Jakarta, FusilatNews – Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di seluruh dunia, para ilmuwan justru menemukan kabar yang menggembirakan. Risiko seseorang mengalami demensia pada usia tertentu ternyata terus menurun di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, beberapa negara Eropa, dan Jepang.
Temuan ini menjadi salah satu sorotan utama dalam The Economist Briefing pekan ini. Para peneliti menyebut fenomena tersebut sebagai perkembangan yang sangat menggembirakan karena selama puluhan tahun dunia justru dibayangi ancaman “tsunami demensia” seiring meningkatnya usia harapan hidup.
Yang perlu dipahami, penurunan ini bukan berarti jumlah penderita demensia berkurang secara absolut. Karena jumlah lansia terus bertambah, total penderita demensia tetap meningkat. Namun, peluang seseorang terkena demensia pada usia yang sama kini lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Penurunan Sudah Terjadi Selama Puluhan Tahun
Analisis gabungan terhadap lebih dari 49.000 orang di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa insiden demensia menurun sekitar 13 persen setiap dekade sejak akhir 1980-an. Penurunan ini terlihat hampir di semua kelompok usia lanjut dan cukup konsisten di berbagai negara.
Penelitian yang lebih baru bahkan menunjukkan bahwa generasi yang lahir pada pertengahan abad ke-20 memiliki risiko demensia jauh lebih rendah dibandingkan generasi yang lahir pada awal abad tersebut.
Apa Penyebabnya?
Para ilmuwan belum menemukan satu jawaban tunggal. Namun, berbagai penelitian menunjukkan sedikitnya enam faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan tersebut.
Pertama, pendidikan yang lebih baik. Orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki cognitive reserve atau cadangan kemampuan otak yang membuat gejala demensia muncul lebih lambat.
Kedua, kesehatan jantung yang semakin baik. Pengobatan hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit pembuluh darah kini jauh lebih efektif dibandingkan beberapa dekade lalu. Karena otak sangat bergantung pada kesehatan pembuluh darah, perbaikan ini ikut melindungi fungsi kognitif.
Ketiga, semakin sedikit orang yang merokok. Penurunan angka perokok di negara-negara maju berkorelasi dengan menurunnya berbagai penyakit pembuluh darah yang juga menjadi faktor risiko demensia.
Keempat, kesadaran hidup sehat meningkat. Aktivitas fisik, pola makan yang lebih baik, pengendalian berat badan, hingga pemeriksaan kesehatan rutin semakin umum dilakukan.
Kelima, gangguan pendengaran kini lebih cepat ditangani melalui penggunaan alat bantu dengar. Gangguan pendengaran yang tidak diobati diketahui meningkatkan risiko demensia akibat berkurangnya stimulasi otak dan meningkatnya isolasi sosial.
Keenam, diagnosis dan pengobatan penyakit kronis menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Jepang Menjadi Contoh Menarik
Jepang merupakan negara dengan populasi tertua di dunia. Meskipun memiliki jumlah lansia yang sangat besar, berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko demensia berdasarkan kelompok umur juga mengalami penurunan.
Paradoks ini menunjukkan bahwa penuaan penduduk tidak otomatis menyebabkan ledakan kasus demensia apabila kualitas kesehatan masyarakat terus membaik. Namun demikian, karena masyarakat Jepang sangat menua, negara tersebut tetap memiliki jumlah penderita demensia yang tinggi secara absolut.
Masih Belum Bisa Berpuas Diri
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa secara global sekitar 57 juta orang hidup dengan demensia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun. Penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan pada usia lanjut.
Laporan WHO juga menegaskan bahwa hingga 45 persen kasus demensia sebenarnya berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat dimodifikasi, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, polusi udara, depresi, gangguan pendengaran, hingga isolasi sosial.
Akankah Angka Demensia Terus Turun?
Para peneliti masih berhati-hati.
Sebagian ahli optimistis tren penurunan akan berlanjut jika generasi mendatang tetap memiliki pendidikan yang lebih baik, pengobatan penyakit kronis semakin efektif, dan gaya hidup sehat semakin meluas.
Namun ada pula kekhawatiran bahwa meningkatnya obesitas, diabetes tipe 2, gaya hidup kurang bergerak, serta bertambahnya usia harapan hidup dapat memperlambat bahkan menghentikan tren positif tersebut. Sejumlah model bahkan memperkirakan penurunan insiden mulai melambat di beberapa negara.
Yang jelas, kabar ini memberikan secercah harapan. Demensia bukan lagi dipandang sebagai takdir yang tak dapat dihindari. Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesehatan otak dapat dijaga sejak usia muda melalui pendidikan, pengendalian faktor risiko kardiovaskular, olahraga teratur, aktivitas sosial, serta gaya hidup sehat.
Bagi dunia yang semakin menua, itu merupakan salah satu kabar terbaik dalam bidang kesehatan selama beberapa dekade terakhir.






















