• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Mafia di Balik Penegakan Hukum Ketika Hukum Berubah Menjadi Instrumen Kekuasaan

fusilat by fusilat
July 10, 2026
in Feature, Law
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muharam Yamlean
Direktur Kolaborasi Nusantara

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Demikian peringatan klasik John Emerich Edward Dalberg-Acton yang hingga hari ini tetap relevan. Kekuasaan pada dasarnya tidak pernah netral. Tanpa pengawasan yang kuat, ia selalu memiliki kecenderungan untuk melayani dirinya sendiri. Dalam konteks negara hukum, penyalahgunaan kekuasaan itulah yang perlahan melahirkan apa yang selama ini dikenal sebagai mafia hukum.

Indonesia secara konstitusional mendeklarasikan dirinya sebagai negara hukum. Seluruh bangunan kelembagaan telah tersedia. Kepolisian menjaga keamanan sekaligus menegakkan hukum, kejaksaan menjalankan fungsi penuntutan, pengadilan mengadili secara independen, sementara lembaga-lembaga pengawasan dibentuk untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip keadilan.

Namun, realitas yang berulang justru memperlihatkan paradoks.

Publik berkali-kali menyaksikan aparat penegak hukum terseret dalam dugaan penyalahgunaan kewenangan, praktik jual beli perkara, kriminalisasi, perlakuan hukum yang tidak setara, hingga tarik-menarik kepentingan antarlembaga. Peristiwa-peristiwa semacam itu melahirkan satu pertanyaan mendasar: apakah yang sedang kita hadapi hanyalah penyimpangan oknum, atau justru kerusakan sistem yang lebih dalam?

Pertanyaan ini penting, sebab jika pola yang sama terus berulang di berbagai institusi, maka persoalannya bukan lagi semata-mata perilaku individu. Yang sedang bekerja adalah sebuah mekanisme yang memungkinkan penyimpangan terus berlangsung. Dengan kata lain, mafia hukum bukan sekadar kumpulan orang yang berkolusi, melainkan sebuah ekosistem yang hidup karena lemahnya akuntabilitas, minimnya pengawasan, dan kuatnya pengaruh kekuasaan terhadap proses penegakan hukum.

Di sinilah letak persoalan sesungguhnya.

Mafia hukum bukanlah penyebab utama rusaknya negara hukum. Ia adalah gejala ketika hukum tidak lagi berdiri sebagai pengendali kekuasaan, melainkan berubah menjadi alat kekuasaan itu sendiri.

Pemikiran ini mengingatkan pada konsep rule of law yang diperkenalkan A. V. Dicey. Menurut Dicey, negara hukum hanya dapat berdiri apabila setiap orang—baik rakyat biasa maupun penguasa—tunduk pada hukum yang sama. Tidak boleh ada keistimewaan berdasarkan jabatan, kekayaan, maupun kedekatan politik. Ketika hukum mulai memilih kepada siapa ia berlaku dan kepada siapa ia menjadi lunak, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar keadilan, melainkan fondasi negara hukum itu sendiri.

Jauh sebelumnya, Montesquieu telah mengingatkan bahwa kekuasaan harus saling mengawasi (checks and balances). Kekuasaan yang tidak diawasi akan selalu menemukan cara untuk memperluas dirinya. Dalam situasi demikian, penegakan hukum mudah berubah menjadi arena negosiasi kepentingan. Proses hukum tidak lagi diarahkan untuk menemukan kebenaran, melainkan untuk melayani siapa yang paling berpengaruh.

Fenomena inilah yang oleh banyak ilmuwan politik modern disebut sebagai state capture—ketika institusi negara tidak lagi bekerja demi kepentingan publik, tetapi perlahan dikuasai oleh jaringan kepentingan politik maupun ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, mafia hukum bukan lagi aktor yang bekerja di luar sistem. Ia justru tumbuh dari dalam sistem yang kehilangan daya koreksinya sendiri.

Akibatnya jauh lebih serius daripada sekadar putusan yang keliru.

Yang pertama runtuh adalah kepercayaan publik.

Kepercayaan merupakan modal sosial paling mahal dalam sebuah negara demokrasi. Masyarakat masih dapat menerima putusan yang tidak memuaskan apabila prosesnya berlangsung jujur dan transparan. Namun mereka akan kehilangan kepercayaan ketika meyakini bahwa hukum dapat dinegosiasikan, diperdagangkan, atau dipengaruhi oleh kekuasaan. Ketika persepsi itu menguat, legitimasi negara perlahan mengalami erosi.

Karena itu, ukuran keberhasilan penegakan hukum tidak boleh hanya diukur dari banyaknya orang yang ditangkap atau panjangnya daftar perkara yang diselesaikan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap proses berlangsung secara independen, transparan, profesional, dan bebas dari intervensi. Integritas prosedur jauh lebih menentukan daripada sekadar statistik penindakan.

Reformasi hukum pun tidak cukup dilakukan melalui pergantian pimpinan lembaga atau slogan pemberantasan korupsi. Yang dibutuhkan adalah keberanian membangun sistem yang mampu mengawasi dirinya sendiri: memperkuat akuntabilitas, menutup ruang konflik kepentingan, melindungi aparat yang berintegritas, serta memastikan bahwa setiap penyimpangan diproses secara terbuka tanpa memandang pangkat maupun kedekatan politik.

Sebagaimana pernah diingatkan Louis D. Brandeis, “Sunlight is said to be the best of disinfectants.” Keterbukaan adalah obat paling ampuh untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Transparansi bukan ancaman bagi institusi penegak hukum; transparansi adalah syarat agar institusi itu tetap dipercaya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan hukum yang hanya tampak kokoh dalam teks undang-undang. Rakyat membutuhkan penegak hukum yang mampu berdiri tegak di hadapan kekuasaan dan tetap berpihak kepada keadilan.

Sebab negara tidak runtuh ketika korupsi pertama kali terjadi. Negara mulai kehilangan masa depannya ketika masyarakat percaya bahwa keadilan dapat dibeli. Pada saat itulah mafia hukum berhenti menjadi penyimpangan. Ia berubah menjadi cara kerja kekuasaan. Dan ketika hukum telah menjadi alat kekuasaan, yang tersisa hanyalah negara yang kehilangan jiwanya sebagai negara hukum.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

COKLAT VS COKLAT

fusilat

fusilat

Related Posts

Birokrasi

COKLAT VS COKLAT

July 10, 2026
Birokrasi

Perang Elit: Perebutan Proyek APBN

July 10, 2026
Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”
Feature

Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”

July 10, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung
Komunitas

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

by Karyudi Sutajah Putra
July 10, 2026
0

Jakarta - FusilatNews --Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mengecam tindakan prajurit Tentara Nasional Indonesia...

Read more
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Aji Mumpung Hanggodo yang Loyal kepada Prabowo

Aji Mumpung Hanggodo yang Loyal kepada Prabowo

July 8, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Mafia di Balik Penegakan Hukum Ketika Hukum Berubah Menjadi Instrumen Kekuasaan

July 10, 2026

COKLAT VS COKLAT

July 10, 2026

Perang Elit: Perebutan Proyek APBN

July 10, 2026
Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Hendardi Minta Kejagung Tak Defensif, Lecehkan Nalar Publik

July 10, 2026

Paradoks Independensi Auditor Internal (Ketika Penjaga Tata Kelola Masih Berada dalam Bayang-Bayang Manajemen)

July 10, 2026
Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”

Mantan Menkeu Fuad Bawazier: “Cabut Konsesi Tambang Bermasalah, Jangan Jadikan Kasus sebagai Sandera Politik”

July 10, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mafia di Balik Penegakan Hukum Ketika Hukum Berubah Menjadi Instrumen Kekuasaan

July 10, 2026

COKLAT VS COKLAT

July 10, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist