• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando

Ali Syarief by Ali Syarief
February 26, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Prabowo Identik dengan Trump: Kekuasaan, Kekayaan, dan Gaya Komando
Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu benang merah yang kerap luput dari perbincangan publik ketika membandingkan pemimpin populis lintas negara: relasi antara kekayaan, kekuasaan, dan gaya kepemimpinan. Dalam konteks inilah, perbandingan antara Prabowo Subianto dan Donald Trump menjadi relevan—bahkan mengkhawatirkan.

Tom Pepinsky, profesor ilmu pemerintahan dan kebijakan publik dari Cornell University, dalam wawancaranya menempatkan Prabowo dan Trump dalam satu spektrum kepemimpinan yang serupa. Bukan karena latar belakang ideologi yang identik, melainkan karena cara mereka memahami dan menikmati kekuasaan. Demokrasi Indonesia, menurut Pepinsky, berada dalam kondisi “sebelas-dua belas” dengan Amerika Serikat di era Trump: sama-sama berada dalam situasi bahaya.

Pertama, kekayaan. Baik Prabowo maupun Trump adalah figur yang tidak pernah hidup dalam kekurangan. Kekayaan bukan sekadar status ekonomi, tetapi juga membentuk cara pandang mereka terhadap negara. Kekuasaan diperlakukan layaknya aset: sesuatu yang bisa dikendalikan, diperintah, dan digunakan untuk memastikan loyalitas. Dalam logika ini, negara bukan ruang deliberasi publik, melainkan organisasi besar yang harus patuh pada satu komandan.

Kedua, gaya kepemimpinan komando. Trump dikenal gemar memberi perintah, memotong prosedur, dan meremehkan mekanisme checks and balances. Prabowo menunjukkan kecenderungan serupa: bahasa tubuh yang militeristik, narasi ketertiban, serta penekanan pada stabilitas di atas kebebasan. Dalam gaya ini, kritik dianggap gangguan, oposisi diposisikan sebagai ancaman, dan demokrasi direduksi menjadi sekadar hasil elektoral—bukan proses yang hidup.

Pepinsky menyoroti satu kesamaan penting lainnya: kenikmatan terhadap kekuasaan itu sendiri. Trump menikmati sorotan, kontroversi, dan kemampuan menakut-nakuti lawan politik. Prabowo, meski tampil lebih tertib secara retorika, juga memperlihatkan kenyamanan berada di pusat kendali. Ketakutan—baik dalam bentuk stigma, tekanan, maupun pembungkaman halus—menjadi instrumen politik yang sah.

Di sinilah demokrasi mulai retak. Ketika pemimpin merasa berhak memerintah tanpa perlu mendengar, ketika kekayaan memberi rasa kebal, dan ketika ketakutan dijadikan alat tata kelola, maka kebebasan sipil berada di ujung tanduk. Persis seperti judul wawancara Pepinsky di Tempo Plus: “Kebebasan Sipil dalam Bahaya.”

Tentu, ada perbedaan. Trump adalah figur global, selebritas politik yang hidup dari sensasi media internasional. Prabowo tidak memiliki magnet global sekuat itu. Namun, perbedaan ini bersifat kosmetik, bukan substantif. Bahayanya bukan pada popularitas global, melainkan pada pola kekuasaan yang direproduksi di dalam negeri.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar: apakah Prabowo sama dengan Trump?
Melainkan, apakah Indonesia siap menghadapi model kepemimpinan yang memuja komando, meminggirkan kritik, dan menempatkan demokrasi sebagai formalitas belaka?

Sebelum menjawab sepakat atau tidak, seperti yang disarankan Pepinsky, publik perlu membaca, berpikir, dan waspada. Karena sejarah menunjukkan: demokrasi jarang runtuh lewat kudeta. Ia lebih sering mati perlahan—lewat tepuk tangan rakyat yang terbuai oleh ketegasan seorang komandan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Surat Kaleng dan Harga Sebuah Nama Baik

Next Post

Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo
Feature

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)
Feature

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Next Post
Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Marhaban Ya Ramadhan, IKM Pare Gelar Buka Bersama di Cafe Puakale Pasar Minggu

Apakah Identitas Selalu Menjadi Faktor Penyelamat?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026
Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

Gelombang Migrasi Politik ke PSI Menguat, NasDem Terkikis—Isu Merger dengan Gerindra Mencuat

April 18, 2026
Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

Ketika Kritik Dipidanakan, Demokrasi Sedang Diuji (dengan Kasus Ubedilah dan Saiful Mujani)

April 18, 2026
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

Menguji Klaim Fahri Hamzah atas Kinerja Ekonomi Prabowo

April 18, 2026
Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

Mobil Listrik Tak Lagi Otomatis Bebas Pajak, Pemerintah Terapkan Skema Baru

April 18, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...