Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah apa yang berkecamuk dalam benak Natalius Pigai sehingga Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) itu berani-beraninya menyatakan siapa yang mau meniadakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) berarti menentang HAM.
HAM rakyat kecil atau rakyat miskin yang beroleh manfaat dari MBG dan KMP, katanya.
Apa yang disampaikan Pigai itu sungguh jenaka. Bahkan lebih jenaka dari banyolan yang kerap dilontarkan badut-badut.
Pigai memang sudah lama menjadi badut politik di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto “berkat” pernyataan-pernyataannya yang kocak.
Saat melantik jajaran pejabatnya 31 Desember 2024 lalu, misalnya, Pigai mengaku sudah 13 tahun menduda alias tak punya istri. Namun, selama itu pula dirinya punya tiga orang pacar. ‘Tiga pacar, Bos,” ujarnya sambil mengangkat tiga jarinya.
Ungkapan punya tiga pacar dari seorang pejabat publik di ranah publik itu bukanlah sesuatu yang lazim di negeri ini. Akan tetapi, Pigai mengungkapkannya dengan ekspresi bangga sambil sedikit tertawa. Di sinilah tingkah Pigai terlihat jenaka.
Lebih jenaka lagi, bagaimana bisa kebijakan pemerintah seperti MBG dan KMP tak boleh dikritik? Bahkan para pengkritiknya seperti Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Tiyo Ardianto dibilang menentang HAM dan tak punya hati nurani? Hanya orang-orang jenaka yang punya logika semacam itu.
Adalah hak setiap warga negara untuk mengkritik apa pun kebijakan pemerintah. Sebab rakyat membayar pajak untuk membayar gaji pejabat pemerintah, termasuk menteri dan presiden. Apalagi kebijakan pemerintah yang sarat kontroversi seperti MBG dan KMP.
Anggaran MBG yang super jumbo ternyata diambil dari anggaran pendidikan pula. Banyak kasus keracunan akibat MBG. MBG juga patut diduga sebagai ajang korupsi berjemaah yang menguntungkan mereka yang punya akses ke kekuasaan.
KMP juga akan menyerobot anggaran Dana Desa. Apalagi demi KMP pemerintah akan mengimpor 105 ribu mobil pikap dari India.
Artinya, MBG dan KMP bukan kebijakan tanpa cela yang tidak boleh dikritik, lalu yang mengkritik dikatakan menentang HAM. Sungguh kocak Natalius Pigai.
Badut Politik Lain
Selain Pigai, masih ada badut-badut politik lain di KMP. Sebut saja Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Pangan. Saat mengunjungi korban banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu memanggul sekarung beras sambil divideokan dan diiringi sejumlah stafnya. Video itu kemudian viral.
Kok tega-teganya bekas Menteri Kehutanan yang kebijakan-kebijakannya dituding sebagai penyebab banjir bandang di tiga provinsi di Sumatera itu mengais simpati publik di tengah bencana? Apalagi kalau bukan demi popularitas.
Di tengah penanganan bencana banjir bandang di Sumatera, bekas Ketua MPR itu juga terlihat makan enak sambil mengisap sebatang cerutu mahal kesukaannya. Hanya orang-orang jenaka yang sanggup melakukan semua itu.
Akan tetapi, Natalius Pigai dan Zulkifli Hasan tak perlu berkecil hati. Banyak studi yang membuktikan bahwa kecerdasan atau intelektualitas badut, pelawak, komedian atau komika, ternyata jauh di atas rata-rata manusia pada umumnya.
Jadi, tingkah laiknya badut di kabinet silakan lanjutkan saja. Publik banyak yang merasa terhibur dengan tingkah kalian sebagai pejabat publik di ranah publik.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















