Fusilatnews – Tak ada suara mesin. Tak ada kabel listrik. Tak ada jejak aspal. Hanya bunyi dedaunan, gemericik sungai, dan langkah kaki tanpa alas.
Di pedalaman Lebak, Banten, waktu seolah berhenti. Namun justru di tempat yang dianggap “tertinggal” inilah tersimpan salah satu gagasan paling maju tentang masa depan bumi: spiritualitas ekologis.
Mereka adalah orang Baduy. Sebuah komunitas adat yang memilih hidup tanpa listrik, tanpa kendaraan, tanpa teknologi modern. Tetapi jangan buru-buru menyebut mereka primitif. Sebab yang mereka tolak bukan kemajuan, melainkan keserakahan peradaban.
Bagi orang Baduy, keyakinan bukan sekadar urusan langit. Ia adalah perjanjian etis dengan bumi.
Kepercayaan yang mereka anut—Sunda Wiwitan—mengajarkan bahwa Sang Hyang Kersa, penguasa semesta, menitipkan alam kepada manusia bukan untuk dieksploitasi, melainkan dijaga. Maka merusak hutan, mencemari sungai, atau memaksa tanah berproduksi berlebihan bukan sekadar kesalahan ekologis, tapi pelanggaran spiritual.
Filosofi itu termaktub dalam satu kalimat adat yang diwariskan lintas generasi:
Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak.
Gunung tak boleh dihancurkan. Lembah tak boleh dirusak.
Tidak ada kitab tertulis. Tidak ada doktrin rumit. Ajaran ditanamkan melalui laku hidup. Anak-anak Baduy tumbuh dengan kesadaran bahwa alam bukan objek, melainkan kerabat kosmis. Hutan adalah saudara tua. Sungai adalah urat nadi kehidupan. Tanah adalah rahim ibu.
Karena itulah mereka menolak menebang pohon sembarangan. Menolak bahan kimia pertanian. Menolak alas kaki agar kaki tetap merasakan denyut bumi. Bahkan menolak listrik agar malam tetap menjadi ruang sunyi bagi semesta bernapas.
Kesederhanaan yang mereka jalani bukan tanda kekurangan, tetapi disiplin spiritual. Tidak boleh berlebihan. Tidak boleh menumpuk. Tidak boleh serakah. Prinsip yang tampak asketis itu sesungguhnya adalah ekologi moral—sebuah rem bagi nafsu manusia.
Dalam struktur adat Baduy, Puun memegang otoritas tertinggi. Namun ia bukan raja, bukan penguasa, bukan politisi. Ia adalah penjaga keseimbangan dunia. Tugasnya memastikan titah leluhur tidak dilanggar, sebab bagi orang Baduy, jika adat rusak maka kosmos pun terguncang.
Setiap tahun, orang Baduy melakukan ritual Seba. Mereka berjalan kaki puluhan kilometer menuju pusat pemerintahan. Banyak yang mengira itu sekadar atraksi budaya. Padahal bagi mereka, Seba adalah laporan spiritual—sebuah pernyataan bahwa amanah menjaga bumi masih dijalankan. Bahwa masih ada manusia yang menolak merusak tanah tempat mereka berpijak.
Ironisnya, ketika dunia modern sibuk menggelar konferensi iklim, menyusun deklarasi hijau, dan berdebat tentang karbon, orang Baduy telah mempraktikkan etika ekologis itu selama ratusan tahun—tanpa seminar, tanpa proposal, tanpa slogan.
Mereka tidak memprotes. Tidak menggurui. Tidak memaksa dunia mengikuti mereka. Mereka hanya konsisten hidup dalam keyakinannya sendiri. Dan justru konsistensi itu yang menjadi kritik paling tajam bagi peradaban yang gemar mengeksploitasi alam sambil bicara tentang pembangunan berkelanjutan.
Di tengah krisis iklim global, banjir, longsor, kekeringan, dan hutan yang kian menyusut, suara Baduy terdengar lirih namun jernih:
bahwa iman sejati bukan seberapa sering manusia memuja Tuhan, tetapi seberapa jauh ia menjaga ciptaan-Nya.
Mungkin orang Baduy berjalan tanpa alas kaki.
Tetapi justru merekalah yang paling teguh berpijak pada bumi.
Dan mungkin, di masa depan, dunia yang terlalu jauh berlari akan sadar:
bahwa untuk menyelamatkan peradaban, manusia perlu belajar kembali berjalan pelan—seperti orang Baduy.
Baduy Singkat
1. Sunda Wiwitan sebagai dasar spiritual
Orang Baduy percaya kepada Sang Hyang Kersa (Yang Maha Berkehendak), kekuatan tertinggi yang menciptakan alam semesta. Mereka juga menghormati roh-roh leluhur yang diyakini tetap menjaga keseimbangan dunia.
Tidak ada kitab tertulis. Ajaran diwariskan lisan, melalui petuah adat dan keteladanan hidup.
2. Alam adalah titipan suci
Bagi Baduy, alam bukan objek eksploitasi, melainkan amanah sakral.
Merusak hutan, mengubah aliran sungai, atau mengambil hasil alam berlebihan dianggap melanggar titah leluhur.
Itulah sebabnya:
Mereka menolak listrik
Menolak kendaraan
Tidak memakai alas kaki
Tidak menebang hutan sembarangan
Semua demi menjaga keseimbangan kosmis.
3. Hidup sederhana adalah perintah spiritual
Kesederhanaan bukan soal kemiskinan, tapi laku spiritual.
Tidak boleh serakah.
Tidak boleh berlebihan.
Tidak boleh menonjolkan diri.
Filosofi mereka terkenal:
“Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak.”
(Gunung tak boleh diratakan, lembah tak boleh dirusak.)
4. Puun sebagai pemimpin adat sekaligus rohani
Tiga Puun di Baduy Dalam memegang otoritas spiritual tertinggi. Mereka bukan pemimpin politik, melainkan penjaga harmoni dunia menurut kepercayaan Baduy.
5. Ritual utama: Seba Baduy
Setiap tahun orang Baduy berjalan kaki puluhan kilometer ke pusat pemerintahan sebagai simbol:
Syukur kepada Sang Pencipta
Laporan bahwa adat dan alam masih terjaga
Ini bukan sekadar tradisi budaya, tapi ritual kosmologis.
























