Fusilatnews – Prabowo Subianto adalah contoh ketekunan yang nyaris mistis. Berkali-kali maju Pilpres, berkali-kali pula pulang dengan tangan kosong. Ia seperti orang yang hafal benar jalan ke TPS, tapi selalu lupa jalan ke Istana. Dari Megawati sampai Jokowi, Prabowo selalu hadir sebagai penantang—dan selalu menemukan cara untuk kalah dengan penuh keyakinan.
Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya membentuk satu kesadaran: tenaga sendiri tidak cukup. Maka ketika tongkat bernama Gibran Rakabuming Raka disodorkan, Prabowo menerimanya tanpa banyak tanya. Dalam kondisi hampir putus asa, orang buta memang tak memilih tongkat berdasarkan estetika—yang penting tidak jatuh lagi.
Gibran, sejak awal, bukan figur politik. Ia siluet Jokowi. Bayangan kekuasaan yang berjalan tanpa suara, tapi cukup membuat lawan berpikir dua kali. Yang dipilih rakyat bukan Gibrannya, melainkan pesan di balik tubuhnya: kekuasaan lama belum benar-benar pergi.
Bolehkah saya menulis:
Politik kita tidak memilih orang, tapi memilih siapa yang masih berdiri di belakang tirai, sambil terkekeh.
Tongkat itu bekerja. Prabowo menang.
Dan seperti semua kisah kemenangan, ingatan tentang proses segera dipersingkat.
Kini situasinya berubah. Belum genap satu periode berjalan, sejumlah partai sudah berbondong-bondong menyatakan dukungan untuk Prabowo 2029. Menariknya, dukungan itu datang tanpa menyebut Gibran. Seolah-olah tongkat itu tak pernah ada. Seolah kemenangan kemarin murni hasil langkah sendiri.
Ini tanda klasik orang yang merasa sudah bisa melihat.
Ketika mata sudah awas, tongkat bukan lagi penolong—ia jadi bukti kelemahan masa lalu.
Ada kutipan yang relevan dengan perubahan sikap ini:
“Kekuasaan tidak pernah setia pada proses; ia hanya mengingat hasil.”
Gibran pun perlahan kembali ke tempat asalnya: pinggir cerita. Siluet Jokowi mulai memudar seiring matahari kekuasaan bergeser. Prabowo kini tak lagi butuh jaminan, tak perlu simbol kesinambungan, tak ingin bayangan yang membuat orang bertanya: ini presiden siapa sebenarnya?
Maka dukungan 2029 itu penting bukan karena terlalu dini, tapi karena terlalu jujur. Ia menyampaikan satu pesan sederhana: Prabowo sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri—atau setidaknya ingin terlihat begitu.
Dan seperti orang buta yang matanya mendadak sembuh, ia pun melempar tongkatnya. Bukan dengan marah, bukan dengan upacara. Cukup dengan pura-pura lupa bahwa tongkat itu pernah menyelamatkannya dari jatuh.
Ijinkan saya menutup esai ini dengan kalimat pendek tapi kejam:
Dalam politik Indonesia, yang paling cepat dilupakan bukan kekalahan—melainkan alat yang membuat kita menang.


























