Awalnya sederhana. Komunisme itu dulu tidak sedang marah pada Tuhan. Yang bikin mereka naik darah justru pendeta. Tepatnya: pendeta yang kebanyakan khotbah soal surga, tapi rumahnya di bumi dua lantai plus halaman luas.
Di Eropa abad ke-19, pendeta sering tampil sebagai juru damai kelas atas. Buruh disuruh sabar, miskin disuruh ikhlas, sementara bangsawan disuruh… ya, menikmati hidup. Pendeta datang ke pabrik bukan untuk protes upah, tapi untuk mengingatkan buruh agar rajin berdoa supaya masuk surga. Soal upah? Itu urusan dunia, kata mereka. Padahal, dunia juga ciptaan Tuhan—tapi entah kenapa urusan upah sering lupa dibahas.
Di titik ini, komunisme masih sopan. Mereka hanya bilang:
“Maaf Romo, mungkin khotbah Anda terlalu ramah pada pemilik modal.”
Marx Masuk, Humor Keluar
Lalu datang Karl Marx, lelaki berjenggot yang wajahnya selalu tampak seperti baru membaca laporan keuangan pabrik. Marx melihat agama bukan sebagai kejahatan, tapi sebagai obat penenang.
Ia menyebut agama sebagai opium of the people. Jangan salah paham. Opium itu bukan narkoba kelas jalanan. Dulu, opium adalah obat penghilang rasa sakit. Masalahnya, kalau sakitnya karena ditindas, tapi yang diminum cuma obat pereda nyeri, ya penindasnya tetap sehat walafiat.
Di sini, agama dianggap bukan musuh, tapi salah sasaran. Bukannya melawan sistem, agama justru membantu rakyat bertahan dalam sistem yang salah. Marx tidak bilang Tuhan tidak ada. Ia hanya curiga: “Jangan-jangan Tuhan ini sering dijadikan tameng manajemen.”
Dari “Pendeta Salah” ke “Tuhan Tidak Perlu”
Masalah mulai membesar ketika komunisme jatuh cinta pada filsafat materialisme. Segala sesuatu harus bisa disentuh, dihitung, ditimbang. Kalau tidak bisa masuk neraca, dianggap fiktif. Tuhan? Tidak ada di laporan tahunan.
Di sinilah terjadi pergeseran sunyi:
- Awalnya: “Pendeta salah.”
- Lalu: “Agama menipu.”
- Akhirnya: “Tuhan tidak relevan.”
Ini mirip orang yang kesal pada satpam, lalu menyimpulkan gedungnya harus dibongkar.
Ketika Negara Ingin Jadi Tuhan
Begitu komunisme berkuasa, ceritanya berubah drastis. Negara tidak mau saingan. Agama dianggap oposisi spiritual. Kalau rakyat patuh pada Tuhan, bisa-bisa mereka kurang patuh pada partai. Ini bahaya.
Maka terjadilah pembersihan:
- Gereja ditutup
- Masjid dicurigai
- Pendeta dan ulama dipaksa memilih: diam atau menghilang
Negara mulai mengambil alih semua peran Tuhan:
- Negara menentukan moral
- Partai menentukan kebenaran
- Ideologi menentukan dosa
Doa diganti slogan. Kitab diganti manifesto. Surga diganti masa depan revolusi—yang entah kenapa selalu dijanjikan, tapi tak pernah tiba.
Penutup: Dari Kritik ke Pengganti
Ironinya, komunisme yang lahir untuk membebaskan manusia dari penindasan, justru berakhir menghapus ruang batin manusia. Tuhan bukan sekadar ditolak, tapi digantikan oleh negara—yang tentu saja tidak maha pengasih, apalagi maha pengampun.
Kalau Penulis Favorit saya, alm Mahbud Junaedi, masih menulis, mungkin ia akan menutup begini:
“Komunisme gagal bukan karena terlalu keras pada Tuhan, tapi karena terlalu percaya bahwa negara bisa berlaku seperti Tuhan. Padahal, jangankan mengurus langit, mengurus antrean beras saja sering kacau.”
























