• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

Ali Syarief by Ali Syarief
March 28, 2026
in Birokrasi, Feature
0
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

Bohong Lho

Share on FacebookShare on Twitter

Iiyama- Janji adalah utang politik. Ia bukan sekadar kalimat kampanye, melainkan kontrak moral antara penguasa dan rakyat. Ketika Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjanjikan pembukaan 19 juta lapangan kerja, publik tidak sedang mendengar retorika—mereka sedang menggenggam harapan.

Namun kini, harapan itu mulai retak.

Alih-alih ekspansi lapangan kerja, realitas justru menunjukkan gejala sebaliknya: efisiensi anggaran, pengetatan fiskal, dan bahkan ancaman pemutusan kerja di sektor publik seperti PPPK. Negara yang dijanjikan sebagai pencipta pekerjaan, perlahan berubah menjadi entitas yang justru mengurangi ruang kerja itu sendiri.

Janji Besar, Fondasi Rapuh

Sejak awal, target 19 juta lapangan kerja bukanlah angka kecil. Ia membutuhkan pertumbuhan ekonomi tinggi, investasi masif, stabilitas regulasi, serta kepercayaan pasar yang kuat. Sayangnya, fondasi menuju ke sana tampak rapuh.

Efisiensi anggaran yang kini dijalankan justru mempersempit ruang gerak ekonomi. Pemotongan belanja negara—yang semestinya menjadi stimulus—berubah menjadi rem bagi perputaran ekonomi. Ketika belanja pemerintah turun, sektor riil ikut melambat. Dan ketika sektor riil melambat, lapangan kerja menjadi korban pertama.

Di titik ini, janji 19 juta pekerjaan mulai terdengar seperti angka tanpa pijakan.

Kontradiksi Kebijakan

Yang lebih problematik adalah kontradiksi dalam arah kebijakan. Di satu sisi, pemerintah menggaungkan penciptaan lapangan kerja. Di sisi lain, kebijakan yang diambil justru berpotensi menghilangkan pekerjaan yang sudah ada.

Kasus ancaman pemecatan PPPK menjadi simbol nyata. Negara bukan hanya gagal menambah pekerjaan, tetapi juga berpotensi mengurangi tenaga kerja yang sudah terserap dalam sistem.

Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal konsistensi.

Bagaimana mungkin sebuah pemerintahan berbicara tentang ekspansi kerja, sementara pada saat yang sama melakukan rasionalisasi tenaga kerja?

Tantangan yang Kian Menumpuk

Ke depan, pemerintahan Prabowo Subianto akan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar memenuhi janji kampanye.

Pertama, tekanan fiskal. Keterbatasan anggaran membuat ruang untuk intervensi ekonomi semakin sempit.

Kedua, beban program populis. Program-program besar seperti makan gratis membutuhkan dana luar biasa besar, yang pada akhirnya menyedot kapasitas negara untuk berinvestasi di sektor produktif.

Ketiga, kepercayaan publik. Ketika janji tidak terealisasi, yang tergerus bukan hanya reputasi politik, tetapi juga legitimasi kekuasaan.

Dan keempat, kondisi global yang tidak menentu—perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, hingga disrupsi teknologi—semuanya mempersempit peluang penciptaan kerja dalam skala besar.

Dari Harapan ke Skeptisisme

Rakyat tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya menuntut konsistensi dan kejujuran. Jika janji 19 juta lapangan kerja memang sulit direalisasikan, maka yang dibutuhkan adalah transparansi, bukan pembiaran hingga janji itu menguap menjadi omon-omon.

Karena dalam politik, yang paling berbahaya bukanlah kegagalan.
Melainkan janji yang sejak awal tidak pernah benar-benar dirancang untuk ditepati.

Dan jika arah kebijakan tidak segera dikoreksi, maka pemerintahan ini bukan hanya akan kesulitan menciptakan lapangan kerja—tetapi juga berpotensi kehilangan kepercayaan sebagai pengelola masa depan bangsa.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Next Post

Risywah: Ketika Jalan Pintas Menjadi Jalan Rusak

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Economy

Ketika Feasibility Study Menjadi Formalitas Pembangunan

May 14, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Next Post

Risywah: Ketika Jalan Pintas Menjadi Jalan Rusak

Mencari Benang Merah Teror Andrie Yunus dengan Pernyataan Prabowo “Kita Tertibkan!”

Negeri Kaya Energi yang Selalu Panik: Indonesia di Tengah Krisis yang Tak Pernah Dipelajari

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Tak Ada Kuasa yang Benar-Benar Bisa Bernegosiasi dengan Nurani

“Pulih 99 Persen”, Jokowi Siap Keliling Indonesia: Konsolidasi Relawan atau Pemanasan Politik Baru?

May 14, 2026
Kriminalisasi Sang Pembela Lingkungan: Potret Buram Mafia Hukum dan Jaksa Predator Keadilan

Kriminalisasi Sang Pembela Lingkungan: Potret Buram Mafia Hukum dan Jaksa Predator Keadilan

May 14, 2026

Ketika Feasibility Study Menjadi Formalitas Pembangunan

May 14, 2026
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Tak Ada Kuasa yang Benar-Benar Bisa Bernegosiasi dengan Nurani

“Pulih 99 Persen”, Jokowi Siap Keliling Indonesia: Konsolidasi Relawan atau Pemanasan Politik Baru?

May 14, 2026
Kriminalisasi Sang Pembela Lingkungan: Potret Buram Mafia Hukum dan Jaksa Predator Keadilan

Kriminalisasi Sang Pembela Lingkungan: Potret Buram Mafia Hukum dan Jaksa Predator Keadilan

May 14, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...