Mereka bilang, pemakzulan presiden adalah soal angka. Soal berapa kursi di DPR, berapa suara di jalan, berapa ratus ribu yang tanda tangan di petisi. Tapi sejarah tak selalu menulis kebenaran dengan kalkulasi. Kadang, sejarah hanya butuh satu orang yang cukup gelisah.
Khomeini tidak pernah memimpin barisan massa di Teheran saat ia pertama kali menggugat Shah. Ia di pengasingan, jauh dari jantung kekuasaan. Tapi ia punya sesuatu yang lebih dahsyat daripada jumlah: ia punya keyakinan. Bukan keyakinan untuk mengganti kekuasaan demi kekuasaan, tapi untuk menyalakan bara di dada bangsa yang telah lama disulut ketakutan.
Di negeri ini, tiga ratus purnawirawan bicara. Angka yang bagi sebagian mungkin terdengar biasa, tapi ia lebih dari cukup. Sebab sejarah tahu: keraguan tak pernah bisa melahirkan perubahan, tapi kegelisahan yang jernih bisa. Seperti Silvester Matutina—satu nama yang mungkin hanya jadi catatan kaki di laporan redaksi. Tapi ia pernah jadi simbol, bahwa keberanian bisa lahir dari orang biasa. Ia mengingatkan kita, terkadang negara bisa terlalu besar untuk mendengar, dan terlalu kerdil untuk mengerti.
Jadi, jika tiga ratus itu bicara, bukan soal jumlahnya. Tapi karena mereka memutuskan untuk tidak diam. Dalam dunia yang sibuk menyembunyikan luka dengan statistik, diam adalah pengkhianatan.
Mereka mungkin ditertawakan. Mungkin dianggap tua. Tapi jangan lupa, sejarah Indonesia justru banyak digerakkan oleh mereka yang sudah tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan—kecuali kebenaran. Dan kebenaran, dalam pengasingannya yang sunyi, selalu menunggu untuk disebut.
Maka tidak perlu ribuan. Tidak perlu triliunan. Pemakzulan—jika itu lahir dari nurani—cukup digulirkan oleh hati yang tidak bisa lagi diajak berkompromi.
Dan di ujungnya, kita pun tahu: perubahan tidak selalu dimulai dari pekik. Ia bisa berawal dari bisik.
Bisik yang tajam. Yang menyayat.
Yang tak bisa lagi dibungkam.

























