• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Negeri Kaya Energi yang Selalu Panik: Indonesia di Tengah Krisis yang Tak Pernah Dipelajari

Ali Syarief by Ali Syarief
April 3, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Mencari Benang Merah Teror Andrie Yunus dengan Pernyataan Prabowo “Kita Tertibkan!”
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia kembali diguncang. Ketika konflik meletus pasca serangan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, harga minyak mentah global melompat liar—dari US$72 per barel pada 27 Februari 2026 menjadi US$116 pada akhir Maret. Lonjakan ini bukan sekadar angka; ia adalah alarm keras tentang rapuhnya ketahanan energi global.

Namun, yang menarik bukan hanya krisisnya—melainkan bagaimana negara-negara meresponsnya.

Di Filipina, pemerintah tak menunggu keadaan memburuk. Status darurat energi ditetapkan. Subsidi diberikan kepada pengemudi transportasi, layanan feri dikurangi, bahkan pola kerja diubah menjadi empat hari seminggu. Ini bukan kebijakan populis, melainkan langkah cepat untuk menahan dampak sistemik.

Di Sri Lanka, responsnya lebih drastis. Negara itu menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional demi menghemat energi. Penjatahan bahan bakar diberlakukan: mobil hanya boleh mengisi 15 liter per minggu, motor 5 liter. Sebuah kebijakan keras, tetapi jujur terhadap kenyataan.

Sementara itu di Australia, khususnya di Victoria dan Tasmania, pemerintah mengambil pendekatan insentif. Transportasi umum digratiskan agar masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi. Negara hadir bukan sekadar membatasi, tetapi juga menyediakan alternatif.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah memilih mendorong kebijakan bekerja dari rumah (WFH). Sebuah langkah yang tampak modern, tetapi terasa minimalis. Tidak ada kebijakan struktural yang menyentuh akar persoalan: ketergantungan akut pada energi fosil impor, lemahnya diversifikasi energi, dan absennya strategi jangka panjang yang konsisten.

Di sinilah ironi besar Indonesia muncul ke permukaan.

Negeri ini pernah dikenal sebagai salah satu produsen minyak penting di dunia. Tanahnya kaya sumber daya. Namun hari ini, setiap gejolak global membuat Indonesia seperti negara yang tak punya pegangan. Panik, reaktif, dan cenderung memilih solusi paling mudah—bukan yang paling tepat.

WFH mungkin mengurangi konsumsi BBM di kota-kota besar. Tapi apakah itu cukup? Apakah itu menyentuh sektor transportasi umum yang semrawut? Apakah itu menjawab ketimpangan energi antar wilayah? Atau sekadar menjadi kosmetik kebijakan agar terlihat “bertindak”?

Bandingkan dengan Filipina yang berani menetapkan status darurat. Atau Sri Lanka yang secara terbuka mengakui keterbatasannya. Bahkan Australia, dengan segala kemewahan infrastrukturnya, tetap memilih menggratiskan transportasi publik sebagai strategi kolektif.

Indonesia justru terjebak dalam setengah langkah.

Masalah utamanya bukan pada krisis global—karena krisis adalah keniscayaan. Masalahnya adalah kegagalan membaca krisis sebagai momentum untuk berbenah. Setiap lonjakan harga minyak seharusnya menjadi cambuk untuk mempercepat transisi energi, memperkuat transportasi publik, dan mengurangi ketergantungan impor.

Namun yang terjadi justru sebaliknya: krisis hanya dijawab dengan kebijakan sementara, tanpa arah transformasi.

Lebih ironis lagi, di tengah narasi besar pembangunan dan ambisi menjadi kekuatan ekonomi global, sektor energi justru menjadi titik lemah yang paling mendasar. Bagaimana mungkin sebuah negara berbicara tentang masa depan, jika fondasi energinya rapuh?

Krisis Timur Tengah ini sejatinya bukan hanya soal minyak. Ia adalah cermin. Dan di dalam cermin itu, Indonesia terlihat sebagai negeri yang kaya sumber daya, tetapi miskin keberanian untuk berubah.

Jika pola ini terus berulang, maka setiap krisis global berikutnya hanya akan menghasilkan respons yang sama: panik, tambal sulam, dan lupa.

Dan pada akhirnya, yang mahal bukan hanya harga minyak—tetapi harga dari ketidaksiapan itu sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Risywah: Ketika Jalan Pintas Menjadi Jalan Rusak

Next Post

Prabowo 1.5 Tahun Berkuasa – 50 kali ke Luar Negeri

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen
Economy

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik
Economy

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

May 19, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi
Economy

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

May 19, 2026
Next Post
Prabowo 1.5 Tahun Berkuasa – 50 kali ke Luar Negeri

Prabowo 1.5 Tahun Berkuasa - 50 kali ke Luar Negeri

Vila Kapal Tua: Haluan Pencitraan dan Buritan Takdir

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ada “Dewan Kolonel” di PDIP

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

May 19, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun

Rupiah Tembus Rp17.600: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Respons Presiden Picu Kontroversi

May 19, 2026
Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

May 19, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

May 19, 2026

Rebuilding the Lost Concept of Knowledge in Islam

May 19, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ada “Dewan Kolonel” di PDIP

Kabinet 100 Menteri Sudah Tak Diterima Pasar

May 19, 2026
Aksi Jual SUN Dorong Nilai Tukar Rupiah Jatuh ke Level Terendah dalam 4 Tahun

Rupiah Tembus Rp17.600: Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Respons Presiden Picu Kontroversi

May 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...