• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

Ali Syarief by Ali Syarief
July 28, 2026
in Feature, Politik, Tokoh/Figur
0
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Ketika kepercayaan publik mulai menurun, lazimnya seorang presiden menjawabnya dengan kebijakan yang lebih meyakinkan. Namun yang justru berulang di panggung politik Indonesia adalah rentetan pidato yang memancing kontroversi. Hampir setiap pekan muncul istilah baru, sindiran baru, atau pernyataan yang menyulut polemik. Akibatnya, ruang publik lebih sibuk memperdebatkan ucapan presiden daripada menguji capaian pemerintahannya. Apakah ini sekadar gaya komunikasi spontan, atau sebuah strategi agenda setting untuk menguasai percakapan nasional?

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, dan hasil berbagai survei yang menunjukkan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah, panggung politik Indonesia justru dipenuhi oleh satu hal yang berulang: kontroversi ucapan Presiden Prabowo Subianto.

Hampir setiap pekan muncul pernyataan yang memantik kegaduhan. Dari istilah “londo ireng”, sindiran terhadap berbagai kelompok masyarakat, hingga ungkapan yang dianggap sebagian publik sebagai ajakan bagi mereka yang tidak puas untuk meninggalkan Indonesia. Ucapan-ucapan itu segera memenuhi halaman depan media, mendominasi perbincangan televisi, menjadi bahan perdebatan di media sosial, dan menyita ruang diskusi publik selama berhari-hari.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pidato itu kontroversial. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa kontroversi itu terus berulang?

Dalam ilmu komunikasi politik, ada konsep yang telah lama dikenal sebagai agenda setting. Teori ini berangkat dari premis sederhana: media mungkin tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan masyarakat, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang dibicarakan masyarakat. Ketika sebuah isu mendominasi ruang publik, isu-isu lain secara perlahan terdorong ke pinggir.

Di sinilah komunikasi politik modern bekerja. Bukan semata melalui keberhasilan kebijakan, melainkan melalui kemampuan menguasai perhatian publik.

Perhatian adalah mata uang paling mahal dalam demokrasi.

Ketika presiden melontarkan kalimat yang memancing kemarahan, bantahan, atau polemik, hampir seluruh energi media tersedot untuk membahas satu topik yang sama. Politikus bereaksi. Akademisi dimintai komentar. Influencer ikut berdebat. Algoritma media sosial memperkuat penyebarannya.

Sementara itu, isu-isu yang lebih substantif perlahan kehilangan ruang.

Padahal, pada saat yang sama, Indonesia menghadapi persoalan yang jauh lebih mendesak.

Daya beli masyarakat masih menjadi keluhan di berbagai daerah. Lapangan pekerjaan berkualitas belum tumbuh sesuai harapan. Kelas menengah menunjukkan gejala penyusutan. Berbagai survei juga memperlihatkan penurunan tingkat kepuasan terhadap kondisi ekonomi dibandingkan masa-masa awal pemerintahan.

Semua persoalan itu seharusnya menjadi tema utama diskursus nasional.

Namun, ruang publik justru berkutat pada perdebatan mengenai makna sebuah istilah, maksud sebuah sindiran, atau siapa yang tersinggung oleh pidato presiden.

Dalam perspektif komunikasi politik, fenomena seperti ini bukan hal baru.

Banyak pemimpin dunia memahami bahwa mengendalikan percakapan publik sering kali sama pentingnya dengan mengendalikan kebijakan itu sendiri. Ketika perhatian masyarakat tersita oleh kontroversi, tekanan terhadap capaian pemerintahan dapat berkurang. Fokus media bergeser dari evaluasi kinerja menuju perdebatan simbolik.

Bukan berarti setiap kontroversi selalu dirancang sebagai strategi. Tidak semua pidato provokatif lahir dari perencanaan yang matang. Seorang pemimpin bisa saja berbicara spontan, emosional, atau menggunakan gaya retorika yang memang menjadi ciri pribadinya.

Namun, ketika pola yang sama muncul berulang kali—kontroversi, kegaduhan, perdebatan, lalu muncul lagi kontroversi berikutnya—publik berhak bertanya apakah yang sedang disaksikan hanyalah kebetulan, atau justru sebuah pola komunikasi yang efektif karena berhasil menguasai agenda pemberitaan.

Dalam politik, pola sering kali lebih bermakna daripada satu peristiwa tunggal.

Masalahnya, strategi menguasai perhatian memiliki biaya yang tidak kecil.

Presiden bukan sekadar seorang politisi yang sedang berkampanye. Ia adalah simbol negara. Setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak hanya dinilai sebagai ekspresi pribadi, tetapi juga dipahami sebagai representasi sikap negara terhadap rakyatnya.

Ketika pidato lebih sering menghadirkan kegaduhan daripada penjelasan kebijakan, kepercayaan publik perlahan tergerus. Ketika metafora lebih banyak diperdebatkan daripada solusi, kualitas demokrasi ikut menurun. Ketika ruang diskusi dipenuhi kontroversi, evaluasi terhadap kinerja pemerintahan kehilangan panggungnya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah seorang presiden boleh berbicara keras. Dalam demokrasi, gaya retorika adalah hak politik setiap pemimpin.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah retorika itu membantu rakyat memahami arah pemerintahan, atau justru membuat publik terus-menerus sibuk memperdebatkan kata-kata, sementara persoalan yang lebih mendasar berlalu tanpa pengawasan yang memadai?

Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi juga membutuhkan fokus. Sebab pemerintahan tidak diukur dari seberapa viral pidatonya, melainkan dari seberapa nyata hasil kebijakannya.

Dan ketika panggung politik lebih banyak diisi oleh kontroversi dibandingkan pertanggungjawaban atas kinerja, kita patut bertanya: siapa yang sebenarnya sedang mengendalikan agenda—kepentingan publik, atau sekadar perhatian publik?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo
Feature

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?
Feature

Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

July 28, 2026
Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba
Crime

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

July 27, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Habis Nanik, Terbitlah Hotman
Feature

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

by Karyudi Sutajah Putra
July 23, 2026
0

Jakarta - Setelah Nanik S Deyang, kini giliran pengacara kondang Hotman Paris Hutapea yang menyatakan mundur. Jika Nanik mundur dari...

Read more
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

July 11, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026
Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

Mengapa Kepuasan Publik terhadap Prabowo Terus Menurun?

July 28, 2026
Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

Pangeran Saudi Ditemukan Tewas di Hotel Mewah London, Koroner: Dipicu Campuran Alkohol dan Narkoba

July 27, 2026
Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

Publik Bukan Koruptor Kata-kata, Fifi!

July 27, 2026

TANGGAPAN UNTUK ADHIE DAN HENDARDI: JANGAN HANYA MEMINDAHKAN PERKARA, PERBAIKI SISTEM

July 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Gagal Awal – Luka dalam Grafik: Ketika Ekonomi 4,7 Persen Tak Menjawab Kebutuhan Rakyat

Orasi Prabowo: Politik Gaduh di Tengah Menurunnya Kepercayaan Publik

July 28, 2026
Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

Ketika Presiden Mulai Memusuhi Pers – Lima pelajaran sejarah yang seharusnya menjadi cermin bagi Prabowo

July 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...