• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

REALISME TUNTUTAN MAHASISWA

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
June 14, 2026
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Mahasiswa selalu memiliki tempat penting dalam sejarah politik Indonesia. Mereka bukan hanya kelompok usia muda yang sedang belajar di kampus, melainkan bagian dari nurani publik yang berkali-kali tampil ketika negara dianggap terlalu jauh dari rakyat. Karena itu, setiap demonstrasi mahasiswa sebaiknya tidak buru-buru diremehkan. Di balik slogan yang keras, biasanya ada kegelisahan yang perlu didengar.

Namun mendengar tidak berarti membenarkan semua diagnosis. Menghormati mahasiswa tidak berarti menerima setiap tuntutan sebagai kebenaran. Justru karena mahasiswa memiliki posisi moral yang penting, tuntutan mereka harus diuji dengan ukuran yang lebih tinggi: apakah sesuai dengan kenyataan, apakah tepat sasaran, dan apakah membantu rakyat yang mereka bela.

Dalam demonstrasi terakhir, mahasiswa mengangkat slogan “Indonesia Bangkrut” dan menyerukan penurunan harga BBM, penurunan harga kebutuhan pokok, penghentian MBG, penghentian Koperasi Desa Merah Putih, serta penghentian militerisme. Secara politik, slogan itu mudah menyala. Ia pendek, keras, dan menggugah emosi. Tetapi sebagai diagnosis ekonomi, slogan itu bermasalah.

Indonesia tidak sedang bangkrut. Inflasi Mei 2026 menurut BPS berada pada angka 3,08 persen year-on-year. Angka ini menunjukkan adanya tekanan harga, tetapi bukan ledakan harga nasional, apalagi tanda kebangkrutan negara. (Badan Pusat Statistik Indonesia) Bank Dunia juga masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sekitar 5 persen, meskipun memberi peringatan tentang tekanan fiskal yang meningkat. (Reuters) Dengan kata lain, ekonomi Indonesia menghadapi tekanan, tetapi tidak berada dalam keadaan kolaps.

Di sinilah letak persoalannya. Mahasiswa tampaknya menangkap adanya kegelisahan publik, tetapi menunjuk pada realitas yang tidak sepenuhnya tepat. Mereka melihat rupiah melemah dan pasar saham tertekan, lalu menyimpulkannya sebagai tanda Indonesia bangkrut. Padahal rupiah dan saham memang realitas, tetapi bukan seluruh realitas. Ia terutama tentang realitas sistem keuangan: realitas investor, portofolio, ekspektasi, kepanikan, dan narasi pasar.

Pasar keuangan bukan cermin yang netral. Ia bukan sekadar memantulkan keadaan ekonomi, tetapi juga membentuk keadaan melalui persepsi. Ketika sebuah narasi diulang terus-menerus—bahwa kebijakan negara terlalu populis, belanja sosial terlalu besar, intervensi negara terlalu kuat, atau arah fiskal terlalu berisiko—pasar dapat bergerak mendahului kenyataan. Investor menjual, rupiah turun, saham melemah, lalu pelemahan itu dipakai sebagai bukti bahwa narasi tadi benar. Inilah lingkaran persepsi yang bisa menjadi kenyataan pasar.

Karena itu, penurunan rupiah dan harga saham memang tidak boleh diabaikan. Tetapi ia juga tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran untuk menyatakan bangsa ini bangkrut. Laporan internasional memang mencatat tekanan terhadap rupiah, pasar saham, dan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. (Reuters) Namun tekanan pasar tidak otomatis berarti kapasitas negara runtuh. Lebih tepat dikatakan: Indonesia sedang menghadapi perang persepsi ekonomi, bukan kebangkrutan nasional.

Tuntutan menurunkan harga BBM juga perlu diperiksa dengan tenang. Yang naik adalah BBM nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green, sementara Pertalite tetap berada pada harga Rp10.000 per liter. (detikfinance) Ini penting karena Pertalite adalah BBM yang lebih banyak digunakan masyarakat bawah dan menengah bawah. Kalau yang naik adalah Pertamax, maka dampaknya tentu ada, tetapi tidak sama dengan kenaikan harga BBM rakyat secara umum.

Di sini tuntutan mahasiswa menjadi kabur. “Turunkan harga BBM” terdengar seperti pembelaan terhadap rakyat kecil. Tetapi BBM mana yang dimaksud? Jika yang dimaksud Pertalite, faktanya harga itu masih ditahan. Jika yang dimaksud adalah Pertamax, maka tuntutan itu lebih banyak menyentuh kelas menengah pengguna kendaraan pribadi. Tentu kelas menengah juga bagian dari rakyat. Tetapi menyamakan kenaikan Pertamax dengan pukulan langsung terhadap rakyat miskin adalah pembacaan yang kurang teliti.

Hal serupa berlaku pada isu harga kebutuhan pokok. Dalam kehidupan sehari-hari, selalu mungkin ada harga tertentu yang naik: cabai, beras, telur, bawang, minyak goreng, atau ongkos distribusi. Rakyat bisa merasakan tekanan yang berbeda dari angka statistik nasional. Tetapi bila klaimnya adalah bahwa harga-harga telah melonjak secara umum, data inflasi nasional belum mendukung kesimpulan itu. Inflasi 3,08 persen bukan angka krisis.

Masalah rakyat hari ini mungkin bukan semata kenaikan harga, melainkan gabungan antara pendapatan yang belum cukup, lapangan kerja yang tidak stabil, beban pendidikan, cicilan rumah tangga, biaya kesehatan, dan ketimpangan akses ekonomi. Kalau itu masalahnya, maka tuntutannya harus lebih tajam: perluasan kerja produktif, perlindungan daya beli, penguatan pangan lokal, perbaikan distribusi, dan peningkatan pendapatan rakyat. Bukan sekadar menyebut semua keadaan sebagai tanda “Indonesia bangkrut”.

Isu MBG atau Makan Bergizi Gratis juga harus diletakkan secara adil. Kritik terhadap MBG selama ini lebih banyak menyangkut tata-laksana: kualitas makanan, pengawasan dapur, rantai pasok, potensi korupsi, distribusi yang tidak tepat sasaran, risiko makanan basi, kasus keracunan, dan pemborosan. Itu semua kritik yang sah. Bahkan harus diterima sebagai mekanisme koreksi.

Tetapi kritik tata laksana berbeda dari penolakan terhadap tujuan. Tujuan MBG adalah memperbaiki gizi anak, terutama anak-anak dari keluarga miskin. Di banyak desa, puluhan juta siswa miskin masih membutuhkan dukungan pangan yang layak. Bagi sebagian anak, makanan di sekolah bukan tambahan kecil, melainkan bagian penting dari asupan hariannya. Menghentikan MBG secara total berarti menghentikan bantuan yang justru sedang dibutuhkan oleh kelompok paling rentan.

Maka tuntutan yang lebih realistis bukan menghentikan MBG, melainkan membenahinya. Perlu audit pelaksanaan. Perlu pengawasan mutu. Perlu sistem kendali makanan. Perlu keterlibatan petani, nelayan, koperasi, dan usaha lokal agar MBG tidak menjadi proyek katering besar yang dikuasai pemain tertentu. Perlu prioritas kepada daerah miskin, bukan pemerataan administratif yang mengabaikan kebutuhan. Perlu transparansi anggaran dan hukuman keras terhadap korupsi.

Dengan kata lain, MBG jangan dihentikan. MBG harus diselamatkan dari tata laksana yang buruk. Sebab program sosial yang baik bisa gagal bukan karena tujuannya salah, tetapi karena pelaksanaannya lemah.

Hal yang sama berlaku pada Koperasi Desa Merah Putih. Gagasan koperasi desa dapat menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi rakyat. Desa tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk kota atau sumber tenaga kerja murah. Desa harus menjadi pusat produksi, distribusi, penyimpanan, pengolahan, dan pembiayaan rakyat. Dalam arti itu, koperasi desa dapat menjadi instrumen untuk mengubah rakyat dari konsumen pasif menjadi produsen aktif.

Tetapi bahaya KDMP juga nyata. Bila koperasi dibentuk tergesa-gesa dari atas, dikendalikan elite lokal, dijadikan saluran proyek, atau menjadi alat mobilisasi politik, maka ia tidak akan menjadi koperasi rakyat. Ia hanya akan menjadi birokrasi baru di desa. Karena itu kritik mahasiswa diperlukan. Namun lagi-lagi, kesimpulannya bukan menghentikan gagasan koperasi desa, melainkan memastikan agar koperasi benar-benar dimiliki anggota, diaudit secara terbuka, dan tidak dijadikan kendaraan rente.

Tuntutan menghentikan militerisme memiliki dasar yang lebih politis. Kekhawatiran terhadap meningkatnya peran militer atau purnawirawan dalam urusan sipil tidak boleh diremehkan. Indonesia memiliki pengalaman panjang ketika fungsi pertahanan melebar menjadi dominasi politik. Karena itu mahasiswa benar bila mengingatkan agar ruang sipil tetap dijaga.

Namun di sini pun perlu pembedaan. Menggunakan kapasitas organisatoris militer secara terbatas dalam operasi tertentu tidak sama dengan mengembalikan militer sebagai kekuatan politik dominan. Yang harus ditolak adalah militerisasi permanen atas ranah sipil, bukan setiap bentuk keterlibatan teknis orang-orang berlatar belakang militer. Negara boleh membutuhkan disiplin eksekusi, tetapi demokrasi membutuhkan batas, kontrol, dan akuntabilitas.

Masalah terbesar dari tuntutan mahasiswa kali ini bukan karena mereka tidak peduli kepada rakyat. Justru mereka peduli. Masalahnya adalah sebagian tuntutan mereka belum dikerjakan dengan ketelitian yang memadai. Mereka memakai bahasa penderitaan rakyat, tetapi sebagian bukti yang dipakai justru berasal dari kegelisahan pasar. Mereka berbicara tentang beban rakyat kecil, tetapi menunjuk pada kenaikan Pertamax yang lebih banyak dikonsumsi oleh kelas menengah. Mereka menyebut harga-harga naik, tetapi angka inflasi nasional masih normal. Mereka menolak MBG, padahal yang bermasalah terutama tata laksananya, bukan tujuannya.

Di sinilah mahasiswa perlu berhati-hati. Dalam politik modern, slogan bisa menjadi senjata. Tetapi slogan juga bisa menjadi jebakan. Ketika mahasiswa menyebut “Indonesia Bangkrut” tanpa dasar yang kokoh, mereka bisa tanpa sadar menjadi pengeras suara dari narasi pasar yang sedang tidak senang terhadap arah kebijakan negara. Padahal tugas mahasiswa bukan menjadi juru bicara investor. Tugas mahasiswa adalah menjadi pembela rakyat.

Membela rakyat membutuhkan keberanian. Tetapi juga membutuhkan ketelitian. Membela rakyat membutuhkan suara keras. Tetapi juga membutuhkan pekerjaan rumah yang serius: membaca data, memeriksa objek kebijakan, membedakan harga Pertamax dan Pertalite, membedakan inflasi nasional dan tekanan lokal, membedakan kritik tata laksana dan penolakan tujuan, membedakan kecemasan pasar dan penderitaan rakyat.

Mahasiswa harus terus menyuarakan penderitaan rakyat. Itu tugas sejarah mereka. Jangan berhenti mengkritik korupsi. Jangan berhenti mengawasi MBG. Jangan berhenti menuntut agar koperasi desa tidak menjadi proyek elite. Jangan berhenti mengingatkan akan bahaya militerisme. Jangan berhenti membela rakyat kecil yang suaranya sering tenggelam di antara angka-angka makro dan pidato pejabat.

Tetapi mahasiswa juga harus mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan baik. Sebab kritik yang kuat lahir bukan hanya dari kemarahan, melainkan dari ketepatan. Rakyat tidak cukup dibela dengan slogan. Rakyat harus dibela dengan pengetahuan, data, keberpihakan, dan kejujuran dalam membaca kenyataan.

Indonesia tidak bangkrut. Tetapi Indonesia memang sedang diperebutkan arah masa depannya. Dalam perebutan itu, mahasiswa seharusnya tidak menjadi gema dari kepanikan pasar. Mahasiswa harus menjadi penuntun agar negara tetap berpihak kepada rakyat.===

CIMAHI, 14 Juni 2026

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?
Bisnis

Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

June 14, 2026
Tyo, Idrus, Prabowo – Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik
Feature

Tyo, Idrus, Prabowo – Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik

June 14, 2026
Feature

Antara Suara “Jual Indonesia” dan Fundamental Ekonomi (Ketika Senggolan Kecil Membuat Meja Berguncang)

June 13, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Rakyat Melawan!
Feature

Rakyat Melawan!

by Karyudi Sutajah Putra
June 13, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Demonstran 1998 Kampus UNS Jakarta - Maka hanya ada satu kata: lawan! (Widji Thukul, 1963-1998). Demikianlah...

Read more
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

June 12, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

REALISME TUNTUTAN MAHASISWA

June 14, 2026
Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

June 14, 2026
Tyo, Idrus, Prabowo – Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik

Tyo, Idrus, Prabowo – Etika, Moralitas, dan Ironi Para Pengkritik

June 14, 2026

Antara Suara “Jual Indonesia” dan Fundamental Ekonomi (Ketika Senggolan Kecil Membuat Meja Berguncang)

June 13, 2026
Prabowo;”Ilmu Islam saya kurang.” –  Paradoks Pemimpin Muslim di Negeri Mayoritas Muslim

Prabowo;”Ilmu Islam saya kurang.” – Paradoks Pemimpin Muslim di Negeri Mayoritas Muslim

June 13, 2026
APBN Tidak Cukup Hanya Efisien, Ada Kata “Efektif”

APBN Tidak Cukup Hanya Efisien, Ada Kata “Efektif”

June 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

REALISME TUNTUTAN MAHASISWA

June 14, 2026
Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

Saat Jutawan Angkat Kaki, Apa yang Tersisa untuk Indonesia?

June 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...