• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Bangsa Ini Tak Mau Lepas dari Kejahiliyahan

Ali Syarief by Ali Syarief
January 15, 2026
in Feature, Politik
0
Bangsa Ini Tak Mau Lepas dari Kejahiliyahan
Share on FacebookShare on Twitter

Ada pertanyaan yang makin sering terdengar di ruang publik kita belakangan ini:
apakah Indonesia sungguh sudah keluar dari masa gelapnya, atau justru sedang berjalan pulang ke sana dengan langkah yang lebih rapi?

Kejahiliyahan dalam konteks ini tentu bukan soal agama semata. Ia adalah metafora bagi suatu keadaan: ketika kekuasaan berjalan tanpa kendali, hukum tunduk pada kuasa, akal sehat dikalahkan oleh kultus individu, dan publik kehilangan daya kritisnya. Sebuah fase di mana negara ada, tetapi keadilan absen. Demokrasi hadir, tetapi kedaulatan rakyat semu. Reformasi dikumandangkan, tetapi korupsi tetap menjadi bahasa sehari-hari kekuasaan.

Lebih dari seperempat abad sejak reformasi 1998, kita patut bertanya dengan jujur:
mengapa bangsa ini seperti enggan benar-benar meninggalkan fase itu?


Sudah Semua Tipe Pemimpin Dicoba

Sejarah Indonesia modern adalah laboratorium kepemimpinan yang nyaris lengkap.

Kita pernah dipimpin oleh seorang orator revolusioner yang memikat dunia, tetapi menutup babak kekuasaannya dengan ekonomi yang runtuh dan demokrasi yang dibekukan. Kita pernah diperintah seorang jenderal yang menjanjikan ketertiban, tetapi membayar stabilitas dengan otoritarianisme dan korupsi sistemik. Kita pernah dipimpin teknokrat jenius yang membuka pintu demokrasi, namun terhalang waktu yang terlalu singkat. Kita pernah memilih ulama-humanis yang tulus, tetapi dihantam intrik politik. Kita pernah dipimpin nasionalis pewaris sejarah, namun kehilangan daya dobrak reformasi. Kita pernah menyerahkan mandat pada intelektual santun yang memoles demokrasi prosedural, tapi gagal memutus mata rantai korupsi partai. Kita bahkan pernah mempercayakan kekuasaan pada figur populis dari luar lingkaran elite, yang datang membawa janji kesederhanaan, namun pergi meninggalkan jejak konsolidasi kekuasaan dan nepotisme yang telanjang.

Militer, sipil, ulama, teknokrat, intelektual, populis — semua sudah dicoba.

Dan anehnya, narasi akhir setiap periode hampir selalu sama:
harapan besar, hasil terbatas, luka lama yang tak pernah sembuh.

Jika semua jenis aktor sudah naik panggung, lalu kegagalan tetap berulang, maka masalahnya bukan semata siapa yang memimpin — tetapi bagaimana kekuasaan itu dirancang dan diawasi.


Konstitusi yang Tak Pernah Tenang

Bangsa yang ajeg memerlukan fondasi yang ajeg. Tetapi Indonesia bahkan tidak pernah benar-benar tenang dalam urusan konstitusi.

Sejak merdeka, kita berganti UUD beberapa kali. Dari UUD 1945, Konstitusi RIS, UUDS 1950, kembali ke UUD 1945 lewat dekrit. Lalu di era reformasi, UUD 1945 diamandemen empat kali. Sebuah operasi besar-besaran terhadap fondasi negara, dengan dalih memperkuat demokrasi, membatasi kekuasaan, dan menjamin hak rakyat.

Dua dekade berlalu. Kini muncul wacana:
kembali ke UUD sebelum amandemen.

Ironi ini sulit disembunyikan. Kita membongkar rumah, membangun ulang dengan penuh euforia, lalu suatu hari sadar bahwa desainnya pun bermasalah — dan ingin kembali ke rumah lama yang dulu justru dianggap sumber masalah.

Jika konstitusi saja diperlakukan seperti pakaian yang bisa diganti sesuai selera kekuasaan, bagaimana mungkin negara ini memiliki kepastian arah?


Reformasi yang Menyusut

Reformasi lahir dengan tiga janji utama:
membatasi kekuasaan, memberantas KKN, dan menegakkan supremasi hukum.

Namun hari ini, yang terlihat justru gejala sebaliknya:

Kekuasaan kembali terkonsentrasi.
Lembaga pengawas dilemahkan.
Hukum menjadi lentur pada kehendak penguasa.
Nepotisme tak lagi sembunyi-sembunyi, tetapi dipertontonkan tanpa rasa malu.
Partai politik berubah menjadi kendaraan oligarki.
Dan rakyat — perlahan — kembali diposisikan sebagai penonton.

Kejahiliyahan modern tidak lagi datang dengan sepatu lars dan larangan keras. Ia datang dengan senyum populis, regulasi yang rapi, dan jargon pembangunan. Ia legalistik, administratif, dan karena itu lebih sulit dilawan.

Dulu kekuasaan menindas dengan tangan besi.
Kini ia merangkul sambil mengunci.


Demokrasi Tanpa Akhlak Publik

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan prosedur demokrasi. Pemilu rutin berjalan. Partai berjubel. Debat publik ramai. Media sosial hiruk-pikuk.

Tetapi demokrasi prosedural tanpa etika publik hanya melahirkan politik transaksional. Jabatan dibeli. Dukungan dinegosiasikan. Prinsip digadaikan. Ideologi dilipat. Kepentingan rakyat menjadi slogan, bukan orientasi.

Di titik ini, demokrasi kehilangan ruhnya. Ia hanya panggung kompetisi elite, sementara rakyat dijadikan legitimasi lima tahunan.

Inilah kejahiliyahan politik:
ketika kekuasaan tidak lagi malu pada penyimpangan,
dan publik pelan-pelan diajak berdamai dengan itu.


Budaya Tunduk pada Figur

Lebih dalam lagi, persoalan kita bukan sekadar institusi, tetapi budaya politik. Bangsa ini masih terlalu percaya pada figur, terlalu sedikit percaya pada sistem. Kita menunggu “pemimpin ideal”, bukan memperjuangkan mekanisme pembatas kekuasaan.

Akibatnya, setiap pemilu berubah menjadi kontes penyelamat. Setiap presiden baru dipikul dengan ekspektasi messianik. Dan ketika ia gagal, kekecewaan kolektif pun berulang.

Negara yang sehat tidak bergantung pada kebajikan pribadi pemimpinnya.
Ia berdiri di atas sistem yang membuat bahkan pemimpin buruk pun tidak bisa berbuat terlalu jauh.

Sayangnya, sistem semacam itu belum sungguh-sungguh kita bangun.


Kejahiliyahan yang Kita Rawat Sendiri

Yang paling menyedihkan: kejahiliyahan ini tidak hanya diproduksi elite. Ia dipelihara oleh sikap permisif publik. Kita marah sebentar, lalu lupa. Kita gaduh di media sosial, lalu diam ketika kebijakan disahkan. Kita mengkritik korupsi, tetapi ikut merayakan politik uang saat pemilu.

Maka kejahiliyahan modern ini bukan sekadar warisan kekuasaan, tetapi kolaborasi diam-diam antara elite yang rakus dan publik yang pasrah.


Masih Ada Jalan Keluar

Namun bangsa ini belum terlambat. Energi kritis masih ada. Civil society masih hidup. Media independen masih bertahan. Mahasiswa masih bersuara. Rakyat masih punya naluri keadilan.

Syaratnya hanya satu:
berhenti bertaruh pada figur, dan mulai bertaruh pada pembenahan institusi, supremasi hukum, dan etika publik.

Tanpa itu, kita akan terus memutar sejarah:
berganti presiden, berganti jargon, berganti konstitusi —
namun tetap berada di padang kejahiliyahan yang sama, hanya dengan dekorasi berbeda.


Epilog

Sejarah bangsa besar bukan ditentukan oleh seberapa sering ia berganti pemimpin, tetapi seberapa kuat ia membangun pagar pembatas kekuasaan.

Kejahiliyahan bukan takdir.
Ia adalah pilihan — yang disadari atau dibiarkan.

Dan pertanyaannya kini sederhana:

apakah bangsa ini sungguh ingin keluar darinya,
atau merasa terlalu nyaman hidup di dalamnya?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

PEMILIHAN LANGSUNG ADALAH DEMOKRASI POST-TRUTH: PENIPUAN TERHADAP RAKYAT

Next Post

Bagaimana Orang Jepang Membaca Orang Indonesia — dan Bagaimana Orang Indonesia Membaca Orang Jepang: Sebuah Perspektif Cross-Cultural

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat
Economy

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran
Economy

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia
Feature

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
Next Post
Bagaimana Orang Jepang Membaca Orang Indonesia — dan Bagaimana Orang Indonesia Membaca Orang Jepang: Sebuah Perspektif Cross-Cultural

Bagaimana Orang Jepang Membaca Orang Indonesia — dan Bagaimana Orang Indonesia Membaca Orang Jepang: Sebuah Perspektif Cross-Cultural

Meraih Gelar CDCE: Bukan Gaya, Melainkan Profesionalisme

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
AOTS: Online Seminar (Subsidized Program)

“AOTS E-Newsletter” is published by the Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS)

February 27, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Prabowo Mulai Tinggalkan Gibran? Ibarat Orang Buta yang Tiba-tiba Matanya Awas Lagi

February 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...