By Paman BED
Vila itu berdiri seperti kapal yang enggan berlayar. Hanya haluannya yang menonjol di tebing, membelah sunyi. Sementara buritannya—bagian belakang yang menyimpan mesin dan sejarah—sengaja disembunyikan. Ia menampilkan wajah terbaiknya demi mengundang decak kagum, tanpa membiarkan orang bertanya apa yang tersimpan di balik dindingnya.
Secara arsitektural, ia melawan logika: pintu masuk di lantai teratas, sementara ruang-ruang pribadinya merayap turun ke bawah tebing yang makin gelap dan dingin. Vila ini adalah metafora sempurna bagi manusia modern. Kita sibuk bersolek di “haluan”—mempercantik tampilan luar dan pencitraan—namun membiarkan “buritan” batin kita terbengkalai, penuh luka, dan ruang-ruang gelap yang tak terurus.
Sebuah insiden di petang hari menyingkap kerapuhan itu. Ketika tawa keluarga pecah di lantai atas, sebuah “kekacauan” menyeruak dari lantai bawah. Seorang asisten mendadak kehilangan kendali dirinya, suaranya berubah kasar, memprotes hal-hal remeh yang dianggap mengganggu “ruang kedaulatannya”.
Di titik ini, kita belajar bahwa ketakutan tidak perlu diajarkan; ia adalah naluri purba yang menunggu pemicu. Ayat suci dibacakan, namun perlawanan justru mengeras. Al-Qur’an memang penawar (QS. Al-Isra: 82), tapi tidak semua yang sakit memiliki keinginan untuk sembuh. Hingga akhirnya, seorang kiai hadir membawa ketenangan dzikir dan meninggalkan kalimat yang menggantung: “Ada kesepakatan, raga ini dipinjam sampai subuh.”
Alegori Batas Waktu
Kalimat “kesepakatan sampai subuh” bukan sekadar bumbu mistis. Ia adalah alegori tentang eksistensi manusia. Kita semua berada dalam kesepakatan waktu yang singkat—meminjam raga dan nyawa untuk sebuah perjalanan yang ujungnya sudah ditetapkan. Kita adalah penyewa yang sering merasa menjadi pemilik.
Insiden ini adalah ibrah (pelajaran). Iman tidak diminta setengah-setengah. Kita sering hanya mau percaya pada yang terukur, padahal hidup kerap berjalan di wilayah yang tak terjangkau logika. Seperti kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, ada tindakan Tuhan yang tampak janggal di permukaan namun presisi di kedalamannya. Keterbatasan nalar bukanlah alasan untuk menolak rencana-Nya yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Menjaga Keseluruhan
Vila Kapal Tua mengingatkan kita untuk tidak hanya mengelola hidup di permukaan. Perintah-Nya jelas: “Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” (QS. Al-Baqarah: 208). Keseluruhan berarti berani merawat “buritan” hidup kita—masa lalu, dosa, dan sisi gelap yang selama ini kita hindari.
Hidup bukan tentang memastikan semua aman dalam kendali kita, melainkan tentang kesadaran bahwa yang tersembunyi tidak selalu kosong.
Ketenangan sejati lahir dari keimanan yang kaffah, tawakkal yang bulat, dan kesadaran bahwa “subuh” kematian akan menjemput kapan saja.
Jangan sampai kita hanya sibuk membangun haluan yang megah, namun karam karena buritan yang lapuk tak terawat.
By Paman BED























