Oleh: Ali Syarief
Di negeri ini, berpikir sudah menjadi aktivitas yang mencurigakan. Terlalu banyak bertanya dianggap berbahaya, terlalu kritis dicap tidak sopan, dan terlalu logis bisa-bisa dituduh “kurang nasionalis.” Maka lahirlah satu fenomena yang patut kita abadikan dalam kamus sosial: promotieus shame—malu karena tidak bisa berpikir, tapi lebih malu lagi kalau ketahuan tidak ikut arus.
Lucunya, rasa malu ini tidak pernah benar-benar muncul di permukaan. Ia bersembunyi di balik kepercayaan diri yang meledak-ledak. Orang tidak tahu, tapi bicara seolah-olah paling tahu. Tidak paham, tapi berdebat seperti profesor. Dan yang paling spektakuler: tidak membaca, tapi mengomentari dengan penuh gairah, seakan-akan buku itu yang salah karena terlalu tebal.
Kita hidup di zaman di mana forward WhatsApp lebih dipercaya daripada riset ilmiah. Di mana video 30 detik lebih sakral daripada buku 300 halaman. Dan di mana logika sering kalah oleh “katanya.” Siapa “katanya”? Tidak jelas. Tapi entah kenapa, “katanya” selalu lebih meyakinkan daripada data.
Inilah panggung megah bagi manusia-manusia yang otaknya diparkir, tapi mulutnya tetap touring keliling kampung.
Fenomena ini bukan soal kebodohan. Jangan salah. Banyak dari mereka berpendidikan, bahkan bergelar. Tapi gelar rupanya tidak selalu menjamin keberanian berpikir. Kadang, ia hanya menjadi aksesori sosial—seperti dasi di leher yang dipakai saat acara resmi, tapi dilepas begitu pulang ke rumah.
Masalah utamanya bukan tidak bisa berpikir. Masalahnya adalah tidak mau repot berpikir.
Berpikir itu melelahkan. Ia butuh waktu, butuh keraguan, butuh keberanian untuk mengakui bahwa kita bisa salah. Sementara mengikuti arus itu nyaman. Tinggal ikut, angguk-angguk, dan selesai. Tidak perlu konflik, tidak perlu risiko. Yang penting aman.
Aman dari apa? Dari dikucilkan. Dari dianggap berbeda. Dari dituduh “aneh.”
Padahal sejarah tidak pernah ditulis oleh orang-orang yang aman-aman saja.
Coba kita lihat, betapa seringnya seseorang mengubah pendapat bukan karena argumen yang lebih kuat, tapi karena tekanan sosial yang lebih besar. Bukan karena tercerahkan, tapi karena takut sendirian. Di titik ini, promotieus shame berubah wujud: bukan lagi malu karena tidak berpikir, tapi malu karena berpikir sendiri.
Dan ini lebih berbahaya.
Karena ketika masyarakat lebih takut berbeda daripada salah, kebenaran tidak lagi penting. Yang penting adalah keseragaman. Semua harus sama, semua harus sepakat, bahkan jika yang disepakati itu keliru.
Kita akhirnya menjadi bangsa yang rajin menghafal, tapi malas memahami. Yang cepat bereaksi, tapi lambat merenung. Yang fasih berkomentar, tapi gagap dalam argumentasi.
Ironisnya, orang yang benar-benar berpikir justru sering dianggap mengganggu. Mereka yang bertanya dianggap cerewet. Yang mengkritik dianggap pembangkang. Yang berbeda dianggap ancaman.
Padahal tanpa mereka, kita hanya akan menjadi paduan suara tanpa nada—ramai, tapi kosong.
Maka, jika hari ini Anda merasa sedikit tidak nyaman karena mulai berpikir, selamat. Itu tanda otak Anda belum pensiun. Dan jika Anda mulai merasa ragu terhadap apa yang selama ini Anda yakini, jangan panik. Itu bukan kelemahan. Itu justru tanda bahwa Anda sedang hidup sebagai manusia, bukan sekadar gema.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar memalukan bukanlah tidak tahu.
Yang memalukan adalah tidak mau tahu, tapi tetap merasa paling tahu.
Dan di negeri yang alergi berpikir ini, mungkin itulah bentuk keberanian terakhir: berani menggunakan akal sehat.

Oleh: Ali Syarief






















