• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Jenderal yang Menjadi Pejabat Sipil, Pengusaha Besar, Paling Kaya: Ketika Kekuasaan Menjelma Arogansi

Ali Syarief by Ali Syarief
December 5, 2025
in Feature, Tokoh/Figur
0
Pesan LBP dari Singapura; “Jangan Musuhan di Tahun Politik”
Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnwes – Dalam negara demokrasi, perpindahan seorang jenderal ke jabatan sipil semestinya menjadi proses yang diawasi ketat oleh prinsip akuntabilitas. Namun, di Indonesia, transformasi ini sering melahirkan sosok yang berjarak dari semangat reformasi. Ketika seorang mantan petinggi militer masuk ke ruang birokrasi lalu menumpuk kekayaan melalui jejaring bisnis yang luas, risiko penyimpangan semakin besar: arogansi meningkat, kritik dianggap ancaman, dan kekuasaan terasa tanpa batas.
Fenomena ini menemukan simbolnya pada gaya kepemimpinan pejabat-pejabat yang menjelma “super-aktor”—berkuasa di eksekutif, berpengaruh di politik, dan sekaligus kuat dalam dunia usaha.

Militer Masuk ke Sipil: Jejak yang Belum Dituntaskan

Reformasi 1998 berupaya memisahkan militer dari politik, tetapi kenyataannya, banyak jenderal purnawirawan kembali tampil menjadi pejabat sipil. Masalahnya bukan sekadar status mereka, melainkan watak kekuasaan yang mereka bawa: kultur komando, kebenaran tunggal, dan orientasi perintah.
Dalam ranah sipil yang menuntut diskusi, transparansi, dan kritik, kultur ini sering kali melahirkan friksi. Ketika seorang mantan jenderal memegang jabatan politik strategis, terutama yang mengurus hajat hidup publik, sensitifitas terhadap perbedaan pandangan menjadi lemah. Kritik dianggap pembangkangan, oposisi dianggap ancaman, dan suara rakyat kerap didegradasi sebagai “gangguan.”

Ketika Kekayaan dan Kekuasaan Bertaut

Yang membuat fenomena ini lebih problematik adalah ketika seorang pejabat sipil berlatar militer juga masuk ke gelanggang bisnis besar.
Dalam konteks tertentu, publik melihat munculnya figur-figur yang:

  • berada di lingkar kekuasaan tertinggi,
  • mengatur kebijakan publik,
  • sekaligus memegang kendali bisnis yang luas.

Gabungan ini melahirkan sosok yang dalam bayangan publik tampak “kebal”—sulit disentuh hukum, tak tersentuh kritik, dan selalu berada dalam posisi menentukan.
Di titik inilah kemunculan sifat-sifat yang diresahkan publik mulai terlihat: arogan, agresif, dan cenderung meremehkan suara kelompok lain.

Fenomena Luhut sebagai Cermin

Nama Luhut Binsar Pandjaitan sering muncul sebagai simbol dari fenomena ini. Dengan latar belakang militer, posisi politik strategis, serta aktivitas bisnis yang luas, ia mempresentasikan figur pejabat yang memiliki pengaruh besar dalam banyak aspek pemerintahan.
Di mata sebagian masyarakat, gaya komunikasinya kerap dianggap keras, cenderung menggurui, dan kurang responsif terhadap kritik.
Terlebih lagi, beberapa kebijakan yang ia kawal—dari investasi besar hingga urusan tata kelola sumber daya alam—membuat ruang kritik terhadap dirinya sering kali bertemu tembok tebal.
Muncul pula anggapan bahwa ia menjadi representasi “pejabat yang terlalu kuat,” dan kekuatan semacam itu di negara demokrasi selalu berbahaya.

Kekuasaan yang Tidak Sehat

Arogansi muncul bukan dari satu individu semata, melainkan dari sistem yang membiarkan kekuasaan bertumpuk tanpa batas.
Ketika seorang mantan jenderal:

  • menjadi pejabat sipil berpengaruh,
  • memegang jaringan ekonomi besar,
  • memiliki akses politik luar biasa,
  • dan tidak terbiasa dikritik,

maka struktur demokrasi yang seharusnya mengatur keseimbangan kekuasaan berubah pincang.
Kritik dibungkam bukan selalu melalui represi langsung, tetapi lewat narasi intimidatif, pelabelan, atau dominasi wacana.
Sementara itu, publik hanya bisa menyaksikan bagaimana pejabat-pejabat seperti ini bergerak dengan otoritas penuh, seolah-olah negara adalah perusahaan pribadi dan rakyat hanyalah penonton.

Apa yang Dipertaruhkan?

Yang terancam bukan sekadar etika pejabat, tetapi masa depan demokrasi.
Mengizinkan model pejabat yang “terlalu kuat, terlalu kaya, dan terlalu kebal” berarti:

  • melemahkan supremasi sipil,
  • menghancurkan ruang kritik,
  • menutup jalan bagi partisipasi rakyat,
  • dan memperlebar jarak antara pemerintah dan warga negara.

Pada akhirnya, publik hanya melihat ulang pola lama:
militerisme gaya baru — hadir dalam tubuh sipil, namun dengan watak komando dan kepentingan bisnis yang melekat.

Penutup

Fenomena jenderal yang menjadi pejabat sipil sekaligus pengusaha besar adalah peringatan keras bagi demokrasi Indonesia.
Ini bukan sekadar persoalan individu seperti Luhut Binsar Pandjaitan; ini persoalan struktur kekuasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa pagar.
Selama kekuasaan dan bisnis dibiarkan bersatu dalam satu figur, selama kritik dianggap musuh, dan selama pejabat merasa lebih tinggi dari rakyat, maka demokrasi hanya tinggal nama.

Dan sejarah selalu membuktikan:
negara yang membiarkan arogansi tumbuh akan selalu membayar mahal pada akhirnya.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Koreksi Untuk Ulil : Zero Mining dan Goblok Pangkat Dua

Next Post

Berkat Tuhan itu Bak Hujan: Ia Jatuh Kepada Ladang Yang Diolah, Bukan Pada Tanah yang Dibiarkan Tidur

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?
Feature

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua
Feature

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor
Politik

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Next Post
Berkat Tuhan itu Bak Hujan: Ia Jatuh Kepada Ladang Yang Diolah, Bukan Pada Tanah yang Dibiarkan Tidur

Berkat Tuhan itu Bak Hujan: Ia Jatuh Kepada Ladang Yang Diolah, Bukan Pada Tanah yang Dibiarkan Tidur

Zulkifli Hasan dan Luka 1,64 Juta Hektare: Ketika Hutan Dijadikan Komoditas Politik

Zulkifli Hasan dan Luka 1,64 Juta Hektare: Ketika Hutan Dijadikan Komoditas Politik

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Aktivis 98 Kutuk Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
Birokrasi

Vonis Kasus Andrie Yunus: Pelanggengan Impunitas dan Remiliterisasi

by Karyudi Sutajah Putra
June 12, 2026
0

Jakarta - FusilatNews.--Pengadilan Militer II-08 Jakarta akhirnya menjatuhkan vonis terhadap empat personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) setelah terbukti melakukan penyiraman...

Read more
IPW Desak Propam Polda Metro Jaya Sidangkan Penyidik Polres Depok

IPW Sarankan Judicial Review ke MK Jika Tak Puas dengan UU Polri Baru

June 12, 2026

Siapa SA Anggota DPR RI dari Madura yang Diduga Jual-Beli Titik MBG?

June 9, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026
Menantang Prabowo: Bangsa ‘Besar’ yang Devisanya Terkikis Impor

Gagal Berkali-kali, Ketika Jadi Presiden Gagal Lagi

June 12, 2026
Macet Sampi 19 Kilometer, Hingga Pemudik di Pelabuhan Merak Pingsan

Negara Jadi Pedagang, Rakyat Jadi Pelanggan: Untuk Apa Kita Memiliki Pemerintah?

June 12, 2026
Per 1 September 2023 Pertamina Naikkan Semua Harga BBM Non Subsidi

Kenaikan BBM dan Momentum Kerakusan

June 12, 2026

REVOLUSI KEDUA DAN UJIAN MORAL PARA VETERAN

June 12, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

Bagaimana Wapres Gibran Menyelesaikan Rupiah yang Terpuruk dan Ekonomi yang Memburuk?

June 12, 2026
Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

Papua: Kaya untuk Jakarta, Miskin untuk Orang Papua

June 12, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist