Jakarta, 27 Februari 2026
Yus Dharman, S.H., M.M., M.Kn
Advokat / Ketua Dewan Pengawas FAPRI
(Forum Advokat & Pengacara Republik Indonesia)
Pada zaman dahulu, emas merupakan alat tukar utama dalam aktivitas ekonomi. Namun, emas memiliki satu persoalan mendasar: berat, sulit dibawa ke mana-mana, dan berisiko tinggi terhadap pencurian.
Memasuki abad ke-13, para pedagang kaya mulai memikirkan solusi. Mereka membutuhkan tempat aman untuk menitipkan emas. Dari sinilah lahir gagasan mendirikan bank—berasal dari bahasa Italia banca atau banco, yang berarti bangku atau meja tempat para penukar uang bertransaksi.
Sebagai gantinya, para bankir memberikan resi—secarik kertas—sebagai bukti penitipan, dengan janji bahwa pemegangnya dapat menukarkannya kembali dengan emas kapan saja.
Tak disangka, kertas resi ini justru jauh lebih praktis dibanding emas fisik. Seorang pedagang di Italia yang ingin membeli barang di Inggris tidak lagi perlu membawa peti emas, cukup membawa secarik kertas. Dari sinilah cikal bakal bank modern dan uang kertas bermula.
Kertas Tanpa Nilai yang Disulap Menjadi Bernilai
Secara inovatif—dan licik—para bankir kemudian menciptakan alat tukar dari kertas yang sejatinya tanpa nilai intrinsik menjadi sesuatu yang bernilai (value), sementara emasnya tetap tersimpan di brankas mereka.
Karena dianggap aman dan praktis, orang-orang kaya berbondong-bondong menitipkan emasnya di bank. Apalagi, emas tersebut hampir tidak pernah ditarik secara serempak. Situasi ini dimanfaatkan para bankir untuk menggandakan resi-resi tersebut dan meminjamkannya kepada pihak lain yang membutuhkan modal.
Di sinilah konsep lending and borrowing bermula.
Setiap nasabah yang menitipkan emas memperoleh resi atau sertifikat deposito—yang pada hakikatnya hanyalah kertas. Sebaliknya, ketika seseorang meminjam uang dari bank, ia diwajibkan menyerahkan jaminan berupa properti atau aset riil sebagai agunan (collateral).
Contohnya:
Sebuah bank menyimpan emas 5 gram senilai Rp10 juta. Dengan emas itu, bank dapat menerbitkan resi lebih dari Rp20 juta:
Rp10 juta untuk pemilik emas asli,
Rp10 juta lagi dipinjamkan kepada debitur lain.
Secara efektif, bank telah menciptakan uang dari ketiadaan nilai. Selama semua orang tidak secara bersamaan menuntut emasnya kembali (bank rush), sistem ini akan berjalan lancar—dan tampak aman.
Inilah fondasi sistem perbankan fraksional, riba, dan kelahiran bank sentral.
Jika Uang Bisa Dicetak Tanpa Batas, Mengapa Masih Ada Orang Miskin?
Jika bank sentral mampu mencetak uang dari ketiadaan menjadi sesuatu yang bernilai tanpa batas, mengapa kemiskinan tetap ada?
Apakah karena kelangkaan sumber daya (scarcity)?
Tentu tidak.
Uang itu infinit—tak terbatas.
Ia bisa dicetak kapan saja.
Kemiskinan bertahan bukan karena ketidakmampuan sistem, melainkan karena mereka yang berkuasa tidak menginginkan semua orang memiliki uang.
Dalam sistem ekonomi kapitalis, kemiskinan justru memiliki fungsi vital: menciptakan ilusi bahwa uang itu berharga.
Karena itu, uang tidak dibagikan secara cuma-cuma seperti air hujan. Cara memperolehnya dipersulit, agar nilainya tidak jatuh menjadi nol. Jika semua orang kaya, siapa yang mau bekerja keras? Siapa yang mau melakukan pekerjaan kasar?
Kemiskinan: Bukan Kegagalan, Melainkan Fitur
Sistem riba sangat membutuhkan keberadaan orang miskin untuk menciptakan rasa takut dan dorongan. Orang tua menasihati anaknya: “Belajarlah giat dan bekerjalah keras agar tidak miskin.”
Ancaman kemiskinan menjadi alat kontrol.
Jika tidak ada orang miskin, ancaman itu hilang. Jika ancaman hilang, motivasi mengejar uang pun runtuh.
Maka, kemiskinan bukanlah kegagalan sistem—ia adalah fitur yang sengaja diciptakan untuk memaksa manusia terus bekerja.
Krisis, Perang, dan Roda Kapitalisme
Ketika uang dan kekayaan berlebih (oversupply), krisis harus diciptakan. Salah satu caranya: perang.
Akibatnya, bursa saham runtuh, nilai tukar mata uang negara-negara tertentu terdepresiasi terhadap dolar AS, dan kekacauan ekonomi tercipta. Semua itu bertujuan agar roda ekonomi—yang digerakkan oleh tenaga kerja manusia—tetap berputar.
Inilah yang kerap dilakukan negara adidaya terhadap negara-negara kaya akan sumber daya alam.
Uang Hanyalah Ilusi Sosial
Pada akhirnya, uang hanyalah konstruksi sosial. Nilai sejatinya bukan terletak pada kertas atau angka di layar bank, melainkan pada tenaga, waktu, dan hidup manusia yang ditukar dengan kertas itu.
Sistem ekonomi kapitalis liberal yang kita jalani hari ini adalah sebuah ilusi besar—dirancang agar manusia terus bekerja keras mengejar sesuatu yang sesungguhnya dapat diciptakan tanpa batas oleh pemegang kekuasaan.
Ia mirip permainan video game: kita berlari mengejar poin (uang) yang sebenarnya bisa saja diprogram muncul begitu saja. Namun tanpa ilusi kesulitan dan kelangkaan, permainan itu menjadi tidak menarik—dan sistem pun runtuh.

























