• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Dari Pendeta ke Tuhan: Riwayat Panjang Komunisme yang Makin Lama Makin Nekat

Ali Syarief by Ali Syarief
February 4, 2026
in Aya Aya Wae, Feature, Fiksi
0
Dari Pendeta ke Tuhan: Riwayat Panjang Komunisme yang Makin Lama Makin Nekat
Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya sederhana. Komunisme itu dulu tidak sedang marah pada Tuhan. Yang bikin mereka naik darah justru pendeta. Tepatnya: pendeta yang kebanyakan khotbah soal surga, tapi rumahnya di bumi dua lantai plus halaman luas.

Di Eropa abad ke-19, pendeta sering tampil sebagai juru damai kelas atas. Buruh disuruh sabar, miskin disuruh ikhlas, sementara bangsawan disuruh… ya, menikmati hidup. Pendeta datang ke pabrik bukan untuk protes upah, tapi untuk mengingatkan buruh agar rajin berdoa supaya masuk surga. Soal upah? Itu urusan dunia, kata mereka. Padahal, dunia juga ciptaan Tuhan—tapi entah kenapa urusan upah sering lupa dibahas.

Di titik ini, komunisme masih sopan. Mereka hanya bilang:
“Maaf Romo, mungkin khotbah Anda terlalu ramah pada pemilik modal.”


Marx Masuk, Humor Keluar

Lalu datang Karl Marx, lelaki berjenggot yang wajahnya selalu tampak seperti baru membaca laporan keuangan pabrik. Marx melihat agama bukan sebagai kejahatan, tapi sebagai obat penenang.

Ia menyebut agama sebagai opium of the people. Jangan salah paham. Opium itu bukan narkoba kelas jalanan. Dulu, opium adalah obat penghilang rasa sakit. Masalahnya, kalau sakitnya karena ditindas, tapi yang diminum cuma obat pereda nyeri, ya penindasnya tetap sehat walafiat.

Di sini, agama dianggap bukan musuh, tapi salah sasaran. Bukannya melawan sistem, agama justru membantu rakyat bertahan dalam sistem yang salah. Marx tidak bilang Tuhan tidak ada. Ia hanya curiga: “Jangan-jangan Tuhan ini sering dijadikan tameng manajemen.”


Dari “Pendeta Salah” ke “Tuhan Tidak Perlu”

Masalah mulai membesar ketika komunisme jatuh cinta pada filsafat materialisme. Segala sesuatu harus bisa disentuh, dihitung, ditimbang. Kalau tidak bisa masuk neraca, dianggap fiktif. Tuhan? Tidak ada di laporan tahunan.

Di sinilah terjadi pergeseran sunyi:

  • Awalnya: “Pendeta salah.”
  • Lalu: “Agama menipu.”
  • Akhirnya: “Tuhan tidak relevan.”

Ini mirip orang yang kesal pada satpam, lalu menyimpulkan gedungnya harus dibongkar.


Ketika Negara Ingin Jadi Tuhan

Begitu komunisme berkuasa, ceritanya berubah drastis. Negara tidak mau saingan. Agama dianggap oposisi spiritual. Kalau rakyat patuh pada Tuhan, bisa-bisa mereka kurang patuh pada partai. Ini bahaya.

Maka terjadilah pembersihan:

  • Gereja ditutup
  • Masjid dicurigai
  • Pendeta dan ulama dipaksa memilih: diam atau menghilang

Negara mulai mengambil alih semua peran Tuhan:

  • Negara menentukan moral
  • Partai menentukan kebenaran
  • Ideologi menentukan dosa

Doa diganti slogan. Kitab diganti manifesto. Surga diganti masa depan revolusi—yang entah kenapa selalu dijanjikan, tapi tak pernah tiba.


Penutup: Dari Kritik ke Pengganti

Ironinya, komunisme yang lahir untuk membebaskan manusia dari penindasan, justru berakhir menghapus ruang batin manusia. Tuhan bukan sekadar ditolak, tapi digantikan oleh negara—yang tentu saja tidak maha pengasih, apalagi maha pengampun.

Kalau Penulis Favorit saya, alm Mahbud Junaedi, masih menulis, mungkin ia akan menutup begini:

“Komunisme gagal bukan karena terlalu keras pada Tuhan, tapi karena terlalu percaya bahwa negara bisa berlaku seperti Tuhan. Padahal, jangankan mengurus langit, mengurus antrean beras saja sering kacau.”

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ubi Ungu sebagai Pangan Fungsional: Potensi Antikanker dan Perannya dalam Pencegahan Penyakit Kronis

Next Post

Seni Mengatakan “Tidak” Tanpa Pernah Mengucapkannya: Pelajaran Cross-Cultural dari Meja Bisnis Jepang

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN
Economy

NASIB PETANI BERLAHAN SEMPIT DI TANAH MERDEKA!

March 4, 2026
Peringatan Rusia Jika AS Bantu Israel Serang Iran
Feature

An Idiot’s Leaders Are Not Easy to Predict Their Decisions Netanyahu, Trump, and the Attack on Iran

March 3, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Tak Ada Belasungkawa dari Prabowo

March 3, 2026
Next Post
Jepang “Korban” Perang Rusia Ukraina

Seni Mengatakan “Tidak” Tanpa Pernah Mengucapkannya: Pelajaran Cross-Cultural dari Meja Bisnis Jepang

Mas Madji & Aji Saka

Mas Madji & Aji Saka

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Jokowi-Aguan Punya Hidden Agenda dalam PSN PIK 2 untuk Kuasai Aset Negara Secara Ilegal
News

Bohong Soal Usul Inisiatif, Jokowi Punya Agenda Terselubung Bunuh KPK, Petrus Beber Fakta-faktanya

by Karyudi Sutajah Putra
March 1, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo bahwa dirinya setuju dengan pernyataan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham...

Read more
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

February 25, 2026
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN

NASIB PETANI BERLAHAN SEMPIT DI TANAH MERDEKA!

March 4, 2026
Senat AS Putuskan 68–32 untuk Menghukum Presiden, Trump Tolak Terima Putusan

Senat AS Putuskan 68–32 untuk Menghukum Presiden, Trump Tolak Terima Putusan

March 4, 2026
Peringatan Rusia Jika AS Bantu Israel Serang Iran

An Idiot’s Leaders Are Not Easy to Predict Their Decisions Netanyahu, Trump, and the Attack on Iran

March 3, 2026
Amalia Ramadan Digelar di SLB A YAPTI Makassar, Nur Haco Tegaskan Program Unggulan Gubernur Sulsel

Amalia Ramadan Digelar di SLB A YAPTI Makassar, Nur Haco Tegaskan Program Unggulan Gubernur Sulsel

March 3, 2026
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Tak Ada Belasungkawa dari Prabowo

March 3, 2026
Trump : Netanyahu Tidak Siap Menghadapi Serangan Hamas

Di Balik Manuver Trump: Panik Pemilu atau Penghambaan pada Lobi?

March 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN

NASIB PETANI BERLAHAN SEMPIT DI TANAH MERDEKA!

March 4, 2026
Senat AS Putuskan 68–32 untuk Menghukum Presiden, Trump Tolak Terima Putusan

Senat AS Putuskan 68–32 untuk Menghukum Presiden, Trump Tolak Terima Putusan

March 4, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...