• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Diplomasi “Budak” yang Sia-sia? Pelajaran Pahit dari Meja Washington

fusilat by fusilat
February 24, 2026
in Feature, Politik
0
Diplomasi “Budak” yang Sia-sia? Pelajaran Pahit dari Meja Washington
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nazaruddin

Sejarah diplomasi perdagangan Indonesia barangkali akan mencatat Februari 2026 sebagai bulan yang sarat ironi. Di satu sisi, pemerintah dengan nada pongah mengumumkan keberhasilan “menjinakkan” ancaman tarif Donald Trump melalui kesepakatan resiprokal serta bergabungnya Indonesia ke Board of Peace (BoP). Namun, hanya dalam hitungan jam setelah tinta perjanjian di Washington mengering, Mahkamah Agung Amerika Serikat menjatuhkan putusan yang membuat seluruh upaya “menyembah-nyembah” itu tampak naif—jika bukan memalukan.

Kalkulasi yang Amatir

Keputusan Indonesia memberikan konsesi luar biasa—membuka hampir 99 persen pasar domestik bagi produk Amerika Serikat, disertai komitmen pembelian energi dan pesawat Boeing dalam skala raksasa—dilakukan dengan satu landasan: ketakutan. Ketakutan terhadap tarif di atas 19 persen. Alih-alih bersikap tenang dan rasional, pemerintah memilih berlutut lebih awal demi ilusi “diskon tarif”, sementara banyak negara lain memilih tetap tegak, menunggu, dan membaca arah hukum yang sedang berproses di Amerika.

Hasilnya sungguh ironis. Mahkamah Agung AS justru menyatakan bahwa penggunaan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) sebagai dasar tarif Trump adalah ilegal. Dengan sendirinya, ancaman tarif yang selama ini dijadikan momok gugur demi hukum. Sayangnya, Indonesia sudah terlanjur mengikatkan diri dalam kontrak permanen: mengalirkan devisa ke AS dan menggelar karpet merah bagi produk mereka—padahal alasan utama semua konsesi itu kini tak lagi eksis.

Kita telah membayar “uang perlindungan” kepada seorang preman, hanya untuk mendapati bahwa senjatanya baru saja disita oleh hukum.

Terjebak di Labirin BoP

Keanggotaan Indonesia dalam BoP kini tampak seperti jebakan yang dipasang dengan tangan sendiri. Saat negara-negara lain berpotensi menikmati akses pasar AS tanpa tarif akibat putusan MA, Indonesia justru terkurung dalam kesepakatan tarif 19 persen yang ironisnya diklaim sebagai “keistimewaan”.

Inilah paradoks diplomasi yang menyakitkan: kita membayar mahal untuk sebuah status yang, secara hukum, seharusnya bisa kita peroleh tanpa biaya apa pun. Bukan hanya kehilangan keuntungan, tetapi juga kehilangan akal sehat dalam membaca momentum.

Gengsi Politik vs Realitas Hukum

Pertanyaan mendasar harus diajukan kepada tim negosiasi dan para menteri terkait. Apakah mereka benar-benar tidak memiliki kecakapan hukum internasional untuk membaca risiko dinamika hukum domestik Amerika Serikat? Ataukah dorongan untuk terlihat “mesra” dengan Trump telah menyingkirkan rasionalitas ekonomi dan kepentingan nasional?

Kini, ketika Trump justru bersiap menggunakan Section 122 dengan ancaman tarif baru sebesar 10 persen—lebih rendah dari kesepakatan Indonesia—kita sudah telanjur terkunci di angka 19 persen, lengkap dengan kewajiban impor yang mencekik industri nasional. Indonesia bukan hanya kehilangan daya tawar, tetapi juga kehilangan martabat di panggung internasional.

Waktunya Renegosiasi Total

Pemerintah tidak boleh sekadar mengurut dada dan menerima nasib sebagai korban salah hitung. Putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat adalah legal force majeure yang sah dan kuat untuk dijadikan dasar renegosiasi total. Kegagalan memanfaatkannya sama saja dengan mengkhianati kepentingan rakyat.

Jika tidak segera bertindak, rakyat Indonesia akan dipaksa membiayai kemakmuran petani dan buruh Amerika melalui impor wajib—semata karena pemerintahnya terlalu gentar menghadapi gertakan yang ternyata rapuh secara hukum. Diplomasi seharusnya dibangun di atas kedaulatan dan kecerdasan, bukan ketakutan yang berujung pada penggadaian nasib bangsa.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jebakan Tarif Trump: Indonesia Gadaikan SDA Demi Diskon Murah 19%

Next Post

Mencari Jalan Pemakzulan Prabowo

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH
Economy

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026
Feature

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Next Post
Paslon 02 Kalah: Kekuatan dan Ketidakpastian Putusan MK dengan 8 Hakim

Mencari Jalan Pemakzulan Prabowo

BOM ATOM BUDAYA: SEA-BLINGS MENGUJI KEDEWASAAN BANGSA KOREA

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

February 26, 2026
Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

February 26, 2026
Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

February 26, 2026

Surat Kaleng dan Harga Sebuah Nama Baik

February 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Doa sebagai Peredam Sifat Sombong dan Penggugur Dosa di Bulan Ramadhan

February 27, 2026
REBUTAN GABAH

SATU HARGA GABAH: MEMUTUS RANTAI TENGKULAK, ATAU SEKADAR ILUSI KESEJAHTERAAN PETANI?

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...