Oleh: Entang Sastraatmadja
Di banyak sudut pedesaan Jawa dan Sumatera, bau gabah kering panen menguar ke udara. Truk-truk penuh muatan datang bergantian ke titik-titik pengumpulan, menumpahkan hasil kerja keras petani yang berbulan-bulan menaklukkan cuaca. Musim panen kali ini seolah menghadirkan kabar baik: Perum Bulog berhasil menyerap gabah hingga 2 juta ton, dua kali lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun di balik angka fantastis itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang tidak kalah krusial: Apakah sukses penyerapan otomatis berarti sukses penyimpanan?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Tantangan Baru Setelah Panen Usai
Ketika gabah telah masuk ke gudang, tugas Bulog sejatinya baru dimulai. Banyak orang membayangkan bahwa gabah yang sudah diserap tinggal ditumpuk rapi dan aman. Padahal, titik lemah penyimpanan selama ini justru kerap muncul dari hal-hal yang tampak sepele:
- Kelembaban yang tidak terkendali memicu pertumbuhan jamur dan hama.
- Suhu yang tidak terpantau menurunkan kualitas butir beras.
- Ventilasi buruk menimbulkan penumpukan uap air dan gas berbahaya.
- Keamanan gudang yang lemah membuka peluang pencurian atau gangguan eksternal.
- Penanganan yang ceroboh menyebabkan gabah atau beras mengalami kerusakan fisik.
Kelemahan demi kelemahan ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi dapat berujung pada hilangnya kualitas, bahkan merugikan petani dan negara.
Gudang: Sekat Besi yang Menentukan Masa Depan Beras
Keberhasilan Bulog menyerap gabah dalam jumlah besar ternyata tidak sebanding dengan kesiapan daya tampung gudang. Banyak gudang yang kapasitasnya tak lagi memadai.
Bulog mencoba mengoptimalkan gudang filial di berbagai daerah. Upaya ini patut diapresiasi, tetapi persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan ruang. Pengelolaan gudanglah yang menjadi penentu utama kualitas beras.
Kasus beras berkutu di salah satu gudang Bulog di Jogjakarta beberapa waktu lalu menjadi pengingat betapa pentingnya SOP penyimpanan. Bukan hanya mengejutkan publik, tetapi sekaligus membuka fakta bahwa penyimpanan pangan nasional masih memiliki celah serius.
Jika benar isu yang beredar bahwa sekitar 300 ribu ton beras mengalami masalah serupa di berbagai gudang, maka ini alarm keras bahwa ada yang tidak beres—entah terkait manajemen penyimpanan atau kualitas beras impor yang diterima.
Mencegah Kerusakan Dari Sejak Pintu Gudang Dibuka
Ada prinsip sederhana dalam penyimpanan pangan: kualitas hasil panen ditentukan bukan hanya oleh cara menanam, tetapi juga cara menyimpan.
Karena itu, beberapa langkah strategis harus menjadi standar baru Bulog:
- Pastikan kadar air gabah ideal sebelum masuk gudang. Gabah terlalu basah adalah pintu masuk jamur dan hama.
- Gunakan gudang yang bersih, kering, dan terlindung, bukan sekadar bangunan kosong dengan pintu besar.
- Kendalikan kelembaban dan suhu dengan peralatan memadai agar kondisi stabil.
- Perbaiki sistem ventilasi, karena aliran udara menentukan umur simpan.
- Atur tumpukan secara rapi dan tidak terlalu padat agar mudah diawasi.
- Lakukan inspeksi rutin, bukan insidental.
- Gunakan wadah penyimpanan yang bersih dan kedap udara untuk menghindari kontaminasi.
Langkah-langkah sederhana ini bisa menyelamatkan jutaan ton cadangan pangan dari kerugian yang sia-sia.
Jangan Ada Lagi ‘Beras Berkutu’ dalam Kamus Pangan Nasional
Fenomena beras berkutu tidak boleh kembali terjadi. Tidak pantas bagi sebuah lembaga strategis seperti Bulog, yang memegang mandat ketahanan pangan nasional, untuk menghadapi masalah yang sebetulnya dapat dicegah dengan pengelolaan yang cermat.
Petugas gudang memiliki peran yang tidak ringan. Setiap karung gabah yang masuk ke gudang adalah hasil keringat petani. Setiap butir beras yang diselamatkan adalah bagian dari tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.
Oleh sebab itu, semangat “sukses penyerapan harus berarti sukses penyimpanan” harus menjadi roh baru Bulog.
Penutup: Menyelamatkan Apa yang Sudah Diperjuangkan
Gabah yang telah diserap dengan susah payah tidak boleh rusak hanya karena kelalaian dalam penyimpanan. Bulog harus menjadi “prime mover” dalam pengelolaan pangan nasional—bukan hanya di hilir ketika membeli gabah, tetapi terutama di hulu ketika menjaga kualitas beras sebagai kebutuhan pokok bangsa.
Semoga ini menjadi percik renungan bagi semua pemangku kepentingan pangan.
Mari kita jaga gabah, jaga beras, dan pada akhirnya jaga masa depan pangan Indonesia.
(Penulis: Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat)

Oleh: Entang Sastraatmadja






















