Dalam kerangka ini, BoP secara implisit mengecilkan PBB: bukan dengan membubarkannya, melainkan dengan mem-bypass-nya—menciptakan jalur alternatif di mana keputusan penting bisa diambil tanpa harus menunggu konsensus universal.

Kepentingan Indonesia: Konkret, Moral, dan Representatif

Indonesia memasuki BoP dengan tujuan yang jauh lebih konkret dan bermuatan moral. Prioritasnya jelas: menghentikan kekerasan di Gaza, melindungi warga sipil, dan memperluas akses bantuan kemanusiaan. Tujuan-tujuan ini bukan retorika melainkan mandat konstitusional dan refleksi sejarah panjang Indonesia dalam memperjuangkan keadilan global. Bergabung dalam BoP memberi Indonesia kanal langsung untuk mendorong ceasefire, koridor kemanusiaan, dan mekanisme perlindungan sipil—di ruang di mana keputusan mulai dirumuskan.

Lebih dari itu, Indonesia membawa kepentingan representatif: menjadi suara Palestina di meja yang selama ini didominasi kekuatan besar dan aktor non-negara berpengaruh. Dalam struktur BoP yang cair, absennya aktor Global South justru akan memperkuat bias solusi ke arah kepentingan modal dan stabilitas semu. Kehadiran Indonesia menahan laju itu—setidaknya dengan memastikan bahwa isu kedaulatan, hak sipil, dan martabat manusia tidak sepenuhnya tenggelam oleh bahasa proyek dan investasi.

Di sinilah paradoks BoP menjadi ruang peluang. Meski lahir dari kegelisahan oligarki global, ia belum mengeras menjadi institusi tertutup. Indonesia dapat memanfaatkannya sebagai arena kontestasi gagasan: mendorong agenda kemanusiaan sambil menguji batas-batas pragmatisme baru yang ditawarkan Trump.

Siapa Menguat, Siapa Tersingkir?

Tatanan ekonomi liberal kapitalistik yang mendominasi dunia dalam 80 tahun terakhir ini yang sedang runtuh saat ini adalah tatanan

Oligarki global selama ini dianggap mengendalikan keputusan-keputusan publik di level nasional maupun internasional. Pergeseran menuju multipolarisme bukan slogan; ia adalah hasil akumulasi tekanan struktural yang saling bertaut. Setidaknya ada tiga lapis perubahan yang relevan.

Pertama, pergeseran kekuatan ekonomi dan keuangan. Dominasi finansial Barat—yang selama puluhan tahun menopang globalisasi neo-liberal—mulai tergerus. Krisis finansial berulang, inflasi pasca-pandemi, dan politisasi mata uang (sanksi, asset freezing) melemahkan kepercayaan pada sistem lama. Di sisi lain, muncul jalur alternatif: perdagangan bilateral non-dolar, sistem pembayaran baru, dan pendalaman pasar domestik di Asia. Kekuatan yang menguat di sini bukan lagi korporasi transnasional Barat semata, melainkan koalisi negara–pasar di Asia dan Global South yang mengombinasikan peran negara dengan mekanisme pasar.

Kedua, pergeseran kekuatan politik dan keamanan. Dunia bergerak dari satu pusat keputusan ke banyak pusat. Aliansi lama retak, konflik menjadi lebih terfragmentasi, dan intervensi militer kehilangan legitimasi. Negara-negara menengah memperoleh ruang manuver lebih besar—bukan karena mereka kuat secara absolut, tetapi karena kekuatan besar saling mengunci. Dalam kondisi ini, forum ad hoc seperti BoP muncul sebagai respons cepat, meski berisiko dangkal. Kekuatan yang tersingkir di sini adalah monopoli legitimasi Barat; yang menguat adalah issue-based coalitions yang cair dan situasional.

Ketiga, pergeseran kekuatan ide dan legitimasi. Oligarki global melemah bukan karena kehilangan kekayaan, melainkan karena kehilangan narasi. Janji globalisasi—pertumbuhan merata, stabilitas, perdamaian—tidak terwujud. Ketimpangan membesar, konflik berulang, dan kepercayaan publik runtuh. Yang menggantikan bukan satu ideologi tunggal, melainkan pluralitas pendekatan: nasionalisme ekonomi, pragmatisme pembangunan, dan pencarian stabilitas yang kontekstual. Dalam lanskap ini, legitimasi tidak lagi otomatis datang dari institusi global, melainkan dari delivery—kemampuan menghasilkan hasil nyata.

BoP berdiri tepat di persimpangan tiga pergeseran ini. Ia adalah upaya oligarki global untuk beradaptasi—mengganti institusi berat dengan mekanisme ringan, mengganti norma dengan kesepakatan, mengganti universalitas dengan efektivitas semu. Apakah ia akan berhasil? Itu masih terbuka. Tetapi justru karena sifatnya yang belum matang, ruang intervensi aktor seperti Indonesia menjadi relevan.

Prabowo: Hadir atau Disantap

Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia memilih strategi kehadiran aktif. Prinsipnya sederhana: If you are not at the table, you are on the menu. Dalam transisi multipolar, ketidakhadiran bukan netralitas, melainkan penghilangan diri dari proses penentuan. Dengan masuk ke BoP, Indonesia memastikan dirinya berada di ruang awal perumusan—bukan sekadar di tahap implementasi yang sering kali sudah bias.
Strategi ini bukan tanpa risiko. Ada bahaya kooptasi, normalisasi solusi dangkal, dan legitimasi terhadap agenda yang menyingkirkan akar masalah. Namun alternatifnya—menolak dan menjauh—berisiko lebih besar: membiarkan keputusan dibuat tanpa suara Global South yang kredibel.

Pandangan Dino Patti Djalal dalam podcastnya tentang BoP menarik karena mencerminkan visi Eropa yang masih terikat pada tatanan unipolar normatif. Kekhawatiran terhadap legitimasi, prosedur, dan konsistensi memang valid. Namun dunia yang sedang berubah sering kali bergerak lebih cepat dari kerangka lama. BoP—dengan segala kekurangannya—adalah gejala zaman baru yang tak sepenuhnya bisa dihakimi dengan standar institusi abad ke-20.

Penutup: Di Antara Realisme dan Harapan

BoP adalah cermin kegelisahan global dan sekaligus eksperimen berisiko. Bagi Indonesia, bergabung bukan berarti menyetujui semua premisnya, melainkan memasuki arena untuk memperjuangkan tujuan konkret: menghentikan kekerasan, melindungi warga sipil, dan memastikan Palestina tidak terhapus dari peta keputusan. Dalam dunia multipolar yang belum mapan, strategi terbaik sering kali bukan menunggu kejelasan, melainkan ikut membentuknya. Indonesia memilih hadir—dan itu, dalam politik global hari ini, adalah langkah yang paling realistis sekaligus paling bertanggung jawab.===

CIMAHI, 27 JANUARI 2026

Penulis:
Berijasah asli dari Jurusan Studi Pembangunan FE-Unpad
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu
Aya Aya Wae

Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

January 27, 2026
Nunukan Terkoyak, Kedaulatan Dipertanyakan Sejengkal tanah yang bergeser adalah alarm bagi kehormatan republik.
Feature

Nunukan Terkoyak, Kedaulatan Dipertanyakan Sejengkal tanah yang bergeser adalah alarm bagi kehormatan republik.

January 27, 2026
Kapolri Siap Tindak Para Pihak Terlibat skandal Judol di Kemkomdigi Termasuk Nama Tertentu
Birokrasi

Reformasi POLRI Ditolak — Saat Kekuasaan Menjadi Alasan Menghindar dari Akuntabilitas Sipil

January 27, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Noel: Dari Orator Jalanan ke Penjarah Mobil Mewah yang Hilang
Feature

Noel, Pahlawan Kesiangan yang Siap Dihukum Mati

by Karyudi Sutajah Putra
January 27, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Bukan Noel namanya kalau tidak pandai membuat sensasi. Bekas Wakil...

Read more
Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi

Stigma NGO oleh Wamenham Bukti Negara Gagal Melindungi, Justru Lakukan Persekusi

January 24, 2026
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

January 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

PRABOWO: BERTAHAN ATAU DISANTAP

January 27, 2026
Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

January 27, 2026
Nunukan Terkoyak, Kedaulatan Dipertanyakan Sejengkal tanah yang bergeser adalah alarm bagi kehormatan republik.

Nunukan Terkoyak, Kedaulatan Dipertanyakan Sejengkal tanah yang bergeser adalah alarm bagi kehormatan republik.

January 27, 2026
Kapolri Siap Tindak Para Pihak Terlibat skandal Judol di Kemkomdigi Termasuk Nama Tertentu

Reformasi POLRI Ditolak — Saat Kekuasaan Menjadi Alasan Menghindar dari Akuntabilitas Sipil

January 27, 2026
Jokowi Sendiri Yang Menjelaksan Ijazahnya Palsu

Jokowi Sendiri Yang Menjelaksan Ijazahnya Palsu

January 27, 2026
Noel: Dari Orator Jalanan ke Penjarah Mobil Mewah yang Hilang

Noel, Pahlawan Kesiangan yang Siap Dihukum Mati

January 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PRABOWO: BERTAHAN ATAU DISANTAP

January 27, 2026
Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

Bukan Kebetulan: Mengapa Kesamaan Selera, Hobi, dan Cara Pandang Sering Bertemu

January 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...