Ketika para pemimpin dunia berkumpul di konferensi iklim, menandatangani deklarasi hijau, dan berjanji menekan emisi karbon, di pedalaman Lebak, Banten, sekelompok manusia berjalan tanpa alas kaki menyusuri hutan yang tetap utuh selama ratusan tahun.
Mereka tak membawa proposal. Tak mengutip laporan IPCC. Tak berbicara tentang net zero emission. Namun mereka menjalankan sesuatu yang kini menjadi obsesi global: menyelamatkan ekosistem.
Mereka adalah orang Baduy.
Dan keyakinan mereka telah lama mempraktikkan apa yang dunia baru mulai sadari.
Di saat negara-negara maju berlomba merumuskan kebijakan hijau, orang Baduy sudah memegang satu doktrin sederhana:
Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak.
Gunung tak boleh dihancurkan. Lembah tak boleh dirusak.
Bagi mereka, ini bukan slogan lingkungan. Ini adalah perintah spiritual. Kepercayaan Sunda Wiwitan mengajarkan bahwa Sang Hyang Kersa menitipkan alam kepada manusia untuk dijaga, bukan dieksploitasi. Maka merusak hutan bukan sekadar pelanggaran hukum adat, tetapi dosa kosmis.
Kesadaran inilah yang membuat Baduy menolak listrik, menolak kendaraan, menolak bahan kimia pertanian, dan menolak gaya hidup konsumtif. Mereka membatasi kebutuhan agar alam tidak dipaksa melampaui kemampuannya. Di tengah dunia yang mengukur kemajuan lewat konsumsi energi, orang Baduy justru mengukur kesalehan lewat jejak yang nyaris tak meninggalkan luka di bumi.
Ironisnya, peradaban modern baru tersentak ketika krisis datang: suhu global naik, laut meninggi, hutan terbakar, dan bencana ekologis berulang. Dunia kemudian melahirkan istilah-istilah baru: sustainability, green economy, circular economy, environmental ethics. Semua konsep itu kini menjadi tren global. Tetapi di Baduy, prinsip-prinsip tersebut telah menjadi laku hidup lintas generasi, tanpa istilah asing, tanpa konferensi internasional.
Ritual Seba Baduy yang setiap tahun membawa mereka berjalan kaki menuju pusat pemerintahan sering dianggap sekadar atraksi budaya. Namun sejatinya, itu adalah simbol kontrak ekologis: laporan kepada dunia luar bahwa masih ada komunitas yang setia menjaga titipan bumi.
Puun, pemimpin adat Baduy, tidak merancang kebijakan publik. Ia merawat keseimbangan kosmos. Sebab bagi orang Baduy, jika alam rusak maka manusia kehilangan tempat berpijak, dan kehidupan kehilangan arah.
Dunia hari ini tengah mencari model pembangunan yang ramah lingkungan. Para akademisi menyusun teori ekoteologi. Aktivis mengkampanyekan hak alam. Negara merumuskan regulasi hijau. Tetapi jauh sebelum semua itu, orang Baduy telah mengajarkan satu hal mendasar: mengurangi hasrat adalah cara paling efektif menyelamatkan ekosistem.
Mereka tidak menolak modernitas karena takut perubahan. Mereka menolak modernitas yang rakus. Dan dalam penolakan itulah tersimpan pesan penting bagi peradaban: bahwa tidak semua yang maju layak diikuti, dan tidak semua yang sederhana berarti tertinggal.
Di masa ketika dunia berlomba menyelamatkan bumi dari kehancuran, keyakinan orang Baduy berdiri sebagai arsip hidup kearifan ekologis. Sebuah bukti bahwa solusi krisis ekosistem tidak selalu datang dari teknologi tinggi, tetapi bisa lahir dari kerendahan hati manusia pada alam.
Barangkali suatu hari, ketika kota-kota megapolitan tenggelam oleh banjir dan hutan terakhir habis ditebang, manusia akan menoleh ke pedalaman Banten dan menyadari:
bahwa mereka yang dulu disebut primitif, justru paling mengerti cara bertahan hidup di planet ini.
























