Jakarta, Fusilatnews – Sudah lebih dari 14 abad lalu Nabi Muhammad SAW mengirim “surat cinta” kepada umatnya yang hidup di akhir zaman ini.
Dalam sebuah dialog dengan sahabat-sahabatnya, Muhammad menyampaikan rasa rindunya kepada saudara-saudaranya yang tidak hidup di zamannya, bahkan tidak pernah bertemu dengannya, namun mereka beriman atau percaya bahwa Muhammad adalah rasul atau urusan Allah. Muhammad pun rindu dengan mereka. Lalu, siapa mereka itu?
“Mereka adalah kita-kita ini yang hidup di zaman akhir tetapi mengimani bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kita tidak pernah berjumpa dengan Nabi. Kita juga tidak hidup sezaman dengan beliau. Sebab itu, Rasulullah SAW pun berkata kepada sahabat-sahabatnya bahwa beliau sangat rindu kepada kita. Itulah ‘surat cinta’ yang dikirim Nabi kepada kita lebih dari 14 abad lalu. Belum ada pos. Belum ada JNE. Belum ada WhatsApp. Belum ada TikTok,” kata Habib Ali Bin Husein Assegaf.
Hal itu ia sampaikan ketika menjadi penceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H yang digelar Majelis Ta’lim Ar-Rasyid pimpinan Ustaz Ahmad Sarnubi SQ di Peninggaran, Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan, Jumat (24/10/2025) malam.
Ia lalu mengutip Surat At-Taubah ayat (128-129) dalam kitab suci Al Quran yang artinya, “Sungguh benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
“Betapa cintanya Nabi kepada kita, sampai-sampai beliau tidak tega melihat penderitaan yang kita alami,” jelas Habib Ali.
Kalau sudah begitu, katanya, lantas sikap kita seperti apa kepada Nabi SAW? “Kita pun harus mencintai beliau. Caranya, antara lain dengan menghadiri acara maulid seperti ini agar kita mengenal siapa sosok Nabi. Tak kenal maka tak sayang,” paparnya.
Penceramah lainnya, KH Soleh Rohmani juga menyampaikan hal senada. Betapa cintanya Rasulullah SAW kepada kita umatnya. “Bahkan cinta Nabi kepada umatnya melebihi cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta anak kepada orangtuanya,” kata Kiai Soleh.
“Mengapa kita menghadiri Maulid?
Agar kita lebih mengenal siapa Nabi Muhammad SAW. Dengan kenal maka kita cinta. Dengan cinta maka kita akan meneladani perilakunya. Dengan meneladani perilakunya maka kita akan bertakwa kepada Allah SWT,” jelasnya.
Cinta kepada Nabi Muhammad SAW, kata Kiai Soleh, sangat penting. Bahkan, katanya, ada hadits yang mengatakan, tidaklah sempurna iman seseorang sehingga dia mencintai Nabi.
Menurut Kiai Soleh, ada tiga sebab munculnya rasa cinta dalam hati manusia. Pertama, katanya, cinta karena hormat, seperti cinta anak kepada orang tuanya atau cinta murid kepada gurunya.
Kedua, katanya, cinta karena kasih sayang, seperti cinta orang tua kepada anaknya atau cinta guru kepada muridnya.
Ketiga, lanjutnya, cinta karena bermacam-macam, bisa cinta karena jasaya, bisa pula cinta karena keindahannya. “Nah, cinta kita kepada Nabi SAW disebabkan oleh ketiga-tiganya itu,” terangnya.
Kalau sudah cinta, kata Kiai Soleh, berarti kita meneladani Nabi SAW yang merupakan uswatun hasanah atau contoh yang baik, apalagi akhlak Nabi adalah akhlak yang paling mulia yang tak seorang pun dapat nengalahkannya.
Ia lalu mengutip surat Al-Qalam ayat (4) yang artinya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Sebab, katanya, Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rasul ialah untuk menyempurnakan akhlak manusia. “Nabi-nabi terdahulu akhlaknya sudah baik, namun belum sempurna seperti Nabi Muhammad SAW,” cetusnya.
Sedemikian mulianya akhlak Muhammad, kata Kiai Soleh, sampai-sampai Allah SWT juga memuliakan anak dari Abdullah tersebut, sehingga Allah pun berselawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penghormatan.
Ia lalu mengutip surat Al Ahzab ayat (56) yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
























