• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Badan Ekspor Komoditas Strategis: Belajar dari Negara Lain, Menghindari Lubang yang Sama

Ali Syarief by Ali Syarief
May 25, 2026
in Economy, Feature
0
Badan Ekspor Komoditas Strategis: Belajar dari Negara Lain, Menghindari Lubang yang Sama
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Di tengah wacana pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis, muncul satu kalimat yang segera memancing perhatian: eksportir tidak lagi melakukan ekspor langsung kepada buyer luar negeri. Kalimat itu terdengar sederhana, namun implikasinya tidak sederhana. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar lahirnya sebuah lembaga baru, melainkan perubahan filosofi perdagangan nasional: dari sistem di mana pelaku usaha berhubungan langsung dengan pasar global menuju sistem di mana negara atau badan tertentu menjadi perantara utama.

Pertanyaannya bukan apakah gagasan seperti ini pernah ada. Dunia sudah berkali-kali mencobanya. Pertanyaan yang lebih penting ialah: apa yang dapat dipelajari Indonesia dari pengalaman negara lain?

Negara-negara besar tidak memiliki satu pola yang seragam dalam mengelola komoditas strategis. Mereka menyesuaikannya dengan karakter ekonomi, budaya politik, dan tujuan nasionalnya.

China, misalnya, selama bertahun-tahun menjadikan negara sebagai pemain utama dalam komoditas yang dianggap sensitif. Mineral tanah jarang, energi, hingga beberapa komoditas pertanian berada dalam pengawasan ketat. Negara tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai aktor ekonomi melalui perusahaan-perusahaan negara. Tujuannya jelas: menjaga keamanan ekonomi dan memperkuat posisi tawar dalam pasar internasional.

Hasilnya memang terlihat mengesankan. China mampu menggunakan sumber daya strategisnya sebagai instrumen geopolitik dan ekonomi. Namun, sistem seperti ini hanya berjalan karena ditopang oleh kapasitas birokrasi yang besar, koordinasi yang kuat, serta disiplin kelembagaan yang ketat. Negara yang meniru bentuknya tanpa memiliki fondasi serupa justru dapat terjebak dalam birokrasi berlapis.

Berbeda dengan China, Malaysia pada sektor sawit memilih pendekatan yang lebih lunak. Negara hadir melalui lembaga pengelola dan pemasaran, namun perusahaan tetap memiliki ruang untuk berhubungan langsung dengan pasar internasional. Pemerintah lebih banyak bertindak sebagai pengatur standar, promotor, dan penjaga kepentingan nasional ketimbang menjadi satu-satunya penjual.

Model seperti ini tampaknya lebih fleksibel. Negara memperoleh kendali, sementara pelaku usaha tetap memiliki ruang kompetisi. Hubungan antara pemerintah dan pasar bukan hubungan majikan dengan bawahan, melainkan hubungan kemitraan.

Pengalaman lain datang dari Kanada melalui Canadian Wheat Board. Selama bertahun-tahun, lembaga tersebut menjadi satu pintu pemasaran gandum. Petani tidak menjual langsung ke pasar internasional, melainkan melalui badan tersebut.

Argumen pendukungnya sangat menarik: jika seluruh pasokan dikumpulkan dalam satu tangan, posisi tawar terhadap pembeli global menjadi lebih kuat dan harga lebih stabil.

Namun, seiring waktu, muncul kritik. Banyak petani menganggap sistem itu mengurangi kebebasan mereka untuk menentukan pasar terbaik. Sebagian merasa insentif berinovasi dan mencari peluang baru menjadi berkurang. Pada akhirnya, dominasi lembaga itu dipangkas.

Pelajaran dari Kanada menunjukkan bahwa konsolidasi pasar dapat memberikan kekuatan, tetapi juga dapat melahirkan ketergantungan.

Sementara itu, New Zealand menunjukkan bentuk lain yang menarik. Ekspor susu mereka banyak dikuasai Fonterra. Namun berbeda dari model monopoli negara, Fonterra merupakan koperasi yang dimiliki para petani sendiri.

Di sini terdapat pelajaran penting: sentralisasi tidak selalu berarti negara mengambil alih. Sentralisasi juga bisa lahir dari kekuatan kolektif pelaku usaha. Negara cukup menjadi penjaga aturan, sedangkan pelaku pasar menjadi penggerak utama.

Lalu Indonesia sebaiknya ke mana?

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam model sentralisasi. Pada masa lalu, berbagai tata niaga pernah dipusatkan melalui lembaga tertentu dengan tujuan menstabilkan harga dan melindungi kepentingan nasional. Sebagian berhasil, sebagian justru melahirkan cerita panjang mengenai rente dan perburuan akses.

Di sinilah letak persoalannya. Di atas kertas, badan khusus ekspor komoditas strategis dapat terdengar menjanjikan: memperkuat posisi tawar, meningkatkan pengawasan devisa, dan memastikan manfaat ekonomi tidak mengalir keluar negeri.

Tetapi sejarah mengajarkan bahwa setiap pintu tunggal selalu menyimpan dua kemungkinan: menjadi gerbang efisiensi atau menjadi loket baru bagi kekuasaan.

Perbedaannya terletak bukan pada nama lembaganya, tetapi pada tata kelolanya.

Jika badan itu sekadar menjadi pengatur standar, fasilitator pasar, dan penguat daya saing nasional, kemungkinan manfaatnya cukup besar.

Namun jika badan tersebut menjadi satu-satunya jalur yang harus dilewati seluruh eksportir, maka pertanyaan besar akan segera muncul: siapa yang mengawasi pengawas?

Dalam ekonomi modern, kekuatan terbesar bukan terletak pada siapa yang menguasai barang, melainkan pada siapa yang menguasai akses.

Dan sejarah menunjukkan, akses yang terlalu terpusat sering kali lebih berbahaya daripada kelangkaan komoditas itu sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

Next Post

Memahami Posisi Yuridis dan Realisme Geopolitik Atas Polemik Misi Gagal GFS

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup
Crime

Paradoks MOTAH 65: Ketika Pemerintah Takut Asap Kebakaran, tetapi Membangun Mesin Pembakar Sampah

July 16, 2026
Feature

Sapu yang Bersih Integritas adalah Amanah (Pelajaran Al-Qur’an dan Hadits tentang Penegakan Hukum)

July 16, 2026
Next Post
Memahami Posisi Yuridis dan Realisme Geopolitik Atas Polemik Misi Gagal GFS

Memahami Posisi Yuridis dan Realisme Geopolitik Atas Polemik Misi Gagal GFS

Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan

Siluet Pesta Babi : Masalah Papua dari Kacamata Internasional: Ketika Jakarta Dinilai Gagal Membaca Kedalaman Persoalan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?
Feature

Mengamputasi Febrie, Mengantar Reda Manthovani?

by Karyudi Sutajah Putra
July 11, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Akhirnya, Febrie Adriansyah berhasil diamputasi. Jaksa Agung Muda Bidang Tindak...

Read more
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

July 10, 2026
Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

Geng Trunojoyo Vs Geng Gedung Bundar, Siapa Menang?

July 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI yang Rusak Criminal Justice System

July 16, 2026
Operasional Mesin Olah Runtah di Jawa Barat Dihentikan Usai Dikritik Menteri Lingkungan Hidup

Paradoks MOTAH 65: Ketika Pemerintah Takut Asap Kebakaran, tetapi Membangun Mesin Pembakar Sampah

July 16, 2026
Kejagung Hina Publik, KPK Harus Ambil Alih Kasus Mantan Jampidsus

Kejagung Hina Publik, KPK Harus Ambil Alih Kasus Mantan Jampidsus

July 16, 2026

Sapu yang Bersih Integritas adalah Amanah (Pelajaran Al-Qur’an dan Hadits tentang Penegakan Hukum)

July 16, 2026
Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

Demagogi: Ketika Politik Memainkan Ketakutan dan Kebencian Massa

July 16, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

CARA PRABOWO MEMUTUS DI TENGAH KRISIS KEPERCAYAAN

July 16, 2026
AJI Jakarta dan LBH Pers Desak Panglima TNI Usut Kasus Intimidasi Jurnalis di Kantor Kejagung

Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI yang Rusak Criminal Justice System

July 16, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist