Fusilatnews – Pesan WhatsApp itu singkat, hampir brutal: “Kami harus cooling down (ES & DHL). Tapi tetap haram mediasi.” Dua kalimat yang seperti bertikai di meja redaksi—yang satu membawa pesan jeda, yang lain mengunci pintu rapat-rapat.
Eggy Sudjana, advokat yang kenyang menabrak arus, dan Damai Hari Lubis, penulis-lawyer yang meletakkan logika di atas seremoni, sedang menekan tombol pause. Bukan karena surut. Bukan karena takut. Tapi karena mereka paham, emosi yang dibiarkan mendidih terlalu lama akan mencari salurannya sendiri—dan tak jarang merembet menjadi kebakaran opini.
Dalam bahasa gaul, cooling down berarti menepi sejenak untuk meredakan gejolak, memberi jeda bagi kepala untuk kembali ke suhu normal. Tapi inilah paradoksnya: saat napas mulai ditata, prinsip justru dideklarasikan paling keras. Bagi Eggy dan Damai, jeda hanya berguna jika sikap tak ikut melunak.
Maka, cooling down bukan keluluhan, melainkan disiplin.
Sementara itu, stempel haram mediasi bukan sekadar larangan terminologis. Ini pagar, garis demarkasi yang menolak menjadikan rekonsiliasi sebagai panggung pihak ketiga. Mediasi, dalam praktik yang berkali-kali dipertontonkan di negeri ini, sering menjelma seremonial baru: bertele-tele di proses, loyo di hasil, dan beku di kepercayaan. Berdamai di notulen, bermusuhan di realitas.
Mereka menolak masuk ke ruang negosiasi formal bukan karena anti-damai, tapi karena muak pada solusi yang diracik oleh tangan yang mengaku netral, tapi jarang sepenuhnya steril dari agenda. Mediasi kerap hanya menurunkan nada, bukan suhu; memindahkan konflik dari lapangan terbuka ke lorong berpendingin, dengan ketegangan tetap sama, hanya volumenya yang diturunkan.
Bagi Eggy dan Damai, jika suatu hari percakapan dibuka kembali, itu akan terjadi tanpa moderator, tanpa risalah, tanpa koreografi “solusi bersama”. Karena kadang-kadang damai yang paling jujur bukan lahir dari meja bundar, melainkan dari percakapan dua kepala yang selesai dengan dirinya sendiri dulu.
Mereka sedang menepi, memberi ruang bagi akal sehat untuk bekerja kembali. Merawat kepala agar dingin, tanpa melelehkan tulang punggung sikap.
Karena kepala yang dingin memang perlu.
Tapi pendirian yang lumer? Bukan itu tujuan jeda ini.
Cooling down, iya. Mediasi, tetap jangan pernah.























