Ketika rezim Bashar al-Assad akhirnya runtuh pada 2024, dunia Islam tidak hanya menyaksikan perubahan kekuasaan, tetapi juga ledakan euforia sektarian yang terasa ganjil sekaligus berbahaya. Slogan seperti “Syiah telah kalah!” atau “Iran telah hancur!” menggema di media sosial, membentuk narasi yang tidak lahir dari empati, melainkan dari sentimen yang dipelihara.
Narasi itu kemudian dibenturkan dengan tragedi Gaza untuk membangun kesimpulan simplistik: “Jika Israel membantai puluhan ribu rakyat Gaza, maka Iran telah membantai ratusan ribu rakyat Suriah.”
Sebuah klaim yang terdengar meyakinkan, tetapi sesungguhnya menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Pertanyaannya: apakah Suriah semata panggung pembantaian sektarian, atau justru sebuah “laboratorium” perang proksi global—di mana hampir semua pihak memiliki andil dalam kehancuran?
Revolusi yang Dibajak: Dari Aspirasi ke Arena Global
Konflik Suriah yang pecah pada 2011 bermula dari tuntutan sipil yang sah: kebebasan politik, keadilan, dan reformasi. Gelombang ini serupa dengan apa yang terjadi di Tunisia dan Mesir.
Namun, titik balik terjadi ketika gerakan sipil itu memasuki fase militerisasi. Sejak 2012, Suriah berubah dari ruang demonstrasi menjadi medan kontestasi geopolitik.
Program seperti Timber Sycamore—operasi rahasia yang melibatkan CIA dan sekutu regional—mengalirkan dana dan persenjataan dalam skala besar. Turki membuka akses bagi pejuang lintas negara, sementara Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab mendukung faksi yang berbeda-beda.
Dampaknya jelas: kelompok moderat tersingkir. Yang tersisa adalah kekuatan bersenjata dengan ideologi keras—dari Jabhat al-Nusra hingga ISIS—yang mengubah konflik menjadi jauh lebih brutal dan tak terkendali.
Membedah Angka dan Narasi Korban
Angka 500.000 hingga 600.000 korban jiwa kerap digunakan sebagai alat propaganda—seolah seluruh korban adalah warga sipil Sunni yang dibantai oleh satu pihak.
Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks dan tidak hitam-putih:
- Korban lintas pihak
Banyak korban berasal dari tentara pemerintah dan milisi pro-rezim—yang ironisnya, sebagian besar juga berasal dari kalangan Sunni. - Kekejaman kelompok bersenjata non-negara
ISIS dan faksi jihadis lainnya melakukan eksekusi massal, bom bunuh diri, serta pembersihan terhadap kelompok yang mereka anggap menyimpang. - Peran serangan udara internasional
Kehancuran besar di kota-kota seperti Raqqa tidak hanya berasal dari satu aktor, melainkan juga dari operasi militer koalisi internasional.
Dengan demikian, menyederhanakan tragedi Suriah sebagai “pembantaian oleh satu pihak” bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan.
Gaza vs Suriah: Perbandingan yang Cacat Logika
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul upaya sistematis membenturkan Suriah dengan Gaza. Tujuannya jelas: mereduksi simpati terhadap perjuangan Palestina.
Logika yang dibangun tampak sederhana, tetapi cacat secara mendasar:
- Jenis konflik yang berbeda
Gaza adalah persoalan pendudukan dan penindasan terhadap rakyat yang tidak berdaulat.
Suriah adalah perang saudara kompleks dengan keterlibatan banyak aktor eksternal. - Motif geopolitik yang tidak identik
Setiap negara yang terlibat di Suriah memiliki kepentingan strategis masing-masing—bukan semata konflik mazhab. - Dampak strategis kawasan
Hancurnya Suriah justru menciptakan ketidakseimbangan baru yang menguntungkan pihak-pihak tertentu di kawasan.
Menyamakan dua tragedi ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga berpotensi mengaburkan akar persoalan sebenarnya.
Antara Kritik terhadap Rezim dan Jebakan Sektarian
Tidak dapat dipungkiri, pemerintahan Bashar al-Assad memiliki catatan panjang dalam hal represi dan pelanggaran hak asasi. Kritik terhadap hal tersebut adalah sah dan perlu.
Namun, menjadikan tragedi Suriah sebagai alat untuk membenarkan kebencian berbasis mazhab adalah persoalan lain.
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa konflik internal umat sering kali diperparah oleh narasi yang sengaja dipelihara—baik melalui media, mimbar, maupun kepentingan politik global.
Melampaui Polarisasi, Menemukan Kejujuran
Tragedi Suriah bukanlah cerita tentang satu pelaku dan satu korban. Ia adalah akumulasi dari banyak kesalahan:
rezim yang represif, oposisi yang terfragmentasi, serta intervensi asing yang memperkeruh keadaan.
Karena itu, memahami Suriah membutuhkan keberanian untuk keluar dari narasi hitam-putih.
Umat tidak akan pernah menemukan jalan keluar jika terus terjebak dalam dikotomi sempit yang mengabaikan realitas. Polarisasi hanya akan memperpanjang luka, sementara kejujuran—meski pahit—adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih utuh.
Penutup: Menjaga Kesadaran di Tengah Propaganda
Di era banjir informasi, propaganda tidak selalu tampil kasar. Ia sering hadir dalam bentuk narasi yang tampak logis, tetapi menyembunyikan kepentingan.
Suriah mengajarkan satu hal penting: bahwa konflik modern tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang persepsi.
Maka, kewaspadaan intelektual menjadi kunci. Bukan untuk membela siapa pun secara membabi buta, tetapi untuk memastikan bahwa kebenaran tidak dikorbankan demi kepentingan narasi.
Jika tidak, sejarah akan terus berulang—dan kita hanya akan menjadi penonton dari tragedi yang sama, dengan wajah yang berbeda.























