Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2026
Jakarta – Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung ini mengundurkan diri dari jabatannya yang sudah diemban sejak 2022. Entah dengan sukarela atau terpaksa.
Saat kafe dan money changer yang diduga miliknya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, digeledah, penyidik menemukan uang tunai 60 miliar rupiah di brankas yang canggih dan tersembunyi.
Ketika rumah mewahnya di Sentul, Bogor, Jawa Barat, digeladah, penyidik menemukan uang tunai 476 miliar rupiah plus 74 kilogram emas batangan di brankas yang juga canggih dan tersembunyi.
Penggeledahan itu terkait dugaan suap dalam pengurusan perkara korupsi di PT PLN, PT Asabri dan PT Krakatau Steel. Adapun para penyidik yang melakukan penggeledahan berasal dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Mabes Polri dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya.
Terlepas dari apakah Febrie Adriansyah akan ditetapkan sebagai tersangka atau tidak, yang jelas dia telah berhasil diamputasi. Sulit untuk bangkit dan membangun karier lagi.
Selain balas dendam, perseteruan antara Polri dan Kejagung ini tak luput dari aroma politik terkait suksesi kursi Adhyaksa-1.
Balas dendam? Belum lama ini Kejagung menetapkan Inspektur Jenderal Polisi Purnawirawan Sony Sionjaya dan Brigadir Jenderal Polisi Lalu Muhammad Iwan Mahardan sebagai tersangka korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Badan Gizi Nasional (BGN). Sony adalah Wakil Kepala BGN, dan Lalu adalah seorang deputi di BGN.
Polri kemudian berupaya menangkap Febrie. Bahkan Febrie sudah menjadi target Polri sejak lama. Pada April 2024 lalu, Febri dikuntit oleh dua personel Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri, di mana seorang penguntit di antaranya berhasil ditangkap pengawal Febri. Locus delicti-nya di kafe yang kemarin digeledah polisi.
Febrie disebut-sebut sebagai calon kuat Jaksa Agung yang akan menggantikan Sinatiar Burhanuddin. Dalam konteks ini, ia sudah dipanggil menghadap Presiden Prabowo Subianto.
Akan tetapi, sepak terjang Febrie konon tidak disukai Joko Widodo. Sebab dalam beberapa kasus yang ditangani Jampidsus, nama Presiden ke-7 RI itu kerap terseret. Misalnya dalam kasus dugaan korupsi Nadiem Makarim.
Jokowi yang kini menjadi semacam Presiden bayangan itu disebut gerah dengan sepak terjang Febrie. Juga merasa terancam jika Jampidsus itu naik ke kursi Adhyaksa 1. Maka, calon alternatif pun disiapkan. Dialah Reda Manthovani yang saat ini menjabat Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejagung.
Reda adalah adik ipar Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra yang full power.
Selain menjadi orang kepercayaan Prabowo, Dasco juga kerap menjembatani hubungan Prabowo dengan Jokowi. Sebab itu, Reda Manthovani disinyalir bisa menjadi titik kompromi Prabowo dengan Jokowi dalam penentuan Jaksa Agung.
Dus, tinggal selangkah lagi, Reda Manthovani duduk di kursi Adhyaksa-1. Benarkah? Biarlah waktu yang bicara.
Terlepas dari upaya penegakan hukum, yang jelas, Polri sudah berhasil mengamputasi Febrie Adriansyah supaya lumpuh dan tidak bisa merangkak ke kursi Jaksa Agung. Dan kita sudah tahu siapa di belakang Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ada Jokowi di sana.
Benarkah? Lagi-lagi biarkan waktu yang bicara.






















