• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi

Ali Syarief by Ali Syarief
April 13, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Rakyat Takut Prabowo: Ketika Bayang-Bayang Militer Membungkam Demokrasi
Share on FacebookShare on Twitter

Ada sesuatu yang ganjil, bahkan mengkhawatirkan, dalam denyut demokrasi hari ini. Data dari Lembaga Survei Indonesia yang dipaparkan oleh Djayadi Hanan pada 12 April 2026 seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai angka statistik. Ia adalah sinyal. Alarm. Bahkan bisa disebut sebagai gejala awal dari kemunduran yang lebih sistemik.

Sebanyak 53 persen responden menyatakan bahwa masyarakat Indonesia selalu atau sering takut berbicara soal politik. Angka ini bukan sekadar mayoritas tipis—ini adalah cerminan atmosfer psikologis publik. Ketakutan telah menjadi pengalaman kolektif. Dan dalam sejarah politik mana pun, ketika rasa takut mulai menguasai ruang publik, maka demokrasi sedang berjalan mundur.

Ironisnya, survei yang sama menunjukkan 97 persen responden merasa bebas menjalankan agama. Artinya, kebebasan sipil tidak sepenuhnya hilang—ia selektif. Ada ruang yang dibiarkan terbuka, tetapi ada pula ruang yang secara perlahan dipersempit. Politik menjadi wilayah yang sensitif, bahkan berbahaya.

Nama Prabowo Subianto tidak bisa dilepaskan dari konteks ini. Latar belakangnya sebagai mantan jenderal, dengan sejarah panjang dalam struktur militer Orde Baru, membawa konsekuensi psikologis tersendiri dalam persepsi publik. Bahkan tanpa tindakan represif yang kasat mata sekalipun, memori kolektif bangsa ini terhadap militerisme tetap hidup—dan memengaruhi cara masyarakat merespons kekuasaan.

Dalam rezim militer, atau rezim yang beraroma militeristik, kontrol tidak selalu hadir dalam bentuk larangan formal. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus: pengawasan tak kasat mata, kriminalisasi yang selektif, atau bahkan sekadar narasi yang menakutkan. Ketakutan tidak harus dipaksakan—cukup ditanamkan.

Dan tampaknya, benih itu telah tumbuh.

Ketika 12 persen responden mengatakan masyarakat “selalu takut” dan 41 persen mengatakan “sering takut,” maka kita sedang berbicara tentang normalisasi ketakutan. Ini bukan lagi pengecualian. Ini adalah kondisi umum. Sebuah demokrasi yang sehat tidak menghasilkan warga yang takut berbicara tentang politik—ia justru mendorong partisipasi, kritik, dan perdebatan terbuka.

Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya: publik mulai menarik diri. Diskursus politik bergeser dari ruang terbuka ke ruang-ruang privat, bahkan anonim. Media sosial dipenuhi kehati-hatian. Kritik dibungkus. Satire menjadi samar. Semua ini adalah tanda-tanda klasik dari masyarakat yang sedang menyesuaikan diri dengan tekanan kekuasaan.

Apakah ini berarti Indonesia telah menjadi negara militer? Tidak secara formal. Tetapi secara psikologis dan kultural, gejala ke arah itu mulai terasa.

Lebih berbahaya lagi, kondisi ini sering kali dibungkus dengan stabilitas. Pemerintah bisa saja mengklaim bahwa situasi aman, ekonomi berjalan, dan konflik minim. Namun stabilitas yang dibangun di atas ketakutan bukanlah stabilitas sejati—ia rapuh. Ia bisa runtuh sewaktu-waktu ketika tekanan mencapai titik jenuh.

Demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan. Ia adalah soal keberanian warga untuk bersuara tanpa rasa takut. Ketika keberanian itu hilang, maka yang tersisa hanyalah prosedur tanpa substansi.

Angka 53 persen itu bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin. Dan pertanyaannya sekarang sederhana namun mendasar: apakah kita akan mengabaikan pantulan itu, atau justru berani menatapnya dengan jujur?

Sebab jika ketakutan terus dibiarkan, maka suatu hari nanti, kita mungkin tidak hanya takut berbicara tentang politik—tetapi juga kehilangan kemampuan untuk melakukannya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Nasib Para Pensiunan Kelak: Lonjakan Klaim Jadi Sinyal Tekanan Dana Pensiun

Next Post

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026
Economy

EKONOMI KEDAULATAN NASIONAL; JALAN TENGAH ANTARA NEGARA PASIF DAN NEGARA SERAKAH

May 29, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun
Economy

Rupiah Melemah, Intervensi Bank Indonesia Bukan Solusi Tunggal

May 29, 2026
Next Post
Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Anomali Belanja BGN di Tengah Narasi Efisiensi Negara

Citronella Oil Produk Andalan (Rencana Jangka Pendek 5 Tahun: Model Bisnis 2 untuk Kesejahteraan Petani melalui Koperasi)

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026

EKONOMI KEDAULATAN NASIONAL; JALAN TENGAH ANTARA NEGARA PASIF DAN NEGARA SERAKAH

May 29, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun

Rupiah Melemah, Intervensi Bank Indonesia Bukan Solusi Tunggal

May 29, 2026
Gula-gula Prabowo

Gula-gula Prabowo

May 29, 2026
Belajar Memanusiakan Sesama: Menyelami Dunia yang Selama Ini Terabaikan

Belajar Memanusiakan Sesama: Menyelami Dunia yang Selama Ini Terabaikan

May 29, 2026
Kiai Kok “Ngaceng”-an?

Kiai Kok “Ngaceng”-an?

May 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Ilmu Dipisahkan dari Agama (3)

May 30, 2026

EKONOMI KEDAULATAN NASIONAL; JALAN TENGAH ANTARA NEGARA PASIF DAN NEGARA SERAKAH

May 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...