Fusilatnews – Waktu tidak pernah bernegosiasi. Ia datang perlahan, lalu tiba-tiba menetapkan batas. Pada usia 79 tahun, Megawati Soekarnoputri kini berdiri di titik itu: antara sejarah yang telah ia menangkan, dan masa depan partai yang belum sepenuhnya ia siapkan.
Selama lebih dari dua dekade, Megawati bukan sekadar Ketua Umum PDIP. Ia adalah poros ideologis, jangkar loyalitas, sekaligus pemegang kunci semua pintu keputusan. Di tangannya, PDIP tumbuh menjadi partai paling disiplin, paling solid, dan paling konsisten memenangkan pemilu nasional sejak Reformasi. Tidak ada partai lain yang mampu mempertahankan dominasi elektoral selama itu tanpa pecah kongsi internal.
Namun kekuatan yang terlampau terpusat selalu menyimpan paradoks: stabil selama figur utama ada, rapuh ketika ia tiada.
Di usia 79, Megawati masih memegang kendali penuh. Struktur partai patuh. Kader menunggu isyarat. Bahkan arah koalisi nasional pun masih sering bergantung pada satu kalimat darinya. Tetapi di balik keteguhan itu, pertanyaan mendasar mengendap: apakah PDIP telah menyiapkan hidup setelah Megawati?
Regenerasi kepemimpinan di PDIP berjalan, tapi tidak pernah benar-benar dilembagakan. Figur-figur potensial dibiarkan tumbuh, namun tetap berada dalam orbit tunggal. Tidak ada mekanisme kompetisi terbuka. Tidak ada proses transisi yang jelas. Semua kemungkinan suksesi masih berakhir di ruang tamu yang sama.
Model ini efektif menjaga kesatuan. Tapi ia menunda masa depan.
Lebih dari itu, usia juga membawa konsekuensi gaya kepemimpinan. Semakin ke sini, keputusan strategis partai kian bersifat tertutup. Lingkaran pengaruh menyempit. Hubungan emosional sering lebih menentukan daripada kalkulasi politik rasional. Pecahnya relasi PDIP dengan Jokowi adalah contoh paling terang: peristiwa politik besar yang diwarnai bukan hanya strategi, tapi juga perasaan.
Di era politik digital, pemilih muda, dan komunikasi instan, model kepemimpinan yang bertumpu pada karisma historis menghadapi tantangan baru. Sejarah tidak lagi cukup. Generasi baru menuntut relevansi. Dan partai yang tak cepat beradaptasi berisiko tertinggal oleh arus.
Megawati masih kuat. Itu tidak diragukan. Ia masih bisa mengontrol mesin partai, menjaga disiplin, dan memelihara ideologi nasionalisme yang menjadi napas PDIP. Tetapi ekspansi—membaca zaman baru, merangkul demografi muda, menghadapi oligarki politik yang makin cair—bukan lagi medan yang mudah dikuasai hanya dengan otoritas simbolik.
Karena itu, ujian terbesar Megawati hari ini bukan memenangkan pemilu berikutnya. Melainkan memenangkan transisi.
Sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin besar bila ia mampu menyiapkan partai yang tetap hidup tanpa dirinya. Sebaliknya, ia akan dikenang sebagai tokoh kuat yang meninggalkan kekosongan bila suksesi terus ditunda hingga waktu memutuskan sendiri.
Usia 79 bukan sekadar angka. Ia adalah peringatan halus dari waktu: bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya tentang memegang kendali, tetapi juga tentang tahu kapan melepaskannya.
Dan di situlah ujian terakhir Megawati sesungguhnya dimulai.
























