By Paman BED
Di sudut masjid, selepas rakaat terakhir shalat sunnah, seorang pemuda duduk bersimpuh. Pakaiannya rapi. Wajahnya terdidik. Bahasa tubuhnya memancarkan keyakinan—ia bukan orang sembarangan. Barangkali berilmu. Barangkali berkecukupan. Barangkali memiliki jabatan yang membuat orang lain berdiri memberi hormat.
Namun di hadapan Allah, ia hanyalah seorang hamba.
Kedua telapak tangannya menengadah. Matanya sembab. Air mata mengalir—bukan karena kalah tender, bukan karena kehilangan jabatan, bukan pula karena proyek yang gagal. Ia menangis dalam bahagia yang hening. Wajahnya teduh. Tidak ada sisa kesombongan yang dipertahankan.
Di bulan Ramadhan, pemandangan seperti itu terasa berbeda.
Langit seakan lebih dekat.
Pintu ampunan terasa lebih terbuka.
Dan jiwa-jiwa diberi kesempatan untuk pulang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar.
Ia adalah bulan menundukkan ego.
Menundukkan “Tongkat” Ego
Melihat pemuda itu, ingatan saya melayang pada dialog Allah dengan Nabi Musa dalam QS. Thaha ayat 17–18.
Allah bertanya:
“Apakah itu yang di tangan kananmu, wahai Musa?”
Musa menjawab dengan jujur, manusiawi, bahkan detail:
“Ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya, dan aku memukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada keperluan lain padanya.”
Tongkat itu bukan benda biasa.
Ia simbol identitas.
Simbol kekuatan.
Simbol rasa aman.
Lalu Allah berfirman:
“Lemparkanlah ia, wahai Musa.” (QS. Thaha: 19)
Setiap kita memiliki “tongkat” masing-masing:
gelar akademik, rekening bank, jabatan, relasi, reputasi, bahkan pengaruh.
Dan ketika kita berdoa dengan sungguh-sungguh, sesungguhnya kita sedang melemparkan tongkat itu—mengakui bahwa semua yang kita genggam bisa runtuh tanpa izin-Nya.
Allah mengingatkan:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka dalam keadaan hina.”
(QS. Al-Mu’min: 60)
Perhatikan baik-baik:
meninggalkan doa disebut sebagai kesombongan.
Maka doa bukan sekadar permintaan.
Ia adalah deklarasi kerendahan hati.
Di bulan Ramadhan, ketika perut kosong dan haus terasa nyata, kita dipaksa jujur pada diri sendiri: kita ini fakir.
Dan Allah menegaskan:
“Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)
Logika Langit dalam Pengabulan Doa
Sering kali kita merasa doa tidak dijawab.
Kita meminta A, Allah memberi B.
Kita ingin sekarang, Allah menunda.
Padahal Rasulullah ﷺ menjelaskan, dalam hadits riwayat Ahmad, bahwa setiap doa—selama tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi—akan dikabulkan dengan salah satu dari tiga cara:
Disegerakan di dunia.
Disimpan sebagai pahala di akhirat.
Dialihkan dengan dijauhkan dari keburukan yang setara nilainya.
Allah bekerja dengan logika langit, bukan logika timeline manusia.
Bukankah Allah sudah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu…”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Di bulan Ramadhan, doa memiliki momentum istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa musafir, dan doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka.”
(HR. Tirmidzi)
Bayangkan.
Setiap menjelang adzan Maghrib, ada jendela langit yang terbuka lebar.
Pertanyaannya sederhana:
kita sibuk menyiapkan menu, atau menyiapkan doa?
Doa: Penghapus Dosa dan Pembersih Hati
Doa bukan daftar belanjaan spiritual.
Ia adalah istighfar yang mengalir dari hati yang sadar akan kekurangannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ampunan itu tidak jatuh ke hati yang keras.
Ia lahir dari jiwa yang mengaku salah.
Air mata dalam doa adalah cairan pembersih karat kesombongan.
Orang sombong merasa cukup dengan dirinya.
Orang yang berdoa sadar bahwa dirinya tidak cukup tanpa Allah.
Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ menyebut doa sebagai inti ibadah—karena di dalamnya ada penghambaan total.
Ketika kita berkata, “Ya Allah, ampuni aku,”
sesungguhnya kita sedang menghancurkan berhala ego dalam diri.
Ramadhan: Musim Keberkahan Doa
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah.
Ia adalah musim diskon pahala.
Satu amal sunnah bernilai seperti wajib.
Satu amal wajib dilipatgandakan berkali-kali.
Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa yang lahir dari jiwa yang berpuasa memiliki bobot spiritual yang berbeda.
Ada lapar yang melembutkan hati.
Ada haus yang meruntuhkan ego.
Dan perhatikan: ayat paling indah tentang doa justru hadir di tengah-tengah ayat puasa:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Allah tidak berkata, “Katakanlah Aku dekat.”
Allah langsung berkata, “Aku dekat.”
Tanpa perantara.
Refleksi
Hidup ini bukan tentang seberapa kuat kita menggenggam tongkat dunia,
melainkan seberapa siap kita melepaskannya ketika Allah berkata:
“Sudah waktunya.”
Doa adalah latihan melepaskan.
Latihan merendah.
Latihan mengakui keterbatasan.
Sebelum tongkat itu benar-benar jatuh saat maut menjemput,
semoga kita telah belajar menggenggamnya sebagai amanah—bukan sebagai kebanggaan.
Doa di Bulan Ramadhan
Ya Allah, di bulan yang penuh ampunan ini,
lembutkan hati kami yang mengeras oleh ambisi.
Runtuhkan kesombongan yang bersembunyi di balik gelar dan jabatan.
Ampuni dosa-dosa kami yang tampak maupun tersembunyi.
Ya Allah, jadikan doa-doa kami peredam ego dan penggugur dosa.
Jika Engkau kabulkan, jadikan itu kebaikan.
Jika Engkau tunda, jadikan itu pahala.
Jika Engkau alihkan, jadikan itu perlindungan.
Ya Allah, pertemukan kami dengan malam Lailatul Qadar.
Ampuni kami, orang tua kami, dan guru-guru kami.
Jadikan Ramadhan ini titik balik menuju hati yang lebih tawadhu’
dan hidup yang lebih berkah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Saran bagi Kita Semua
Jangan berhenti mengetuk. Allah mencintai hamba yang terus meminta.
Periksa niat. Jangan sampai doa tercampur riya atau permintaan yang melanggar syariat.
Perbanyak doa menjelang berbuka dan di sepertiga malam.
Semakin tinggi jabatan, semakin lama sujud.
Karena pada akhirnya,
yang meninggikan derajat bukanlah jabatan—
melainkan kerendahan hati di hadapan Allah.
Referensi:
Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Mu’min: 60; QS. Al-Baqarah: 186, 216; QS. Thaha: 17–21; QS. Fathir: 15.
HR. Ahmad tentang tiga cara pengabulan doa.
HR. Bukhari dan Muslim tentang keutamaan Ramadhan dan puasa.
HR. Tirmidzi tentang doa orang yang berpuasa.
By Paman BED


















