Fusilatnews – Demo hari ini di DPR bukan sekadar kerumunan tanpa wajah. Ia tampak seperti panggung yang sengaja dibangun tanpa panggung resmi. Tidak ada KSPSI, tidak ada BEM, tidak ada parpol. Tapi justru karena itu, aroma operasi politik begitu kental.
Lihat polanya. Ajakan demo ini viral masif, seolah ada mesin yang mendorongnya. Bahasa tuntutannya terlalu ekstrem—“bubarkan DPR, hapus gaji anggota dewan”—itu bukan bahasa buruh, bukan bahasa mahasiswa, melainkan bahasa propaganda yang dibuat untuk menciptakan kebingungan publik. Tujuannya jelas: mengalihkan amarah rakyat agar tidak fokus pada isu sesungguhnya—korupsi, harga kebutuhan pokok, hingga nepotisme politik.
Dan siapa yang diuntungkan? Tidak lain adalah lingkaran Jokowi sendiri.
- Pertama, dengan adanya demo absurd ini, publik akan disuguhi tontonan bahwa oposisi jalanan lemah, tidak jelas, bahkan bisa ditertawakan. Efeknya? Kritik serius terhadap Jokowi dan kroninya akan kehilangan bobot.
- Kedua, DPR—yang saat ini sudah dipandang buruk—akan tampak sebagai institusi “korban.” Dari situ, rezim bisa mengklaim diri sebagai penyelamat demokrasi.
- Ketiga, momentum ini memberi dalih bagi aparat—yang dikendalikan oleh loyalis Jokowi—untuk memperketat pengawasan, menekan kelompok kritis, dan melabeli siapa pun yang melawan sebagai “perusuh.”
Bila ditarik lebih jauh, ada aroma partai penguasa yang ikut bermain. PDIP misalnya, bisa memanfaatkan kekacauan ini untuk mempertegas posisi sebagai “partai pelindung republik.” Di sisi lain, Golkar dengan ambisi barunya pasca Airlangga, mungkin sengaja membiarkan situasi ini untuk melihat siapa yang layak dikorbankan. Dan jangan lupa, bayangan Bahlil Lahadalia, orang kepercayaan Jokowi yang sedang dipoles jadi figur politik, bisa saja sedang menguji panggung untuk melihat seberapa mudah massa bisa digerakkan tanpa nama.
Lebih ekstrem lagi, banyak yang menduga operasi ini tidak lepas dari intelijen negara. Aparat bisa saja menjadi aktor tak terlihat yang sengaja meniup bara. Ini bukan hal baru di republik ini: menciptakan hantu, lalu datang dengan kostum pahlawan. False flag ala Nusantara.
Maka jangan heran jika hari ini terlihat seolah-olah rakyat marah tanpa arah. Sebab sesungguhnya, ada arah yang sudah dipasang: arah menuju konsolidasi kekuasaan Jokowi dan kroninya. Demo ini bukan milik rakyat, melainkan milik rezim yang sedang bermain wayang. Dan sayangnya, rakyatlah yang dipaksa jadi boneka di panggungnya.


























