• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Tragedi Suriah: Propaganda Sektarian di Tengah Perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Oleh: Nazaruddin

fusilat by fusilat
March 25, 2026
in Feature, Politik
0
Tragedi Suriah: Propaganda Sektarian di Tengah Perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Oleh: Nazaruddin
Share on FacebookShare on Twitter

 

Ketika rezim Bashar al-Assad akhirnya runtuh pada 2024, dunia Islam tidak hanya menyaksikan perubahan kekuasaan, tetapi juga ledakan euforia sektarian yang terasa ganjil sekaligus berbahaya. Slogan seperti “Syiah telah kalah!” atau “Iran telah hancur!” menggema di media sosial, membentuk narasi yang tidak lahir dari empati, melainkan dari sentimen yang dipelihara.

Narasi itu kemudian dibenturkan dengan tragedi Gaza untuk membangun kesimpulan simplistik: “Jika Israel membantai puluhan ribu rakyat Gaza, maka Iran telah membantai ratusan ribu rakyat Suriah.”

Sebuah klaim yang terdengar meyakinkan, tetapi sesungguhnya menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Pertanyaannya: apakah Suriah semata panggung pembantaian sektarian, atau justru sebuah “laboratorium” perang proksi global—di mana hampir semua pihak memiliki andil dalam kehancuran?


Revolusi yang Dibajak: Dari Aspirasi ke Arena Global

Konflik Suriah yang pecah pada 2011 bermula dari tuntutan sipil yang sah: kebebasan politik, keadilan, dan reformasi. Gelombang ini serupa dengan apa yang terjadi di Tunisia dan Mesir.

Namun, titik balik terjadi ketika gerakan sipil itu memasuki fase militerisasi. Sejak 2012, Suriah berubah dari ruang demonstrasi menjadi medan kontestasi geopolitik.

Program seperti Timber Sycamore—operasi rahasia yang melibatkan CIA dan sekutu regional—mengalirkan dana dan persenjataan dalam skala besar. Turki membuka akses bagi pejuang lintas negara, sementara Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mendukung faksi yang berbeda-beda.

Dampaknya jelas: kelompok moderat tersingkir. Yang tersisa adalah kekuatan bersenjata dengan ideologi keras—dari Jabhat al-Nusra hingga ISIS—yang mengubah konflik menjadi jauh lebih brutal dan tak terkendali.


Membedah Angka dan Narasi Korban

Angka 500.000 hingga 600.000 korban jiwa kerap digunakan sebagai alat propaganda—seolah seluruh korban adalah warga sipil Sunni yang dibantai oleh satu pihak.

Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks dan tidak hitam-putih:

  • Korban lintas pihak
    Banyak korban berasal dari tentara pemerintah dan milisi pro-rezim—yang ironisnya, sebagian besar juga berasal dari kalangan Sunni.
  • Kekejaman kelompok bersenjata non-negara
    ISIS dan faksi jihadis lainnya melakukan eksekusi massal, bom bunuh diri, serta pembersihan terhadap kelompok yang mereka anggap menyimpang.
  • Peran serangan udara internasional
    Kehancuran besar di kota-kota seperti Raqqa tidak hanya berasal dari satu aktor, melainkan juga dari operasi militer koalisi internasional.

Dengan demikian, menyederhanakan tragedi Suriah sebagai “pembantaian oleh satu pihak” bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan.


Gaza vs Suriah: Perbandingan yang Cacat Logika

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul upaya sistematis membenturkan Suriah dengan Gaza. Tujuannya jelas: mereduksi simpati terhadap perjuangan Palestina.

Logika yang dibangun tampak sederhana, tetapi cacat secara mendasar:

  • Jenis konflik yang berbeda
    Gaza adalah persoalan pendudukan dan penindasan terhadap rakyat yang tidak berdaulat.
    Suriah adalah perang saudara kompleks dengan keterlibatan banyak aktor eksternal.
  • Motif geopolitik yang tidak identik
    Setiap negara yang terlibat di Suriah memiliki kepentingan strategis masing-masing—bukan semata konflik mazhab.
  • Dampak strategis kawasan
    Hancurnya Suriah justru menciptakan ketidakseimbangan baru yang menguntungkan pihak-pihak tertentu di kawasan.

Menyamakan dua tragedi ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga berpotensi mengaburkan akar persoalan sebenarnya.


Antara Kritik terhadap Rezim dan Jebakan Sektarian

Tidak dapat dipungkiri, pemerintahan Bashar al-Assad memiliki catatan panjang dalam hal represi dan pelanggaran hak asasi. Kritik terhadap hal tersebut adalah sah dan perlu.

Namun, menjadikan tragedi Suriah sebagai alat untuk membenarkan kebencian berbasis mazhab adalah persoalan lain.

Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa konflik internal umat sering kali diperparah oleh narasi yang sengaja dipelihara—baik melalui media, mimbar, maupun kepentingan politik global.


Melampaui Polarisasi, Menemukan Kejujuran

Tragedi Suriah bukanlah cerita tentang satu pelaku dan satu korban. Ia adalah akumulasi dari banyak kesalahan:
rezim yang represif, oposisi yang terfragmentasi, serta intervensi asing yang memperkeruh keadaan.

Karena itu, memahami Suriah membutuhkan keberanian untuk keluar dari narasi hitam-putih.

Umat tidak akan pernah menemukan jalan keluar jika terus terjebak dalam dikotomi sempit yang mengabaikan realitas. Polarisasi hanya akan memperpanjang luka, sementara kejujuran—meski pahit—adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih utuh.


Penutup: Menjaga Kesadaran di Tengah Propaganda

Di era banjir informasi, propaganda tidak selalu tampil kasar. Ia sering hadir dalam bentuk narasi yang tampak logis, tetapi menyembunyikan kepentingan.

Suriah mengajarkan satu hal penting: bahwa konflik modern tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang persepsi.

Maka, kewaspadaan intelektual menjadi kunci. Bukan untuk membela siapa pun secara membabi buta, tetapi untuk memastikan bahwa kebenaran tidak dikorbankan demi kepentingan narasi.

Jika tidak, sejarah akan terus berulang—dan kita hanya akan menjadi penonton dari tragedi yang sama, dengan wajah yang berbeda.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kereta Wisata Pemandangan Gunung Fuji untuk Turis Asing Mulai Beroperasi

Next Post

Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

fusilat

fusilat

Related Posts

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka
Feature

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

March 25, 2026
Feature

Menonton Diri Sendiri: Antara Prosedur, Akhlak, dan Integritas Radikal

March 25, 2026
Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied
Birokrasi

Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

March 25, 2026
Next Post
Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

Menonton Diri Sendiri: Antara Prosedur, Akhlak, dan Integritas Radikal

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?
Law

TNI Sabotase Penegakan Hukum

by Karyudi Sutajah Putra
March 19, 2026
0

Jakarta-FusilatNews- Puspom TNI dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2026) menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengamanan terhadap empat orang dari Denma BAIS...

Read more
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Anwar “Mengaum”, Prabowo “Mengembik”

Anwar “Mengaum”, Prabowo “Mengembik”

March 16, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

March 25, 2026

Menonton Diri Sendiri: Antara Prosedur, Akhlak, dan Integritas Radikal

March 25, 2026
Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

Negara Wajib Jamin Hak Warga Beribadah, Meski Beda Waktu Salat Ied

March 25, 2026
Tragedi Suriah: Propaganda Sektarian di Tengah Perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Oleh: Nazaruddin

Tragedi Suriah: Propaganda Sektarian di Tengah Perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Oleh: Nazaruddin

March 25, 2026
Kereta Wisata Pemandangan Gunung Fuji untuk Turis Asing Mulai Beroperasi

Kereta Wisata Pemandangan Gunung Fuji untuk Turis Asing Mulai Beroperasi

March 20, 2026
Sap American Military Power: Erosi yang Tak Terlihat

Sap American Military Power: Erosi yang Tak Terlihat

March 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

Machiavelli dalam Cermin Indonesia 2026: Rubah dan Singa di Istana Merdeka

March 25, 2026

Menonton Diri Sendiri: Antara Prosedur, Akhlak, dan Integritas Radikal

March 25, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...