Bandung, FusilatNews – Harapan masyarakat Bandung untuk kembali menikmati kemudahan akses penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara kian mendekati kenyataan. Pemerintah mempercepat proses reaktivasi bandara yang berada di pusat Kota Bandung itu, bahkan target operasionalnya dimajukan menjadi Agustus 2026 dari rencana semula September.
Langkah percepatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah mulai merespons kebutuhan mobilitas masyarakat Jawa Barat yang selama hampir tiga tahun harus bergantung pada Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka.
Dalam tahap awal reaktivasi, Bandara Husein Sastranegara disiapkan untuk melayani sekitar 20 hingga 24 rute penerbangan domestik, disertai pembukaan kembali penerbangan internasional regional menuju sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Reaktivasi dilakukan setelah serangkaian koordinasi intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator bandara, regulator penerbangan, dan maskapai untuk memastikan kesiapan infrastruktur maupun operasional bandara.
Bandara Husein selama puluhan tahun menjadi pintu gerbang utama Kota Bandung. Namun sejak Oktober 2023, sebagian besar penerbangan komersial dipindahkan ke Bandara Kertajati sebagai bagian dari kebijakan optimalisasi bandara internasional tersebut. Kebijakan itu memicu banyak keluhan dari masyarakat dan pelaku usaha karena jarak Kertajati yang mencapai lebih dari 100 kilometer dari pusat Kota Bandung membuat biaya dan waktu perjalanan meningkat.
Kembalinya aktivitas komersial di Bandara Husein diyakini akan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata, perdagangan, investasi, hingga industri kreatif di Bandung dan sekitarnya. Pelaku usaha perhotelan, restoran, pusat perbelanjaan, serta penyelenggara kegiatan bisnis dan konferensi diperkirakan menjadi sektor yang paling cepat merasakan manfaatnya.
Selain itu, keberadaan dua bandara yang saling melengkapi dinilai dapat memperkuat konektivitas Jawa Barat. Bandara Husein akan melayani kebutuhan penerbangan yang mengutamakan kedekatan dengan pusat Kota Bandung, sedangkan Kertajati tetap difokuskan untuk penerbangan berbadan lebar, kargo, haji, umrah, serta pengembangan sebagai pusat logistik dan aerotropolis.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan reaktivasi tidak hanya bergantung pada pembukaan rute, tetapi juga komitmen maskapai untuk beroperasi secara berkelanjutan serta adanya kepastian regulasi agar tidak kembali terjadi perubahan kebijakan yang membingungkan masyarakat.
Dengan percepatan ini, Bandung berpeluang kembali menjadi salah satu pusat transportasi udara terpenting di Indonesia. Bagi warga Bandung dan kawasan Priangan, beroperasinya kembali Bandara Husein bukan sekadar menghadirkan pilihan moda transportasi, tetapi juga memulihkan denyut ekonomi yang selama ini bergantung pada kemudahan akses udara.























