Oleh: Ali Syarief
Pernyataan Ulil Abshar Abdalla tentang “zero mining itu goblog” terdengar seperti komentar yang sengaja dilempar untuk memancing tepuk tangan dari kerumunan yang sudah sepakat lebih dulu. Sebuah penghakiman populer, nyaring, dan percaya diri—walau sayangnya tidak secerdas volume suaranya. Di era ketika dunia sedang kehabisan napas menghadapi krisis iklim, menyebut zero mining goblog adalah seperti berdiri di tengah rumah kebakaran dan berteriak lantang bahwa kita tak perlu memikirkan air karena “semua rumah juga punya api.”
Mari kita mulai dari akar kekeliruannya: generalisasi malas. Semua negara memang melakukan mining, benar. Tapi menyimpulkan dari sana bahwa gagasan zero mining goblog adalah lompatan logika setara atlet senam olimpiade—hanya saja jatuhnya tidak elegan. Mining bukan satu paket tunggal yang bisa digebyah-uyah sebagai “boleh” atau “goblok.” Seperti halnya makan nasi: semua orang makan nasi, tetapi kalau makannya 28 piring sampai kolesterol meledak, itu sudah bukan lagi soal makanan, melainkan kebodohan gaya hidup.
Begitu pula mining.
Yang disebut goblog sesungguhnya bukan impian mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang merusak—tetapi praktik mining yang menghancurkan hutan, mematikan sungai, merusak tanah, meracuni masyarakat adat, dan menghasilkan keuntungan jangka pendek sambil meninggalkan krater seperti luka perang. Itu baru goblog pangkat dua, plus bonus piagam “Kebodohan Abadi Atas Nama Kalkulator Ekonomi.”
Pernyataan Ulil juga mengandung aroma khas intellectual laziness, kemalasan berpikir yang dibungkus kepedean akademik. Ia mengambil fakta setengah matang—bahwa semua negara mining—lalu menghidangkannya sebagai kebenaran absolut, tanpa bumbu etika, tanpa rempah ekologis, dan tanpa kuah kesadaran bahwa dunia sedang kesulitan bernapas. Padahal, kalau mau sedikit saja menengok ke luar jendela, kita akan melihat bahwa banyak negara sudah mulai meninggalkan mining kotor. Mereka mencari alternatif, memperbaiki teknologi, mengurangi dampak lingkungan, bahkan menghapus jenis mining tertentu secara total.
Sebutkan satu negara yang tidak memikirkan kelestarian lingkungannya? Sulit. Sebutkan satu negara yang bangga merusak hutan secara membabi buta? Mungkin ada—tapi kita tentu tidak ingin menyamakan standar moral dengan negara-negara yang dikritik dunia karena melubangi bumi seperti tikus lapar dalam baju perusahaan.
Zero mining bukan tentang menutup semua tambang lalu hidup dengan menyalakan lilin bambu. Ia adalah gagasan untuk menghentikan praktik mining yang menghancurkan bumi, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, beralih ke produk teknologi rendah emisi, dan memaksa industri mencari inovasi yang tidak mengambil nyawa planet ini. 
Jika Ulil mau membaca lebih jeli, banyak negara sudah menuju ke sana. Jerman menutup tambang batu bara tua dan memperkuat energi angin. Denmark hampir 70 persen listriknya dari terbarukan. Islandia memanfaatkan panas bumi tanpa merusak biji batu satu pun. Bahkan dunia kripto pun mulai meninggalkan proof-of-work yang rakus energi.
Jadi siapa yang goblog di sini?
Mereka yang mencari cara baru agar bumi tidak ambruk?
Atau mereka yang masih percaya bahwa menambang habis-habisan di abad krisis iklim adalah tindakan cerdas?
Retorika Ulil juga menyimpan bahaya lain: ia bisa dipakai oleh industri rakus sebagai tameng pembenar. Pernyataannya menjadi semacam karpet merah bagi praktik-praktik tambang yang merusak lingkungan. Karena apa? Karena “tokoh intelektual” bilang zero mining goblog. Selesai. Tinggal pakai buat bahan presentasi direksi.
Inilah alasan mengapa kritik tajam diperlukan. Bukan untuk menyerang pribadi Ulil, melainkan untuk membongkar cara berpikir yang berpotensi membahayakan publik. Pandangan yang ogah mengakui kerusakan ekologis, ogah melihat bahwa manusia kini sedang hidup dalam darurat iklim, ogah memperbaiki sistem energi yang sudah jelas membuat bumi demam dengan suhu nyaris tak turun lagi.
Sementara itu, kenyataan di hadapan kita sangat sederhana: bumi makin panas, hutan makin tipis, sungai makin kotor, dan udara makin penuh racun. Jika ada ide zero mining—atau minimal transisi dari mining kotor ke mining bersih—itu sejatinya tanda akal sehat sedang bekerja. Menyebutnya goblog adalah seperti memaki dokter hanya karena ia menyarankan diet pada pasien obesitas.
Zero mining bukan utopia naif. Ia adalah kritik terhadap kerakusan industri dan kegagalan pemerintah mengatur eksploitasi. Ia adalah bentuk kesadaran bahwa manusia tidak bisa terus menggali bumi seperti menggali liang kuburnya sendiri. Bahwa ada batas. Bahwa ada kehidupan setelah tambang tutup—dan biasanya itu kehidupan yang penuh kerusakan dan penderitaan lingkungan jika tidak direncanakan dengan benar.
Jadi, mari kita letakkan posisi yang tepat:
Ulil menganggap zero mining goblog.
Saya menganggap mining yang merusak alam adalah goblog pangkat dua.
Dan sejarah berpihak pada siapa? Pada mereka yang menyelamatkan bumi, bukan pada mereka yang membelanya hancur-hancuran.
Pada akhirnya, tegas harus dikatakan: zero mining bukan kebodohan; ia justru alarm bagi kecerdasan kita yang masih bekerja. Zero mining adalah kritik terhadap keserakahan industri, terhadap negara yang malas memperbaiki kebijakan energi, terhadap budaya eksploitasi yang hanya pandai menghitung hari ini dan buta terhadap masa depan.
Yang goblog itu bukan impian berhenti merusak.
Yang goblog adalah orang-orang yang membiarkan bumi dilubangi tanpa merasa bersalah.
Yang goblog adalah mereka yang membela kehancuran sambil mengejek perbaikan.
Yang goblog adalah mereka yang mengira planet ini bisa diganti kalau rusak.
Dan jika ada yang masih bersikeras bahwa zero mining itu goblog, mungkin itu hanya karena mereka belum melihat lubang besar di tanah yang diam-diam juga adalah lubang besar dalam cara berpikir mereka.

Oleh: Ali Syarief






















