Ada satu hukum yang nyaris selalu berlaku dalam politik: survei yang baik hanya bertahan selama rakyat masih merasa hidupnya baik.
Begitu dapur mulai dingin, listrik mulai sering padam, harga kebutuhan merangkak naik, BBM bermasalah, keamanan memburuk, dan lapangan pekerjaan semakin sempit, grafik kepuasan biasanya ikut jatuh.
Itulah yang tampaknya sedang terjadi pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah lembaga survei mencatat tren penurunan kepuasan publik. Survei terbaru SMRC menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo turun menjadi sekitar 51,1 persen, jauh merosot dibandingkan dengan sekitar 81 persen pada akhir 2025. Penurunan itu terutama dikaitkan dengan persepsi masyarakat bahwa kondisi ekonomi memburuk, disusul penilaian negatif terhadap situasi politik dan penegakan hukum.
Angka itu mungkin masih berada di atas 50 persen. Namun pesan politiknya jelas: bulan madu telah berakhir.
Kalau pun nantinya ada survei lain yang mencatat angka lebih rendah, bahkan mendekati 40 persen, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah angka itu benar atau salah. Pertanyaannya adalah: mengapa persepsi publik berubah begitu cepat?
Rakyat Menilai Lewat Pengalaman, Bukan Pidato
Tidak semua warga membaca APBN.
Tidak semua memahami pertumbuhan ekonomi.
Tetapi hampir semua orang tahu ketika listrik padam berulang.
Mereka tahu ketika harus antre BBM lebih lama.
Mereka tahu ketika harga kebutuhan sehari-hari semakin sulit dijangkau.
Mereka tahu bahwa mencari pekerjaan menjadi semakin berat.
Mereka tahu ketika keamanan lingkungan terasa memburuk.
Di mata masyarakat, indikator keberhasilan pemerintah bukan presentasi PowerPoint.
Melainkan kehidupan sehari-hari.
Di banyak daerah, keluhan mengenai pasokan energi, biaya hidup, dan daya beli semakin sering terdengar. Pada saat yang sama, survei SMRC juga menemukan hampir separuh responden menilai kondisi ekonomi nasional “buruk” atau “sangat buruk”.
Ekonomi: Musuh Terbesar Pemerintah
Sejarah politik Indonesia memperlihatkan pola yang sama.
Tidak ada pemerintah yang benar-benar jatuh karena oposisi.
Sebagian besar kehilangan dukungan karena ekonomi.
Harga beras.
Harga BBM.
Lapangan kerja.
Nilai rupiah.
Pendapatan keluarga.
Semua itu jauh lebih menentukan dibanding baliho politik.
Ketika rakyat merasa dompetnya menipis, loyalitas politik ikut menyusut.
Korupsi yang Tak Pernah Pergi
Masalah berikutnya adalah persepsi mengenai korupsi.
Publik tidak hanya berharap pelaku korupsi ditangkap.
Mereka ingin melihat adanya efek jera.
Ketika kasus-kasus besar terus bermunculan, sementara praktik lama dianggap tetap berlangsung, kepercayaan kepada pemerintah ikut terkikis.
Dalam politik, persepsi sering kali lebih kuat daripada statistik.
Kolusi Politik: Ketika Kekuasaan Terlihat Terlalu Terkonsentrasi
Ada satu faktor lain yang tidak kalah penting.
Kolusi politik.
Bukan semata-mata dalam arti pidana.
Melainkan persepsi bahwa kekuasaan hanya berputar di lingkaran elite yang sama.
Ketika jabatan publik, kebijakan strategis, dan kompromi politik dipandang lebih banyak menguntungkan kelompok tertentu daripada kepentingan masyarakat luas, rasa keadilan ikut melemah.
Yang hilang bukan hanya kepercayaan.
Tetapi juga harapan.
Alarm bagi Istana
Penurunan kepuasan publik seharusnya tidak dibaca sebagai kemenangan oposisi.
Justru sebaliknya.
Ia merupakan alarm bagi pemerintah.
Masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan.
Tetapi alarm yang terus diabaikan biasanya berubah menjadi sirene politik.
Pemerintah boleh saja menjelaskan bahwa kondisi ekonomi dipengaruhi oleh faktor global.
Masyarakat mungkin memahami.
Namun rakyat tetap akan bertanya sederhana:
“Mengapa hidup kami justru terasa lebih berat?”
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan konferensi pers.
Tidak pula dengan kampanye komunikasi.
Jawabannya hanya satu:
Perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pada akhirnya, survei bukanlah penyebab turunnya kepercayaan.
Survei hanyalah cermin.
Dan seperti cermin pada umumnya, ia tidak pernah menciptakan wajah.
Ia hanya memantulkan apa yang sedang dilihat rakyat.

























