• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
March 27, 2026
in Economy, Feature
0
PETANI TANPA BULOG
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Persoalan serius yang tengah dihadapi bangsa ini bukan sekadar soal produksi beras, melainkan krisis yang jauh lebih mendasar: putusnya regenerasi petani padi. Sawah masih terbentang luas, tetapi pelakunya perlahan menghilang. Anak muda Indonesia kian menjauh dari dunia pertanian—seolah sawah bukan lagi masa depan, melainkan masa lalu yang ingin ditinggalkan.

Data Sensus Pertanian 2023 memotret situasi ini dengan gamblang. Sekitar 42,4 persen petani berada pada usia 43–58 tahun. Sementara petani muda berusia 19–39 tahun hanya 21,9 persen. Selebihnya bahkan telah memasuki usia lanjut. Ini bukan sekadar statistik—ini alarm keras bahwa masa depan pertanian kita berada di ujung tanduk.

Di sisi lain, realitas hidup petani, khususnya petani padi, masih jauh dari kata sejahtera. Petani gurem dan buruh tani tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang nyaris tanpa jalan keluar. Mereka menggarap lahan sempit, menghadapi biaya produksi yang tinggi, tetapi harus menerima harga gabah yang tak menentu.

Data menunjukkan, hanya 0,07 persen petani yang tergolong kaya. Sebanyak 11,81 persen berada di kelas menengah, 53,76 persen calon kelas menengah, 25,1 persen rentan miskin, dan 9,26 persen berada dalam kategori miskin. Angka-angka ini berbicara tegas: menjadi petani bukan jalan menuju kesejahteraan, melainkan pertaruhan hidup yang penuh ketidakpastian.

Ada sejumlah faktor yang memperparah kondisi ini. Pertama, kepemilikan lahan yang sempit membuat skala usaha tidak ekonomis. Kedua, keterbatasan akses terhadap teknologi modern menahan produktivitas tetap rendah. Ketiga, fluktuasi harga gabah membuat pendapatan petani sulit diprediksi. Keempat, tingginya biaya produksi—mulai dari pupuk, pestisida, hingga tenaga kerja—menggerus keuntungan yang sudah tipis.

Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya, seperti subsidi pupuk, pembangunan infrastruktur irigasi, hingga program pelatihan. Namun, langkah-langkah ini belum cukup untuk mengubah wajah pertanian secara mendasar. Masalahnya bukan sekadar teknis, melainkan struktural.

Di tengah kondisi seperti ini, wajar jika generasi muda berpaling. Bagi mereka, bertani identik dengan pekerjaan berat, berpenghasilan rendah, dan minim kepastian. Bandingkan dengan pekerjaan di kota yang menawarkan gaji tetap, lingkungan kerja lebih nyaman, dan status sosial yang lebih tinggi. Pilihan menjadi petani pun kalah sebelum bertanding.

Padahal, jika dikelola dengan pendekatan modern, sektor pertanian justru menyimpan potensi besar. Teknologi digital, mekanisasi, hingga sistem pemasaran berbasis platform sebenarnya dapat mengubah wajah pertanian menjadi lebih menjanjikan. Sayangnya, transformasi ini belum menyentuh mayoritas petani.

Untuk itu, solusi tidak bisa setengah hati. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih progresif: memperluas akses teknologi modern, menjamin stabilitas harga gabah, menekan biaya produksi, serta memberikan insentif nyata bagi petani muda. Pertanian harus diposisikan sebagai sektor strategis, bukan sekadar pelengkap.

Selain itu, perlu ada upaya serius menjadikan pertanian sebagai pilihan karier yang layak dan membanggakan. Kolaborasi dengan sekolah dan perguruan tinggi, program inovasi pertanian, hingga penguatan ekosistem agribisnis harus menjadi agenda prioritas.

Ironisnya, hingga kini sektor pertanian kerap diperlakukan sebagai urusan pinggiran. Anggaran yang terbatas, lemahnya koordinasi antar lembaga, serta orientasi kebijakan yang cenderung jangka pendek membuat persoalan ini tak kunjung tuntas.

Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kita akan menghadapi situasi di mana sawah masih terbentang, tetapi tak ada lagi yang mau menggarapnya. Ketahanan pangan pun hanya akan menjadi slogan tanpa makna.

Regenerasi petani bukan sekadar isu sektoral, melainkan soal keberlanjutan bangsa. Sebab pada akhirnya, negara yang kehilangan petaninya, sejatinya sedang kehilangan masa depannya.

(Penulis, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Teater “Haqqul Yaqin” di Hambalang: Saat Data Dikalahkan Frekuensi Suara

Next Post

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...