Jakarta – Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel yang menyiksa relawan Global Sumud Flotilla (GSF) selama masa penahanan.
Kecaman itu disampaikan melalui pernyataan bersama Menteri Luar Negeri Indonesia, Turki, Jordania, Qatar, Mesir, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, kemarin.
Saat menjemput kedatangan 9 warga negara Indonesia (WNI) relawan GSF yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026) sore, Menteri Luar Negeri RI Sugiono, atau Kak Sugiono karena usianya masih relatif muda, yakni 47 tahun, juga menyampaikan kecaman kepada Israel.
“Tindakan sewenang-wenang yang merendahkan martabat warga sipil dalam misi kemanusiaan adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter,” ujar Kak Sugiono yang juga Sekretaris Jenderal Partai Gerindra.
Mengapa Kak Sugiono seperti orang kebakaran jenggot, padahal dia sendiri tak punya jenggot?
Mungkin karena gagap. Dia tidak punya basis diplomatik. Dia berbasis militer, pangkat menengah, seperti Teddy Indra Wijaya yang menjadi Sekretaris Kabinet, sehingga bisa dibilang terjadi inflasi pejabat, seperti Teddy bilang, ada fenomena inflasi pengamat karena kritik yang dilontarkan tak sesuai dengan latar belakang pendidikan pengamat itu.
Saat melontarkan kecaman kepada Israel, Kak Sugiono mungkin pura-pura tahu hukum internasional. Pura-pura tahu hukum humaniter. Ini jika dilihat dari pernyataan dia sebelumnya.
Sebelumnya, saat berita pencegatan kapal-kapal GSF di perairan internasional menuju Gaza, Palestina, oleh pasukan Israel mencuat, Kak Sugiono terlihat tenang-tenang saja. Bahkan dia seolah menyalahkan para relawan di satu pihak, dan membela Israel di lain pihak.
Kak Sugiono mengatakan, para relawan yang ditangkap pasukan Israel itu, temasuk 9 WNI, sudah tahu risiko berlayar menuju Gaza.
Apa yang dilakukan tentara Israel, kata Kak Sugiono, juga bukan penculikan atau penyanderaan, melainkan penangkapan karena memang semua kapal misi kemanusiaan yang menuju Gaza tidak diperbolehkan oleh Israel.
Kini, setelah semua relawan GSF, termasuk 9 WNI, sudah dilepaskan dengan bantuan tiga negara, yakni Turkiye, Jordania dan Mesir, Kak Sugiono baru melontarkan kecaman.
Saat penahanan masih berlangsung dan video penyiksaan terhadap relawan oleh tentara Israel viral di media sosial, Indonesia seakan tak berdaya. Kak Sugiono berdalih, Indonesia tak punya hubungan diplomatik dengan Israel, sehingga upaya pembebasan 9 WNI dilakukan melalui negara ketiga seperti Turkiye, Jordania dan Mesir.
Bukankah Indonesia dan Israel sama-sama anggota Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sehingga Presiden Prabowo Subianto mestinya bisa memanfaatkan forum itu untuk melobi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, atau melalui Donald Trump kalau tak bisa langsung ke Netanyahu?
Prabowo selama ini juga terkesan membela Israel dengan menyatakan Israel pun harus mendapatkan jaminan keamanan bila Palestina dan Israel mau berdamai.
Bukankah yang mencaplok wilayah Palestina adalah Israel? Bukankah yang kerap memerangi Palestina adalah Israel yang didukung AS?
Sebagai negara penjajah, Israel dengan sendirinya mendapatkan jaminan keamanan, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh AS dan sekutu-sekutunya. Bilamana Palestina melakukan serangan, itu tak lebih dari sekadar upaya membela atau mempertahankan diri. “Pertahanan terbaik adalah menyerang,” kata Sun Tzu (544-496 SM).
Mestinya, dengan sikap Prabowo yang cenderung berpihak ke Israel, Ketua Umum Partai Gerindra itu bisa berkomunikasi langsung dengan Netanyahu, meski sebatas “person to person”, bukan “government to government”. Kalau tidak, buat apa bela-bela Israel?
Ironisnya, di media sosial ada yang memuji-muji Prabowo. Katanya, pembebasan 9 WNI oleh Israel itu berkat lobi-lobi rahasia Prabowo. Padahal, Kak Sugiono sendiri seperti orang kebakaran jenggot. Alamak!


























