Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah apa yang berkecamuk dalam benak Prabowo Subianto ketika Presiden RI ini mengetahui gugurnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan tentara Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026).
Di saat pemimpin negara-negara lain menyampaikan belasungkawa di satu pihak, dan di pihak lain mengecam aksi barbar tentara AS dan Israel, sejauh ini Prabowo hanya diam seribu bahasa.
Tak ada ucapan belasungkawa untuk Khamenei dan rakyat Iran. Pun tak ada kecaman buat Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu serta tentara kedua negara.
Yang ada, Prabowo melalui Kementerian Luar Negeri RI menawarkan diri sebagai mediator konflik AS-Israel versus Iran. Itu pun disampaikan sebelum AS-Israel menyerang Iran secara barbar yang mengakibatkan Ayatollah Ali Khamenei gugur. Selebihnya, Prabowo diam seribu bahasa.
Apa yang dilakukan AS-Israel itu jelas melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang kedaulatan dan integritas wilayah suatu negara.
Pun melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan yang berlaku universal, apalagi sampai merenggut nyawa rakyat yang tak berdosa di Iran.
Seturut tata krama internasional, seorang kepala negara/kepala pemerintahan suatu negara selayaknya menyampaikan pernyataan belasungkawa ketika ada pemimpin negara lain yang punya hubungan diplomatik meninggal dunia. Tak terkecuali Iran bagi Indonesia.
Sebaliknya, aksi militer suatu negara yang melanggar Piagam PBB, hukum internasional dan norma kemanusiaan global semestinya mendapat kecaman dari negara yang menilai bahwa aksi militer tersebut salah.
Tapi apa lacur? Prabowo sepengetahuan penulis sejauh ini belum menyampaikan ucapan belasungkawa atau dukacita atas gugurnya Imam Khamenei.
Di pihak lain, Prabowo sejauh ini juga belum terdengar melontarkan kecaman kepada AS dan Israel. Mengapa?
Mungkin Prabowo masih galau. Apalagi, inisiatifnya untuk menjadi mediator konflik AS-Israel versus Iran ditolak, baik oleh Iran maupun oleh AS.
Duta Besar Iran untuk Indonesia di Jakarta, Senin (2/3/2026), mengaku mengapresiasi tawaran dari Indonesia. Tapi ia menolak tawaran tersebut secara halus, karena bagi Iran tak ada negosiasi apa pun dengan AS dan Israel pasca-gugurnya Khamenei.
Presiden Donald Trump pun secara implisit telah menolak tawaran Prabowo, karena sosok yang oleh sebagian orang disebut Dajjal ini menyatakan akan terus menyerang Iran sampai perang berakhir yang ia targetkan dua minggu.
Menyampaikan bela sungkawa untuk Iran? Mungkin Prabowo takut akan dimusuhi AS.
Mengacami aksi militer AS-Israel? Lagi-lagi, mungkin Prabowo takut dimusuhi AS.
Akibat ketakutan terhadap AS dan Trump itulah, sampai-sampai Prabowo membawa Indonesia masuk Board of Peace yang diinisiasi Trump.
Prabowo juga mau menandatangani Agreement on Reciprocal Trade atau Perjanjian Perdagangan Timbal-balik RI-AS yang isinya banyak merugikan Indonesia di satu pihak dan menguntungkan AS di pihak lain.
Sebab itu, jangankan menyanpaikan ucapan belasungkawa untuk Iran, dan mengecam aksi biadab tentara AS-Israel, menggadaikan kedaulatan negerinya saja Prabowo mau lakukan. Mungkin ia berprinsip, “If you can’t beat them, join them.”
Kini, Prabowo ibarat berada di antara ketiak Trump. Kalau sudah begini, bagaimana bisa Prabowo berpikir dan bersikap merdeka?
Alhasil, harap maklum jika tak ada ungkapan belasungkawa dari Prabowo untuk rakyat Iran yang sedang berduka meratapi gugurnya Ayatollah Ali Khamenei.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















