Jakarta, FusilatNews – 19 Maret 2026 — Sejumlah media arus utama Barat mulai mengonfirmasi kerusakan serius pada sistem radar pertahanan milik Amerika Serikat di kawasan Teluk, menyusul serangan balasan Iran atas operasi udara AS dan Israel sejak 28 Februari 2026.
Laporan dari The New York Times edisi 3 dan 11 Maret 2026 mengungkap bahwa instalasi radar di negara-negara seperti Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menjadi sasaran serangan Iran. Media tersebut turut melampirkan citra satelit yang memperlihatkan dampak kerusakan pada fasilitas militer tersebut.
Serangan ini sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya melalui platform Twitter, tak lama setelah Iran meluncurkan operasi balasan bertajuk “True Promise”. Dalam operasi tersebut, Iran dilaporkan menargetkan dua jenis radar utama: sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan radar peringatan dini rudal balistik AN/FPS-132.
Target Strategis: “Mata” Pertahanan AS-Israel
Sejak awal, pejabat Iran menegaskan bahwa serangan mereka difokuskan pada tulang punggung sistem pengawasan dan intersepsi militer AS dan Israel. Selain pangkalan udara, radar menjadi target utama karena berfungsi sebagai “mata” dalam sistem pertahanan rudal modern.
Dalam artikel wartawan Tempo, Yohanes Paskalis, berjudul “Serangan Iran ke Mata Radar Amerika Serikat di Negara Teluk”, dijelaskan bahwa radar THAAD memainkan peran krusial dalam mendeteksi, melacak, dan memandu pencegatan rudal balistik.
Sistem pertahanan modern bekerja dalam rantai yang sangat cepat: radar jarak jauh mendeteksi peluncuran, menghitung lintasan, lalu mengirimkan data ke sistem pencegat yang harus merespons dalam hitungan detik. Jika radar terganggu, seluruh rantai ini ikut melemah.
Sejumlah analis menilai, kerusakan radar tersebut berpotensi menciptakan “titik buta” dalam sistem pertahanan AS-Israel, sekaligus memperpendek waktu peringatan dini bagi warga sipil untuk mencari perlindungan.
Efek Domino: Waktu Reaksi Menyusut
Penurunan cakupan radar berdampak langsung pada efektivitas intersepsi. Dengan waktu deteksi yang lebih singkat, sistem pertahanan menghadapi keterbatasan dalam melacak dan merespons beberapa ancaman sekaligus.
Akibatnya, rudal pencegat bisa terlambat diluncurkan atau bahkan gagal mengunci target. Dalam skenario konflik intensitas tinggi, kondisi ini dapat meningkatkan risiko serangan yang lolos dari sistem pertahanan.
Kerugian Fantastis: Miliaran Dolar Melayang
Selain dampak militer, kerugian ekonomi akibat serangan ini disebut sangat besar. Media Military Watch Magazine melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran menghancurkan setidaknya tiga sistem radar dalam pekan pertama pertempuran.
Salah satu yang terdampak adalah radar AN/TPS-59, bagian dari lapisan terluar pertahanan rudal AS. Setiap unit radar ini diperkirakan bernilai sekitar US$1,1 miliar dan membutuhkan waktu 5 hingga 8 tahun untuk penggantian.
Selain itu, dua radar bergerak pita-X jenis AN/TPY-2—komponen penting dalam sistem THAAD—juga dilaporkan rusak. Radar ini ditempatkan di Pangkalan Udara Muwafak Salti di Yordania serta di Uni Emirat Arab. Nilai per unitnya berkisar antara US$550 juta hingga US$1 miliar, dengan jumlah global yang diperkirakan hanya sekitar 15 unit.
Babak Baru Peperangan Teknologi
Serangan ini menandai pergeseran strategi dalam konflik modern, dari sekadar menghancurkan target fisik menjadi melumpuhkan sistem teknologi yang menopang pertahanan.
Dengan menargetkan radar, Iran tidak hanya menyerang perangkat keras, tetapi juga mengganggu kemampuan musuh dalam “melihat” dan merespons ancaman. Dalam konteks ini, perang bukan lagi sekadar soal kekuatan senjata, melainkan juga tentang siapa yang lebih dulu membuat lawannya buta.
























