• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

Ali Syarief by Ali Syarief
May 19, 2026
in Economy, Feature
0
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik
Share on FacebookShare on Twitter

FusilatNews – Pasar sering kali tidak mengenal slogan. Ia tidak tunduk pada pidato, tidak patuh pada tepuk tangan, dan tidak luluh oleh narasi optimisme. Pasar memiliki bahasa sendiri: angka, sentimen, dan kepercayaan. Ketika rupiah mulai mengalami tekanan, para pelaku ekonomi membaca gejala itu dengan cara yang berbeda dari politisi. Sebab sejarah Indonesia menyimpan memori kolektif yang belum sepenuhnya padam: 1998.

Melemahnya rupiah bukan sekadar soal angka di papan kurs mata uang. Bagi bangsa ini, ia adalah trauma politik sekaligus trauma sosial. Tahun 1998 mengajarkan bahwa gejolak mata uang dapat menjadi awal dari rangkaian efek domino yang menghancurkan fondasi kekuasaan yang tampak kokoh. Krisis bermula dari tekanan ekonomi, berubah menjadi krisis kepercayaan, lalu menjalar menjadi instabilitas sosial-politik yang akhirnya memaksa Presiden Soeharto mengakhiri kekuasaannya setelah lebih dari tiga dekade.

Nama Prabowo Subianto tentu tidak dapat dipisahkan dari periode tersebut. Ia bukan sekadar saksi sejarah, tetapi bagian dari pusaran besar yang mengguncang Indonesia saat itu. Maka wajar bila setiap kali bayang-bayang pelemahan rupiah muncul, memori kolektif itu ikut muncul kembali. Bukan karena kondisi hari ini identik dengan 1998, melainkan karena sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia sering datang kembali dengan wajah yang berbeda.

Di sinilah menariknya peristiwa di Istana. Berdasarkan pantauan, sejumlah pejabat ekonomi datang silih berganti sejak pukul 16.00 WIB. Hadir Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur BI Perry Warjiyo, hingga Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani. Pertemuan tertutup dilakukan untuk membahas strategi menyelamatkan rupiah dari tekanan global, termasuk ancaman kenaikan biaya impor energi akibat konflik geopolitik Timur Tengah.

Pertanyaannya sederhana: bila semuanya baik-baik saja, mengapa rapat darurat harus dilakukan dengan intensitas seperti itu?

Tentu pemerintah memiliki jawaban. Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa situasi saat ini berbeda dengan 1998. Menurutnya, kala itu terjadi kesalahan kebijakan, resesi, dan instabilitas sosial-politik, sedangkan sekarang ekonomi justru tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama.

Secara teknis, argumentasi itu dapat dipahami. Memang Indonesia hari ini tidak sama dengan Indonesia 1998. Sistem perbankan lebih kuat, cadangan devisa lebih besar, regulasi lebih matang, dan stabilitas makroekonomi relatif lebih terjaga.

Namun politik tidak hanya bergerak melalui data statistik. Politik bergerak melalui persepsi.

Karena itu publik berhak bertanya: jika keadaan sungguh setenang yang digambarkan, mengapa para petinggi ekonomi harus dipanggil bergantian ke Istana? Mengapa bahasa optimisme justru semakin menggelegar ketika pasar mulai menunjukkan kegelisahannya?

Dalam dunia politik, semakin keras narasi ketenangan diteriakkan, kadang-kadang justru semakin besar kecemasan yang sedang berusaha ditutupi. Bukan berarti kepanikan benar-benar terjadi, tetapi sering kali penguasa berusaha memastikan publik tidak ikut panik sebelum kepanikan itu menular.

Mungkin bukan Prabowo yang panik. Itu kesimpulan yang terlalu jauh. Tetapi negara tampaknya sedang menunjukkan tanda-tanda kewaspadaan yang serius. Dan kewaspadaan yang serius biasanya lahir karena ada sesuatu yang dianggap cukup mengkhawatirkan.

Sejarah 1998 mungkin memang tidak sedang terulang. Namun sejarah mempunyai cara untuk mengingatkan manusia: runtuhnya sebuah bangunan besar hampir tidak pernah dimulai oleh suara ledakan yang keras. Ia sering dimulai oleh retakan-retakan kecil yang mula-mula dianggap sepele.

Dan dalam politik, kadang yang paling menakutkan bukanlah ketika rupiah jatuh. Yang lebih menakutkan adalah ketika kepercayaan mulai ikut melemah bersamanya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

Next Post

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen
Economy

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi
Economy

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

May 19, 2026
Feature

Rebuilding the Lost Concept of Knowledge in Islam

May 19, 2026
Next Post
Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Putusan MK tentang Presidential Threshold adalah Tragedi Demokrasi
Feature

Film Itu Karya Fiksi, Prof Yusril!

by Karyudi Sutajah Putra
May 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi...

Read more
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

May 13, 2026
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

May 19, 2026
Kacau Komunikasi Dua Menteri, APBN Jadi Korban Ketidaktertiban Birokrasi

The Economist vs Menteri Purbaya: Ketika Sorotan Dunia Bertemu Pembelaan Kekuasaan

May 19, 2026

Rebuilding the Lost Concept of Knowledge in Islam

May 19, 2026
KH Nur Alam Bahtiar Soroti Perkembangan Iran dan Persatuan Umat dalam Halalbihalal IMMI DKI

KH Nur Alam Bahtiar Soroti Perkembangan Iran dan Persatuan Umat dalam Halalbihalal IMMI DKI

May 19, 2026
Melarang NoBar Pesta Babi: Larangan Berubah Menjadi Promosi Paling Produktif

Melarang NoBar Pesta Babi: Larangan Berubah Menjadi Promosi Paling Produktif

May 18, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

Paradoks Indonesia: Menjadi Negara Konsumen, Bukan Produsen

May 19, 2026
Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

Di Balik Narasi Optimisme yang Menggelegar – Rupiah Anjlok – Prabowo Mulai Panik

May 19, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist